Home
/
Digilife

Berkaca dari Apple, Zoom: Berikutnya Era Ngobrol dengan AI

Zoom memprediksi percakapan akan menjadi antarmuka utama AI, sebab kecerdasan percakapan memahami konteks dialog real-time untuk mengubahnya jadi tindakan.

Berkaca dari Apple, Zoom: Berikutnya Era Ngobrol dengan AI

Ilustrasi aplikasi Zoom (Foto: AI generated-content)

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Zoom memprediksi percakapan akan menjadi antarmuka berikutnya untuk berinteraksi dengan AI, mirip dengan revolusi layar sentuh sebelumnya.
  • Fokus utama Zoom adalah teknologi *conversational intelligence* yang memungkinkan AI memahami konteks secara *real-time* dari sebuah percakapan.
  • AI Zoom dirancang tidak hanya membuat rangkuman, tetapi juga dapat mengubah percakapan menjadi tindakan atau pekerjaan nyata, yang disebut sebagai *system of action*.
  • Kemampuan *conversational intelligence* AI Zoom mencakup pemahaman terhadap percakapan multibahasa dalam satu rapat dan sedang dikembangkan untuk sekitar 45 bahasa.

Uzone.id - Pakai smartphone atau tablet, bahkan beberapa laptop pun, mengoperasikannya sudah pakai layar sentuh. Nah, ke depannya, Zoom memprediksi kalau percakapan bakal menjadi antarmuka berikutnya untuk berinteraksi dengan AI. 

Prediksi tersebut disampaikan Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific at Zoom, dalam sesi wawancara bersama media, termasuk tim Uzone.id, pada Kamis (8/10).

Ia menyebut teknologi conversational intelligence menjadi salah satu fokus utama Zoom. Ke depannya, pengguna mungkin tidak perlu terus mengetik, menyentuh layar, atau membuka aplikasi tertentu untuk meminta AI menyelesaikan sebuah pekerjaan. 

“Kami percaya bahwa di masa depan, antarmuka utama untuk menghasilkan sesuatu menggunakan AI adalah melalui percakapan,” kata Carlos.



Menurutnya, perubahan ini mirip ketika Apple merevolusi penggunaan layar sentuh sekitar 10 sampai 15 tahun lalu. Teknologi tersebut kemudian menjadi hal yang umum dan kini menjadi cara utama pengguna berinteraksi dengan aplikasi, baik yang terkait kebutuhan pribadi maupun pekerjaan.

“Kami percaya hal yang sama akan terjadi. Antarmuka berikutnya adalah percakapan, dan di situlah kami ingin memimpin,” lanjutnya.

Namun, conversational intelligence yang dimaksud Zoom bukan sekadar memberikan perintah suara kepada AI. Lewat percakapan, AI bisa mendapatkan konteks terbaru secara langsung, termasuk memahami siapa yang berbicara, bahasa yang digunakan, sampai pekerjaan apa yang perlu dilakukan setelah pembicaraan selesai.

Carlos mengatakan, AI membutuhkan konteks agar dapat memberikan hasil yang sesuai. Sementara kebanyakan layanan AI saat ini masih mengandalkan data yang sudah tersedia untuk memprediksi jawaban dari perintah pengguna.

“Percakapan memberikan konteks secara real-time. Inilah yang kami sebut sebagai contextual awareness,” jelasnya.

Dari percakapan, AI bisa selesaikan pekerjaan

Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific at Zoom

Jadi, kata Carlos, AI tidak cuma menghasilkan transkrip meeting dan membuat rangkumannya saja, tapi diharapkan dapat memahami topik yang dibahas, keputusan yang dibuat, serta pekerjaan yang perlu dilanjutkan setelah rapat berakhir. 

“Jika AI mendengarkan dan memahami konteks percakapan, di situlah AI menjadi sangat kuat untuk benar-benar melakukan pekerjaan, bukan sekadar menghasilkan sesuatu berdasarkan probabilitas,” ujar Carlos.

Interaksi melalui percakapan ini juga tidak dibatasi pada rapat virtual. Menurut Carlos, pengguna dapat berbicara dengan AI melalui Zoom Rooms, panggilan telepon, maupun perangkat lainnya.

Kemampuan conversational intelligence juga mencakup pemahaman terhadap beberapa bahasa yang digunakan dalam satu rapat, misalnya dalam satu meeting yang diikuti peserta berbahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris. 

AI Zoom, klaim Carlos, dapat mengenali siapa yang berbicara, bahasa yang digunakan, serta konteks dari setiap pembicaraan. Seluruh informasi tersebut kemudian dapat diolah untuk menghasilkan pekerjaan yang dibutuhkan pengguna.

“Saat ini, Anda bisa berbicara kepada saya dalam Bahasa Indonesia, peserta lain menggunakan Mandarin, sementara saya berbahasa Inggris. AI Zoom dapat mengenali semuanya, mengetahui siapa mengatakan apa dalam bahasa apa, memahami konteksnya, lalu menghasilkan sesuatu dari percakapan tersebut,” terang Carlos.

Zoom juga tengah mengembangkan dukungan transkripsi dan kemampuan terkait lainnya untuk sekitar 45 bahasa. Sementara Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang dapat digunakan untuk percakapan, pengetikan, maupun transkripsi.

Dengan kemampuan tersebut, Zoom ingin percakapan tidak berhenti sebagai rekaman atau rangkuman rapat saja. Perusahaan menyebut konsep ini sebagai system of action, di mana AI dapat mengubah hasil percakapan menjadi tindakan atau pekerjaan.

“Di masa depan, percakapan yang direkam dapat menghasilkan dan menyelesaikan seluruh pekerjaan hanya berdasarkan pembicaraan tersebut,” pungkas Carlos.

FAQ Artikel

Apa prediksi Zoom mengenai antarmuka interaksi AI di masa depan?

Zoom memprediksi bahwa percakapan akan menjadi antarmuka berikutnya untuk berinteraksi dengan AI, mirip dengan revolusi layar sentuh sekitar 10 hingga 15 tahun lalu.

Apa yang dimaksud dengan "conversational intelligence" oleh Zoom?

Conversational intelligence adalah teknologi di mana AI bisa mendapatkan konteks terbaru secara langsung dari percakapan, termasuk memahami siapa yang berbicara, bahasa yang digunakan, sampai pekerjaan apa yang perlu dilakukan setelah pembicaraan selesai.

Bagaimana AI Zoom menggunakan konteks dari percakapan?

AI Zoom menggunakan konteks yang diberikan secara real-time dari percakapan untuk memahami topik yang dibahas, keputusan yang dibuat, serta pekerjaan yang perlu dilanjutkan, sehingga AI dapat benar-benar melakukan pekerjaan, bukan sekadar menghasilkan sesuatu berdasarkan probabilitas.

Apakah AI Zoom dapat menangani percakapan multibahasa?

Ya, AI Zoom diklaim dapat mengenali siapa yang berbicara, bahasa apa yang digunakan, dan konteks dari setiap pembicaraan dalam rapat multibahasa, misalnya dalam Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris secara bersamaan. Zoom juga sedang mengembangkan dukungan transkripsi untuk sekitar 45 bahasa.

Apa konsep "system of action" yang diusung Zoom?

Konsep "system of action" adalah di mana AI dapat mengubah hasil percakapan menjadi tindakan atau pekerjaan nyata, sehingga percakapan yang direkam dapat menghasilkan dan menyelesaikan seluruh pekerjaan hanya berdasarkan pembicaraan tersebut.

Muhammad Faisal Hadi Putra

Muhammad Faisal Hadi Putra

Jurnalis

Suka ngulik teknologi, gadget, dan game. Buat saya, yang menarik bukan cuma spesifikasi dan fitur, tapi juga pengalaman saat mencobanya langsung.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article