Negara yang Paling Banyak Kirim Spam Email dan SMS: Indonesia Juara!
.jpg)
Uzone.id—Indonesiaterus menghadapi permasalahan serius terkait keamanan di ruang digital. Selainjadi salah satu negara yang paling banyak diserang, ternyata Indonesia jugamenjadi ‘sarang besar’ beberapa modus kejahatan siber.
Di tengah upaya membasmi spam call dan SMS yang terusmenghujani warga RI, Indonesia justru mencatatkan namanya sebagai negarapengirim spam dan malware terbesar sepanjang 2025.
Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru AwanPintar,platform intelijen ancaman siber nasional bertajuk Indonesia Waspada: AncamanDigital di Indonesia Semester 2 Tahun 2025.
Ini menjadi temuan paling mencolok dimana posisi Indonesiatercatat sebagai negara pengirim spam terbesar di dunia pada 2025. Proporsinyamelonjak menjadi 56,29 persen, naik signifikan dari 21,45 persen pada semesterpertama 2025.
Di urutan selanjutnya ada Amerika Serikat dengan persentase14,44 persen, disusul China dengan 4.35 persen, Brazil dengan 1,95 persen danRusia dengan angka 1,4 persen.
Untuk mengetahui lebih lengkapnya, berikut 10 negarapengirim serangan spam terbesar di dunia selama 2025:
- Indonesia: 56,29 persen
- Amerika Serikat: 14,44 persen
- China: 4,35 persen
- Brasil: 1,95 persen
- Rusia: 1,40 persen
- Jerman: 1,24 persen
- Malaysia: 1,06 persen
- Jepang: 1,01 persen
- India: 0,98 persen
- Vietnam: 0,93 persen
Selain serangan spam, Indonesia juga tercatat sebanyakpengirim serangan malware terbanyak (61,32 persen). Hal ini menunjukkan bahwabanyak infrastruktur di dalam negeri, seperti server perusahaan, PC, hinggaperangkat IoT, telah terinfeksi dan dijadikan ‘zombie’ untuk menyebarkanmalware.
Dalam laporan tersebut, Indonesia sendiri tercatat mengalami234.528.187 kali serangan sepanjang semester 2 tahun 2025, atau setararata-rata 15 serangan per detik. Angka ini melonjak drastis hingga 75,76 persendibanding semester pertama 2025.
Lonjakan paling tajam terjadi pada Desember 2025 yangmenyentuh 90.590.833 serangan dan diduga dipicu oleh meningkatnya aktivitasserangan Distributed Denial of Service (DDoS) serta tingginya transaksi ekonomidigital selama musim liburan akhir tahun.