icon-category Digilife

Community Week: Ikut Komunitas Fotografi Punya Penghasilan Tambahan, Bisa!

  • 04 Apr 2022 WIB
  • Bagikan :
    Host Yudi (kiri) bersama Komunitas Fotografi TelkomGroup: Edwin, Riama, Cahyo dan Yudi (Foto: Uzone.id)

    Uzone.id - Jadi anggota komunitas fotografi banyak manfaatnya lho, guys. Kamu bisa menuangkan hobi fotografi dengan turut didukung oleh teman-teman yang punya hobi yang sama.

    Kemudian, kalau kamu sudah bisa menghasilkan foto-foto yang keren, bakal banyak orang-orang yang mau menyewa jasa kamu untuk jadi fotografer mereka.

    Apalagi di era digital sekarang ini, fotografi punya peluang bisnis yang besar. Itu berbanding lurus dengan kebutuhan visual di segala sektor. Tentu saja, fotografi malah bisa jadi sumber penghasilan bagi kamu yang mau menekuninya.

    Hal itu diakui oleh Edwin, salah satu anggota Komunitas Fotografi TelkomGroup, saat berbincang di program Community Week yang tayang di kanal YouTube Uzone.id pada Jumat (1/4/2022).

    BACA JUGA: Community Week: Jadi Fotografer Profesional Tak Perlu Punya Bakat

    "Bisa sih (jadi penghasilan). Ada Shutterstock bisa dijual di situ, kita bisa jual foto apa. Foto lantai aja, misalkan, kita bisa upload Shutterstock atau jual di NFT. Itu bisa menghasilkan income lain, di luar gaji," kata Edwin, yang ditemani tiga anggota KFT lainnya, Reima, Cahyo dan Yudi.

    Cahyo manambahkan, dirinya sebagai anggota KFT sering menjadi juri ajang fotografi. Selain itu, dia mendapat dukungan dari beberapa brand filter kamera, tripod, dan Telkom ketika turun lomba.

    Begitu juga Yudi mengaku dapat tambahan penghasilan dari hobi fotografi. Berawal dari sering membagikan foto-foto karyanya di media sosial, beberapa teman kepincut dengan hasil karyanya.

    "Teman saya menawarkan kesempatan dan saya ambil saat itu motret di sebuah aktivitas malam, tapi sudah ditinggalkan sih sejak 2020. Dokumentasi party-party gitu," kata Yudi. "Dari situ aja bisa mendapatkan penghasilan di luar gaji, itu di luar jam kerja."

    Tak perlu pakai kamera DSRL atau mirrorless berharga mahal untuk belajar fotografi. Riama menjelaskan bahwa untuk belajar framing bisa memanfaatkan smartphone.

    Dia pernah punya pengalaman ketika menggelar acara di Labuan Bajo bareng KFT tiba-tiba kameranya rusak. "Kameraku mati itu, aku lanjut pakai handphone juga," kata Riama.

    BACA JUGA: Lenovo Yoga Slim 7 Carbon: Ringan dan Mewah

    Cahyo pun mengamini ucapan Riama. Menurutnya, selama komposisi sudah bagus, pakai smartphone tidak masalah.

    "Banyak teman-teman saya yang pakai handphone pastinya mereka bawa tripod kan. Pakai hape kan low exposure. Nah, kalau pakai tripod, pakai hape, mode manual," terang dia.

    KFT sendiri terbentuk pada tahun 2007. Sebelum jadi KFT, komunitas fotografi sebelumnya bernama 135. Nama tersebut sesuai dengan budaya perusahaan THe Telkom Way 135.

    Kemudian, nama KFT terbentuk di acara pameran besar offline pada 21 April 2017. Saat ini, aggota KFT berjumlah lebih dari 240 orang.

    Kegiatan rutin yang dilakukan komunitas ini ada Ngetrip Bareng KFT setiap bulannya. Selain itu ada Uber (Upload Bersama) KFT yang digelar setiap hari Rabu untuk mengasah kemampuan para anggota menghasilkan foto-foto bagus. 

    Selanjutnya, setiap bulan ada penganugerahan hadiah Best Month bagi anggota yang telah menghasilkan foto-foto terbaik selama Uber KFT.  

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini