Review 007 First Light, Bond Muda yang Memukau

Uzone.id -Selama hampir tiga dekade, setiap game James Bond selalu hidup di bawah bayang-bayang GoldenEye 007 di Nintendo 64. Banyak yang mencoba menghidupkan kembali kejayaan agen rahasia MI6 itu, tetapi hasilnya selalu terasa setengah matang.
Ada yang terlalu fokus pada aksi tembak-menembak, ada pula yang kehilangan identitas James Bond sebagai mata-mata yang mengandalkan kecerdasan, penyamaran, dan karisma.
IO Interactive tampaknya memahami persoalan itu.
Studio yang dikenal lewat seri Hitman tidak mencoba membuat GoldenEye versi modern. Sebaliknya, mereka memilih menceritakan asal-usul Bond jauh sebelum mendapat status agen 007. Hasilnya adalah 007 First Light, sebuah game action-adventure yang terasa seperti perpaduan film Bond era modern dengan kebebasan bermain ala Hitman.
Setelah menamatkan kampanye utamanya yang berlangsung sekitar 16 jam, saya merasa First Light bukan sekadar game berlisensi film yang numpang memakai nama besar James Bond.
Ia berdiri sebagai game aksi-mata-mata yang solid, dengan cerita yang menarik, misi yang bervariasi, dan presentasi sinematik yang hampir tidak pernah kehilangan momentum.
Alur Cerita yang Berhasil Membuat Bond Terasa Manusia
Salah satu keputusan terbaik IO Interactive adalah tidak menggunakan James Bond yang sudah kita kenal.
Di First Light, Bond masih berusia 26 tahun. Ia belum menyandang kode 007, masih emosional, kadang impulsif, bahkan beberapa kali membuat keputusan yang salah. Semua itu justru membuat karakternya jauh lebih menarik dibanding sosok Bond yang biasanya tampil nyaris sempurna.
Ceritanya dimulai ketika sebuah misi latihan berubah menjadi operasi penyelamatan yang membawanya direkrut MI6. Dari sana, Bond terlibat dalam konspirasi internasional yang membawanya berpindah-pindah lokasi, mulai dari Islandia, Inggris, Afrika hingga berbagai negara lain dengan tempo yang mengingatkan pada film-film Bond klasik.
Yang menarik, game ini tidak buru-buru menjadikan Bond sebagai pahlawan.
Di beberapa jam pertama justru lebih banyak percakapan, penyelidikan, dan pembangunan karakter.
Awalnya memang terasa lambat. Namun semakin jauh dimainkan, ritme tersebut justru menjadi fondasi yang membuat perkembangan Bond terasa alami.
Patrick Gibson yang mengisi suara sekaligus wajah Bond juga tampil meyakinkan. Ia berhasil menghadirkan karakter yang masih belajar menjadi agen rahasia tanpa kehilangan pesona khas James Bond.
Dialog-dialognya dipenuhi humor sarkastik, rayuan khas Bond, sekaligus rasa percaya diri yang perlahan tumbuh seiring perjalanan cerita. Banyak reviewer bahkan menilai penampilan Gibson menjadi salah satu kekuatan terbesar game ini.
Meski begitu, cerita First Light bukan tanpa kekurangan.
Beberapa twist memang mudah ditebak dan ada bagian yang terasa terlalu panjang. Namun secara keseluruhan, kualitas penulisannya berhasil membuat saya tetap penasaran hingga kredit penutup bergulir.
Gameplay yang Memadukan Hitman, Uncharted, dan Film Bond
Kalau kalian berharap gameplay-nya sama persis seperti Hitman, mungkin akan sedikit kecewa.
DNA Hitman memang masih terasa kuat, terutama ketika Bond harus menyusup ke pesta mewah, menyamar, mencuri informasi, atau mencari jalur alternatif menuju target. Namun semuanya dibuat lebih sederhana agar ritmenya tetap cepat.
Kami justru menikmati pendekatan ini.
Dalam satu misi misalnya, Bond harus menghadiri pesta elite untuk mengumpulkan informasi. Kalian bisa memilih berbicara dengan tamu, mengalihkan perhatian penjaga, menyelinap lewat dapur, atau masuk melalui balkon. Kebebasan itu memang tidak sedalam Hitman, tetapi cukup memberi ruang bereksperimen tanpa membuat pemain baru kewalahan.
Begitu penyamaran gagal, tempo permainan berubah drastis.
Game langsung beralih menjadi aksi penuh ledakan, kejar-kejaran mobil, baku tembak, hingga pertarungan tangan kosong yang koreografinya terasa seperti film Bond modern. Perpindahan dari stealth ke aksi inilah yang menurut saya menjadi kekuatan terbesar First Light.
Tidak ada misi yang terasa sama. Setelah menyelesaikan infiltrasi yang tenang, beberapa menit kemudian kalian sudah melompat dari pesawat, mengejar musuh menggunakan Aston Martin, lalu berakhir dalam baku tembak besar.
Sayangnya, bagian aksi masih belum sesempurna stealth.
AI musuh kadang kurang konsisten. Ada situasi ketika penjaga di ruangan sebelah seolah tidak menyadari baku tembak yang sedang berlangsung. Beberapa gamer juga menyoroti sistem mengemudi yang terasa kurang presisi dibanding kualitas bagian lain dalam game.
Namun kekurangan itu tidak terlalu mengganggu karena variasi misi yang ditawarkan sangat tinggi.
Hampir setiap chapter selalu memperkenalkan mekanik baru sehingga permainan tidak pernah terasa repetitif.
Visual Sinematik di PS5
Hal pertama yang mencuri perhatian tentu presentasi visualnya.
IO Interactive menggunakan Glacier Engine versi terbaru yang mampu menghadirkan pencahayaan realistis, karakter yang ekspresif, dan lokasi-lokasi yang terlihat seperti diambil langsung dari film Bond.
Mulai dari pegunungan es di Islandia, pesta mewah di London, hingga gurun Afrika, semuanya memiliki identitas visual yang berbeda.
Yang paling saya suka justru bagaimana kamera bekerja.
Saat aksi berlangsung, transisi dari gameplay ke cutscene hampir tidak terasa. Kamera sering bergerak tanpa putus mengikuti Bond, membuat beberapa adegan terlihat seperti one-shot sequence di film aksi.
Di PS5, performanya juga stabil. Loading berlangsung cepat, perpindahan area nyaris instan, dan frame rate tetap nyaman bahkan saat ledakan besar memenuhi layar.
DualSense juga dimanfaatkan dengan cukup baik. Adaptive Trigger memberikan resistansi berbeda ketika Bond menggunakan berbagai jenis senjata. Haptic Feedback menghadirkan getaran halus saat mobil melintasi permukaan berbeda atau ketika terjadi ledakan di sekitar karakter.
Memang tidak semaksimal Ghost of Yotei atau Astro Bot, tetapi cukup membantu membangun imersi selama bermain.
Soundtrack garapan The Flight juga layak mendapat pujian. Musik orkestral yang dipadukan sentuhan elektronik berhasil mempertahankan nuansa James Bond klasik sambil memberi identitas baru untuk Bond versi muda ini.
Kesimpulan
007 First Light berhasil melakukan sesuatu yang sudah lama ditunggu penggemar James Bond.
Alih-alih hanya menjual nama besar franchise, IO Interactive berhasil menciptakan game mata-mata yang benar-benar memahami identitas Bond. Ceritanya menarik, karakter utamanya berkembang dengan baik, misi-misinya variatif, dan presentasi sinematiknya menjadi salah satu yang terbaik tahun ini.
Masih ada beberapa kekurangan, terutama pada AI musuh dan beberapa segmen aksi yang terasa kurang rapi. Namun secara keseluruhan, First Light berhasil menjadi standar baru untuk game James Bond.
Kalau Ghost of Tsushima adalah fantasi menjadi samurai, maka 007 First Light adalah fantasi menjadi James Bond, bukan hanya karena gadget, Aston Martin, atau setelan jasnya, tetapi karena game ini berhasil membuat pemain berpikir, menyusup, berimprovisasi, lalu keluar dari situasi berbahaya dengan gaya khas agen MI6.
Bagi penggemar Bond, ini adalah game yang sudah lama dinantikan. Bagi yang belum pernah mengikuti film-filmnya, First Light juga menjadi titik awal yang sangat baik untuk mengenal siapa sebenarnya James Bond.