Review Samsung Galaxy S24+: Rasanya Kok Lebih Worth-it Ya...

13 February 2024 - by

Uzone.id - Kalau sebelumnya, seri Plus pada Galaxy S Series cuma modal layar dan baterai yang lebih besar dari varian reguler, kini Samsung membuatnya jauh lebih baik lagi. Samsung Galaxy S24+ menawarkan banyak upgrade signifikan.

Samsung Galaxy S24+ merupakan varian menengah dengan harga mulai dari Rp16.999.000 untuk versi 12/256 GB dan Rp18.999.000 untuk varian 12/512 GB. 

Advertising
Advertising

Tim Uzone.id telah menggunakan smartphone ini selama seminggu sebagai daily driver, dan berikut review lengkap kami tentang Samsung Galaxy S24+.

Baca Juga :

Trio Samsung Galaxy S24 Series Resmi Meluncur di Indonesia

Beda 0,1 inci dari Galaxy S24 Ultra

Layar jadi upgrade signifikan yang diberikan Samsung pada Galaxy S24+. Kini, layarnya berukuran 6,7 inci atau beda 0,1 inci dari Samsung Galaxy S24 Ultra.

Bukan hanya itu, resolusinya pun gak lagi Full HD+ doang seperti seri sebelumnya. Resolusi layar Samsung Galaxy S24+ sudah setara dengan Galaxy S24 Ultra, tepatnya QHD+ dengan refresh rate adaptif dari 1Hz hingga 120Hz.

Bedanya, layar smartphone ini hanya dilindungi Gorilla Glass Victus 2, bukan Gorilla Glass Armos yang jauh lebih tangguh. Tapi pengalaman visual yang diberikan sama-sama maksimal.

Nonton YouTube beresolusi tinggi dengan mode HDR aktif? Bisa, lantaran ponsel ini mendukung HDR10+. Panel Dynamic AMOLED 2X pada smartphone ini juga terang dengan intensitas mencapai 2.600 nits pada peak mode, alias sama dengan varian Ultra.

Pakai ponsel ini di outdoor gak akan ada keluhan yang berarti. Konten tetap terlihat jelas, terang, dan berkualitas tinggi. 

Berasa pakai iPhone 15 Plus

Kalau brand lain kayaknya sudah lumrah ‘meniru’ desain iPhone generasi terbaru, tapi kalau Samsung, rasanya kok lebih ironis ya? Sebuah brand yang biasanya menyindir iPhone lewat tayangan-tayangan di YouTube resmi, tapi tetap mengusung desain yang serupa pada produk terbarunya.

Menggenggam Samsung Galaxy S24+ itu rasanya seperti menggunakan iPhone 15 Plus. Mirip dalam hal bentuk bodinya yang sama-sama datar alias flat. Dari tebalnya saja cuma beda 0,1 mm, tinggi kedua ponsel juga beda tipis (158,5 mm berbanding 160,9 mm). 

Belum lagi ukuran layarnya yang sama-sama 6,7 inci. Pun demikian dengan desainnya, dimana Galaxy S Series sekarang mirip seperti iPhone yang tampak sama seperti seri sebelumnya - cuma beda spesifikasinya saja.

Meski begitu, kami harus apresiasi selera tinggi Samsung dalam hal pilihan warna. Smartphone ini punya banyak opsi warna, dari Onyx Black, Marble Grey, Cobalt Ciolet, Amber Yellow, Sapphire Blue, Jade Green, sampai Sandstone Orange.

Baca Juga :

Trio Samsung Galaxy S24 Punya Warna Eksklusif, Cuma Bisa Dibeli Online

Semua warnanya gak ada efek gradasi, tapi tetap terlihat berbeda dari lainnya. Teksturnya pun dibikin halus dengan lapisan matte untuk meminimalisir jejak sidik jari yang menempel.

Untuk built quality, smartphone ini dibuat menggunakan material aluminium dan sudah mengantongi rating IP68 tahan air dan debu.

Galaxy AI

Upgrade lainnya dari smartphone ini tentu saja Galaxy AI. Fitur berbasis kecerdasan buatan ini merupakan bagian dari One UI 6.1, dan baru trio Galaxy S24 Series saja yang memiliki fitur pintar ini.

Galaxy AI menghimpun banyak fitur berbasis kecerdasan buatan. Ada beberapa yang menarik perhatian, satu di antaranya adalah Circle to Search, bentuk kerja sama eksklusif Samsung dengan sang empunya Android, Google.

Fitur ini jadi cara baru untuk mencari berbagai macam informasi lewat potongan gambar lewat perangkat genggam. Untuk menggunakannya, cukup tekan dan tahan tombol Home, otomatis Circle to Search bakalan muncul di atas aplikasi atau konten apapun yang sedang kalian lihat.

Cukup lingkari, sorot, atau mengetuk objek (bisa gambar dan teks) yang ingin dicari, kemudian informasi yang kalian cari akan muncul di layar. Bahkan dalam beberapa kasus, Circle to Search juga akan memberikan informasi harga jika kalian mencari sesuatu barang menarik.

Kemudian ada Generative Wallpapers. Sesuai namanya, kalian bisa request langsung ke sistem untuk dibuatkan wallpaper yang sesuai keinginan.

Baca Juga :

Circle to Search, Kepoin Apapun di Internet Tinggal Lingkari Objeknya

Fitur ini terdapat pada pengaturan Wallpaper, kemudian scroll pada bagian Creative. Ada berbagai opsi Generative Wallpapers, seperti Imaginary, Night, Painting, Terrain, Mineral, Luminous, Soft-focus, Translucent, dan Bloom.

Nah, setiap tema memiliki frasa kunci yang dapat diubah. Kata kunci ini sudah ditentukan sebelumnya, kalian tinggal pilih frasa sesuai keinginan saja. Sejauh ini, pengguna belum dapat membuat kata kunci yang baru.

Paling hebat menurut kami adalah Live Translate, Interpreter, hingga Chat Assist. Ketiga fitur ini berkaitan dengan translasi bahasa, dimana pengguna bisa mendapatkan terjemahan teks, visual, dan suara secara real-time pada berbagai kondisi, seperti telepon, chatting, hingga berbicara langsung dengan orang lain yang berbeda bahasa.

Satu lagi, transkripsi dan Auto Summary pada Samsung Notes dan Voice Recorder. Kedua fitur ini membantu banget untuk menunjang produktivitas, lantaran AI secara otomatis mentranskripsi audio rekaman, kemudian melakukan rangkuman secara rinci, dan itu dilakukan hanya beberapa saat saja.

Bagaimana performa Exynos 2400?

Kalau varian Ultra pakai Snapdragon 8 Gen 3 for Galaxy, versi reguler dan Plus ditenagai Exynos 2400. Chipset ini merupakan suksesor dari Exynos 2200 yang bisa kalian temukan pada Samsung Galaxy S22 Series.

Exynos 2400 merupakan chip baru keluaran Samsung yang dibuat pada node manufaktur 4LPP+ (EUV) 4nm. Prosesor ini terbagi dalam beberapa kluster CPU, ada 1x prime-core Cortex X4 dengan clock-speed 3,2 GHz, kemudian 2x performance-core Cortex A720 dengan kecepatan 2,9 GHz, 3x performance-core Cortex A720 berkecepatan 2,6 GHz, dan 4x efficiency-core Cortex A720 pada kecepatan 1,95 GHz. 

Exynos 2400 disematkan GPU Xclipse 940 berbasis AMD RDNA 3, menawarkan kinerja grafis mumpuni, dan akan berasa ketika kalian bermain game dengan kualitas grafis AAA.

Baca Juga :

Bedah Snapdragon 8 Gen 3 for Galaxy di Samsung Galaxy S24 Ultra

Chipset ini disandingkan dengan RAM LPDDR5X sebesar 12 GB atau lebih besar dari sebelumnya yang hanya 8 GB, kemudian memori UFS 4.0 dengan kapasitas 256 GB atau 512 GB.

Berikut ini perolehan benchmark Samsung Galaxy S24+ yang kami dapatkan dari AnTuTu v10, PCMark, dan 3DMark:

- AnTuTu Benchmark v10: 1.655.008 poin

- PCMark Work 3.0: 17.428 poin

- 3DMark Wild Life Stress test: 14.633 poin (best loop) dan 7.765 poin (lowest loop).

Dari pengujian yang kami lakukan, skor Samsung Galaxy S24+ di AnTuTu v10 masih berada di bawah Samsung Galaxy S24 Ultra dengan Snapdragon 8 Gen 3 for Galaxy. Power Exynos 2400 bukan tandingan pula jika di-compare dengan Snapdragon 8 Gen 2 apalagi Exynos 2200.

Diuji pada PCMark, terlihat jelas kalau Exynos 2400 memiliki kinerja yang kurang stabil. Tampak grafis clock-speed CPU yang naik turun dan cenderung tak memberikan tenaga yang maksimal pada seluruh simulasi yang dijalani.

Anomali ini juga terjadi saat menguji kemampuan grafisnya di 3DMark Wild Life Stress Test. Raihan frame rate-nya memang tinggi mencapai 110 FPS, namun stabilitasnya hanya 53,1 persen saja.

Kenaikan suhunya pun sangat signifikan, bahkan menembus 46 derajat Celcius. Bicara soal suhu, Samsung Galaxy S24+ memiliki sistem pendingin berupa vapor chamber dengan luas 1,9 kali lebih besar dari Galaxy S23+.

Dari pengujian yang kami lakukan dengan melakukan beberapa stress test, walau sistem termal smartphone ini diperluas, nyatanya tak mampu mengatasi beban kerja tinggi dan mencegah ponsel dari overheat.

Dari AnTuTu Stress Test misalnya, pengujian yang harusnya dilalui selama 45 menit, selesai lebih cepat lantaran ponsel mengalami overheat. Suhunya tembus di atas 45 derajat Celcius, sangat tak nyaman menggenggam ponsel ini di titik suhu tersebut.

Bukan sekali dua kali, notifikasi overheat selalu terjadi pada pengujian yang sama. Begitu juga pada 3DMark, beberapa kali smartphone ini mengalami stuttering atau penurunan kinerja yang signifikan. Kami pun beranggapan, diperluasnya vapor chamber ponsel ini bukan untuk mengejar kinerja yang stabil, tapi untuk ‘mengimbangi’ form factor ponsel yang lebih besar dari sebelumnya.

Beralih pada baterai, Samsung Galaxy S24+ ditopang oleh baterai berkapasitas 4.900 mAh yang sudah didukung fast charging 45W, wireless charging 15W, dan reverse wireless charging 4,5W. 

Baterai ini jelas lebih besar dari sebelumnya, dan hanya beda 100 mAh saja dengan Samsung Galaxy S24 Ultra. Soal daya tahannya, lumayan impresif, dimana smartphone ini dapat bertahan pemakaian normalnya kami selama 10 jam lebih.

Walau ponsel ini datang dengan teknologi fast charging 45W, tapi kalian hanya dapat kabel USB-C saja dalam paket pembelian. Kalau kalian pre-order, bisa tuh dapat adaptor 25W, yang memberikan durasi pengecasan lebih dari satu jam. 

Hardware kamera sama, hasilnya berbeda

Samsung Galaxy S24+ masih mengusung konfigurasi kamera yang serupa dengan sebelumnya. Kamera utamanya 50 MP dengan sensor ISOCELL GN3 yang didukung optical image stabilization (OIS).

Kemudian kamera telephoto 10 MP dengan OIS, kamera ultrawide 12 MP berjenis lensa fixed focus, serta kamera depan 12 MP.

Secara hardware memang bikin kecewa. “Masa sih seri baru, kameranya masih saja dibikin sama?” 

Peningkatannya, Samsung memberikan software pencitraan serta ISP pada Exynos 2400 yang berpengaruh besar pada kualitas gambar yang dihasilkan kamera Samsung Galaxy S24+.

Kualitas kameranya sama sekali tidak mengecewakan. Warnanya bagus dan tidak terlihat pucat maupun membosankan, rentang dinamisnya lebar, detail yang menakjubkan, gak ada cela intinya.

Kamera telephoto-nya terbukti memberikan detail yang bagus, warnanya pun tampak alami. Walau bermodal kamera 10 MP saja, tak terlihat noise pada gambarnya. 

Baca Juga :

Review Poco X6 Pro: Performa Kencang, Kameranya Medioker

Hasil yang impresif kami dapatkan pula ketika mengabadikan momen dengan kamera ultrawide. Memang sih, kamera ultrawide Samsung Galaxy S Series itu gak ada obatnya, warnanya tajam, rentang dinamis sama bagusnya dengan kamera utama, detailnya juga minim noise.

Sementara untuk kamera selfie, warna kulit tampak natural, detail yang lagi-lagi bikin takjub, serta noise yang relatif rendah saat foto diperbesar beberapa kali.

Bicara video, Samsung Galaxy S24+ mampu merekam video 4K pada 60 FPS pada semua kameranya, dimana khusus kamera utama dapat merekam hingga 8K pada 30 FPS.

Hasil kamera Samsung Galaxy S24:

Kesimpulan

Samsung Galaxy S24+ menawarkan lebih banyak hal, tapi buat kami belum worth it untuk membeli ponsel ini dengan banderol harga lebih mahal Rp1 juta dari sebelumnya.

Smartphone ini memang punya layar yang besar dengan kualitas yang setara dengan Samsung Galaxy S24 Ultra. Minusnya, hanya tak ada S Pen dan tak dilapisi Gorilla Glass Armos.

Layar yang luas, berdampak pula pada kapasitas baterainya yang membesar. Baterai 4.900 mAh yang bisa tahan lebih dari 10 jam sudah cukup untuk menunjang berbagai aktivitas pengguna sehari-hari.

Paling kurangnya, fast charging 45W yang masih tertinggal dari ponsel Android flagship lainnya, juga tak adanya adaptor charger dalam paket penjualan. 

Kehadiran Exynos 2400 serta Galaxy AI-nya juga jadi nilai tambah. Performa tinggi yang disandingkan dengan user experience (UX) mengesankan berkat fitur AI, memang jadi kelebihan utama yang disodorkan oleh Samsung Galaxy S24+.

Namun ada beberapa kekurangan dari Samsung Galaxy S24+ yang rasanya sulit kami terima untuk harganya yang lebih mahal. 

Pertama, kinerjanya tinggi, namun cenderung kurang stabil. Kemudian, sistem pendingin yang kurang maksimal, membuat ponsel rentan terkena overheat saat menjalankan tugas-tugas yang berat.

Baca Juga :

Berharap Xiaomi 14 Ultra Masuk Indonesia, Spek Kameranya Sadis!

Lalu, konfigurasi kamera yang identik seperti sebelumnya. Come on Samsung, konsumen sudah bayar lebih mahal Rp1 juta, masa masih dapat komponen kamera yang sama?

Memang hasilnya lebih baik, tapi harusnya Samsung berbaik hati memberikan peningkatan minimal pada kamera telephoto atau memberikan autofocus pada kamera ultrawide, biar pengguna bisa memotret foto makro, misalnya.

Masih banyak yang harus kalian pertimbangkan sebelum membeli smartphone ini. Kalau bujet kalian memang besar, gak ada salahnya untuk menambah Rp3 juta dan mendapatkan Samsung Galaxy S24 Ultra yang jauh lebih sempurna.

Kalaupun dananya pas-pasan, kalian mungkin bisa mempertimbangkan Samsung Galaxy S23 Ultra? Terlebih, smartphone tersebut juga akan mendapatkan update ke One UI 6.1 yang disisipkan Galaxy AI di dalamnya pada masa mendatang.