Home
/
Automotive

Banyak yang Hijrah ke Pertalite, Harganya Bakalan Naik?

Data Pertamina menunjukkan pengguna Pertalite meningkat setelah harga BBM nonsubsidi semakin mahal, kira-kira akan seperti apa dampaknya?

Banyak yang Hijrah ke Pertalite, Harganya Bakalan Naik?

Bagikan :

Uzone.id - Belakangan ini semakin banyak pengguna kendaraan yang hijrah ke Pertalite, karena tingginya harga BBM nonsubsidi. Akibatnya, konsumsi Pertalite melonjak drastis bahkan melampaui proyeksi kuota yang sudah ditetapkan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai stok Pertalite secara nasional, terlebih lagi mengenai harganya. Apakah akan meningkat?

Berdasarkan datanya, Pertamina Patra Niaga sebenarnya sudah mematok kuota Pertalite sebesar 28,69 juta kiloliter untuk sepanjang tahun 2026.



Namun, realisasi di lapangan, konsumsinya sudah menyentuh angka 16,54 juta kiloliter hingga akhir Juli kemarin. Kalau melihat tren hitung-hitungan kasarnya, besar kemungkinan konsumsi Pertalite tahun ini akan melebihi target di akhir tahun nanti.

Menjawab kekhawatiran itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan jaminan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun ini.

Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi global yang dinamis.





"Tapi apapun yang terjadi saya menyampaikan bahwa harga minyak atau harga BBM subsidi, khususnya subsidi itu tidak akan kita naikkan sampai dengan 2026 Desember, sambil kita melihat perkembangan global," ujar Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (31/8) dikutip oleh Uzone.id.

Meski harga dipastikan aman, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah saat ini terus menghitung seberapa besar potensi kelebihan kuota Pertalite tahun ini.

Beliau juga membenarkan bahwa lonjakan konsumsi ini dipicu oleh pergeseran konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax (RON 92) beralih ke Pertalite (RON 90).



"Kita lagi tetap menghitung potensi kelebihannya berapa. Memang kan waktu ketika terjadi kenaikan harga BBM dunia, itu ada sebagian yang RON 92 atau teman rakyat yang lain masuk untuk mengisi ke RON 90 sehingga terjadi kenaikan, tapi kenaikannya kita lagi menghitung," ungkapnya.

Berbeda dengan Pertalite, untuk BBM nonsubsidi, pemerintah tetap akan mengikuti mekanisme pasar. Artinya, harga BBM nonsubsidi akan terus disesuaikan secara berkala mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.

"Tetapi kalau untuk harga BBM non-subsidi, kita akan serahkan kepada harga pasar. Apa yang terjadi dengan dinamika yang ada itu yang akan kita lakukan penyesuaian," kata Bahlil menutup penjelasannya.

Brian Priambudi

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article