
Foto: Uzone.id
San Francisco, Amerika Serikat, Uzone.id - TM Roh, CEO dan President Samsung Electronics, buka suara terkait naiknya harga Galaxy S26 Series. Info saja, di Indonesia misalnya, harga Samsung Galaxy S26 Series naik Rp1,5 juta untuk varian terendah sampai Rp3 juta untuk tipe paling tinggi, Samsung Galaxy S26 Ultra versi 1 TB.
Menurutnya, Samsung selalu berupaya menghadirkan inovasi dan pengalaman yang paling bermakna bagi para pengguna Galaxy. Namun, ia tidak menampik adanya tekanan besar yang mendongkrak harga jual perangkat secara global."Saya yakin Anda juga menyadari bahwa ada tekanan kenaikan harga yang signifikan karena lonjakan tajam pada harga beberapa komponen, serta nilai tukar mata uang di beberapa wilayah," kata TM Roh, dalam sesi tanya jawab setelah gelaran Galaxy Unpacked 2026 yang berlangsung di San Francisco, Amerika Serikat (AS).
Ia mengatakan, perusahaan sudah berusaha sebisa mungkin untuk meminimalkan dampak lonjakan harga komponen. Tapi pada akhirnya, kenaikan harga di beberapa wilayah tidak bisa dihindari, tak terkecuali di Indonesia.
"Mempertimbangkan keadaan ini, kami telah berusaha untuk meminimalkan beban konsumen sebisa mungkin. Namun tetap saja, di beberapa wilayah, kenaikan harga tidak bisa dihindari," tambahnya.
Untuk menyiasatinya, Samsung pun menggandeng para mitra penjualan untuk membuat program-program khusus yang diharapkan meringankan beban konsumen saat ingin membeli Galaxy S26 Series. Selain itu, strategi ini juga diharapkan bisa menekan total cost of ownership (TCO) atau total biaya kepemilikan pengguna serendah mungkin.
TM Roh menjelaskan, ada dua pendekatan teknis untuk menekan TCO ini, yakni memberikan pembaruan OS jangka panjang dan perluasan fitur Galaxy AI.
Samsung menjamin bahwa ponsel baru pengguna mendapatkan update OS serta pembaruan keamanan rutin selama 7 tahun.
"Hal ini akan memungkinkan pengguna untuk terus menggunakan perangkat untuk waktu yang lebih lama, yang juga akan membantu mengurangi total biaya kepemilikan sehingga TCO kami akan tetap kompetitif," tegas TM Roh.
Samsung juga akan terus meningkatkan fitur dan kemampuan Galaxy AI guna memperkaya pengalaman pengguna. Fitur AI ini, kata TM Roh, tidak hanya diperluas pada Galaxy S Series saja, tapi juga Galaxy A Series selama perangkat kerasnya mendukung.
“Dengan melakukan hal tersebut, kami akan terus memperluas penerapan AI ke perangkat Galaxy kami sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan AI untuk semua orang,” ucap TM Roh.
Dorong pembiayaan lewat Samsung Finance+
Dalam kesempatan yang sama, Carl Nodenberg, VP Mobile eXperience Business Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania, turut menyoroti isu harga ini.
Menurutnya, inovasi yang dihadirkan Samsung tidak selalu berpusat pada kecanggihan spesifikasi hardware dan software saja, melainkan juga menyentuh aspek kemudahan akses untuk mendapatkan perangkat itu sendiri.
Samsung, lanjut Carl, terus berupaya mencari cara agar pelanggan tetap bisa menjangkau dan memiliki produk canggih mereka tanpa harus merasa terlalu terbebani oleh harga. Salah satu solusi yang ditawarkan untuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania adalah lewat kehadiran program Samsung Finance+.
Platform pembiayaan atau cicilan mandiri dari Samsung ini diketahui sudah beroperasi di empat negara, salah satunya adalah Vietnam dan Indonesia. Program ini diklaim sebagai solusi yang sangat inovatif dari perusahaan untuk menyiasati tren kenaikan harga smartphone.
Carl membeberkan bahwa fasilitas kredit ini terbukti sangat diminati dan secara efektif membantu daya beli konsumen. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir saja, Samsung Finance+ telah memfasilitasi pembelian untuk tiga juta perangkat.
“Kami telah memungkinkan pembiayaan 3 juta perangkat selama 3 tahun, dengan tingkat penerimaan 75 persen, yaitu hampir dua kali lebih tinggi dari standar industri,” klaim Carl.
Melihat antusiasme yang tinggi, Samsung berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program cicilan ini ke berbagai negara lainnya di masa mendatang.
"Kami akan terus menggerakkan program ini secara spesifik, tetapi juga di pasar lain, bekerja sama dengan mitra lain untuk mencari cara menurunkan tekanan (harga), dan membuat lebih banyak perangkat terkoneksi ke Asia Tenggara dan Oseania," tutup Carl.