PBB: Data Center AI Bisa Habiskan Air yang Dibutuhkan 1,3 Miliar Orang

pada dalam 5 jam - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Sebuah laporanterbaru dariUnited Nations University Institute for Water, Environment andHealth (UNU-INWEH)mengungkap temuan baru terkait data center AI yang saatini terus dibangun.

Dalam temuan tersebut, peneliti PBB memperingatkan bahwakonsumsi air yang dibutuhkan untuk mendukung operasional AI bisa setara dengankebutuhan dasar 1,3 miliar orang pada tahun 2030 nanti.

Jejak air (water footprint) dari pusat data AI jugadiproyeksikan setara dengan kebutuhan air domestik dasar seluruh pendudukAfrika Sub Sahara selama satu tahun.

Laporan tersebut menyoroti bahwa dampak lingkungan AI selamaini lebih sering diukur dari sisi emisi karbon. Tapi ternyata, operasional datacenter yang menjadi tulang punggung teknologi AI juga membutuhkan air dalamjumlah besar.




Kebutuhan ini digunakan untuk proses pendinginan serta lahanyang luas untuk pembangunan infrastruktur pendukungnya. Gak cuma menghabiskanair dalam jumlah besar, konsumsi listrik data center AI secara globaldiperkirakan mencapai 945 terawatt-jam (TWh) pada 2030. 

Angka tersebut hampir 2 kali lipat dari penggunaan listrikJepang dan tiga kali lipat dari total konsumsi listrik tahunan Pakistan,Bangladesh, dan Nigeria yang secara gabungan dihuni lebih dari 650 jutapenduduk.

Sementara itu, jejak lahannya diperkirakan melampaui 5.590mil persegi atau sekitar dua kali luas wilayah metropolitan Jakarta.

Sepanjang 2025 kemarin, data center di seluruh duniadiperkirakan telah mengkonsumsi sekitar 448 TWh listrik, melampaui konsumsienergi tahunan Arab Saudi. Sementara di Irlandia, pusat data menyumbang sekitar21 persen konsumsi listrik nasional pada 2023, bahkan melebihi penggunaanlistrik rumah tangga di kawasan perkotaan.




Dampak penggunaan energi yang besar ini mulai dirasakan disejumlah wilayah, termasuk mendorong operator jaringan listrik nasional menundapersetujuan pembangunan pusat data baru di sekitar Dublin hingga 2028.

Kekhawatiran serupa muncul terkait penggunaan air. Datacenter berukuran besar dapat menggunakan hingga lima juta galon air per hariuntuk menjaga suhu server tetap stabil. Di wilayah yang sudah menghadapi krisisair, kebutuhan tersebut berpotensi memperburuk tekanan terhadap sumber dayayang tersedia.

Salah satu contohnya adalah Querétaro di Meksiko yangmenghadapi kekhawatiran atas pembangunan pusat data baru di tengah kondisikekeringan berkepanjangan. Situasi serupa juga terjadi di Uruguay ketikarencana pembangunan pusat data yang membutuhkan banyak air menuai kritik saatnegara itu mengalami krisis pasokan air bersih pada 2023.

Selain persoalan lingkungan, laporan ini juga menyorotipotensi meningkatnya kesenjangan digital global. Hingga 2025, hanya 32 negarayang memiliki pusat data khusus AI, dengan sekitar 90 persen kapasitasterkonsentrasi di Amerika Serikat dan China.