Digilife

Apa itu NFT (Non Fungible Token) dan Kenapa Bisa Mahal?

  • 21 September 2021
  • Bagikan :

    Ilustrasi (Foto: Unsplash)

    Uzone.id - Pernah mendengar istilah Non Fungible Token (NFT)?  Ga perlu pusing mendengar istilah-istilah yang ada di blockchain, berikut penjelasannya  yang paling sederhana.

    Berani taruhan, siapa di antara  kita yang masih bingung kenapa sebuah file JPG biasa  bisa dijual miliaran rupiah di internet. Seperti pada kasus gambar batu yang terjual seharga USD1,3 Juta atau setara Rp 20,4 miliar pada beberapa minggu lalu.

    NFT EtherRock (Foto: HypeBeast)


    Jika bingung, Anda tidak sendirian. Banyak diantara kita yang berpikiran sama dan itu normal saja. Karena dari banyaknya artikel yang tersebar di internet dengan buzzword NFT, Blockchain, tidak banyak yang menjelaskan apa itu NFT secara sederhana.

    Saya akan coba jelaskan dengan format yang paling sederhana pada artikel ini.

    Baca juga: NFT, Simbol Baru Sultan Crypto

    Memahami NFT (kadang disebut juga Crypto Art) sebenarnya cukup mudah. Inget era tahun 90-an di mana kartu basket NBA muncul dan dicetak untuk diperjualbelikan? NFT kurang lebih sama. Bedanya kartunya tidak dicetak tapi diproduksi dalam format digital.

    Dengan kata lain NFT kita umpamakan sebagai kartu basket versi digital. Dan saat membicarakan kartu basket kita harus tahu bahwa kartunya Michael Jordan tahun 1988 yang hanya diproduksi 7 buah itu harganya bisa sangat mahal.

    Dengan memiliki kartu tersebut bukan berarti Anda memiliki hak kekayaan intelektual terhadap kartunya.

    Anda cuma memiliki hak satu dari tujuh kartu yang diproduksi tersebut. Sebagai pemilik kartu tentu kita bebas menjual kembali kartu tersebut dengan harga yang tentunya lebih mahal dari harga sewaktu membelinya.

    NFT itu ibarat kartu tersebut. Bedanya bentuknya adalah digital dan tersimpan di blockchain.

    Mengapa NFT Bisa Sangat Laku?

    Saya sedikit berkisah waktu SMP dan senang-senangnya mengoleksi kartu basket dari Panini. Rasanya zaman itu sungguh menyenangkan ketika bisa menyimpan puluhan kartu NBA dengan jagoan-jagoan kita masing-masing.

    Sebagai sesama kolektor kartu NBA saya dan teman-teman merasa sok keren. Saya punya kartu Jeff Hornacek dan Larry Bird yang langka, sementara teman saya tidak. Itu yang bikin saya merasa keren sendiri kalau punya kartu langka.

    Hal ini kadang agak sulit diterima teman-teman saya yang tidak suka NBA. Mereka pikir itu cuma kartu biasa. Lantas dimana kerennya? Dan kenyataannya memang demikian.

    Baca juga: Cardano dan Masalah Perbankan di Afrika

    Hal yang membuat kartu-kartu NBA ini keren adalah komunitas pertemanan kita sesama NBA mania. Saya waktu itu cukup sering membujuk teman saya yang baru kenal kartu NBA Panini untuk juga bergabung menjadi kolektor. Lantas teman saya yang baru jadi kolektor menceritakan ke temannya lagi.

    Demikianlah market kartu NBA di kalangan siswa SMP penggemar basket muncul. Di situlah bisnis dari Panini sebagai produsen kartu NBA.

    Sama seperti market collectible item lain, asilnya ini semua adalah articial. Rasa keren itu muncul karena ada beberapa orang yang sebenarnya terlibat trading card NBA yang berpikir bahwa menjadi seorang kolektor kartu itu keren.

    Artinya ada kultur yang muncul di sini. Tanpa kultur bisnis tidak bisa berjalan.

    Itu tadi cerita saya soal kartu NBA Panini. Untuk memahami NFT, kita tinggal ganti cerita kartu saya tadi jadi NFT.

    Simpelkan?

    *) Fajar Widi - Marketing Technologist. Berpengalaman 10 tahun di berbagai industri. Blockchain & Crypto Enthusiast

    Tags : NFT kolom fajar widi