
Foto: Changi, Singapura (Yen Le/Unsplash)
Uzone.id – Institute Management and Development (IMD) baru saja merilis survei terbaru terkait Smart City Indeks (SCI) 2024 yang mengambil data dari 142 smart city di seluruh dunia.
Laporan ini menggabungkan sejumlah data keras dan data warga masing-masing kota yang kemudian menjadi data mendalam mengenai profil smart city tersebut. Dari survey ini, IMD membagikan daftar terbaru smart city terbaik di dunia sekaligus di Asia Tenggara.“Laporan tahunan SCI dirilis untuk membantu pemerintah kota dalam membangun kota masa depan yang tangguh dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman,” kata Bruno Lanvin, Presiden Smart City Observatory, bagian dari IMD World Competitiveness Center dalam keterangannya, Senin, (22/04).
Secara global sendiri, IMD menemukan bahwa kota-kota dari Eropa dan Asia cukup mendominasi 20 kita terpintar di dunia. Yang jadi menarik, kota-kota di Amerika Serikat, Canada dan Amerika Utara tidak masuk dalam list 20 besar. Berikut daftar lengkap 20 smart city terbaik di dunia versi IMD 2024.
Bisa dilihat dari 20 kota pintar ini, ada Singapura yang menjadi wakil Asia Tenggara. Kota ini berada di posisi kelima. Untuk Asia sendiri, ada Abu Dhabi, Dubai, Beijing, Taipei, Seoul, Shanghai dan Hong Kong yang masuk dalam list tersebut.
Sayangnya survey ini juga mengungkapkan kalau rangking 3 smart city Indonesia tidak mengalami kenaikan bahkan cenderung stagnan dan menurun di tahun ini. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut peringkat Smart City di Asia Tenggara versi IMD 2024:
Selain menampilkan ranking kota pintar, IMD juga menguak permasalahan yang dihadapi tiap kota. Di Jakarta misalnya, warga mengidentifikasi tiga permasalahan utama yang perlu segera diatasi pemerintah daerah yaitu polusi udara (68,4 persen), kemacetan lalu lintas (66 persen), dan korupsi (51,7 persen).
Lalu di Medan, tiga masalah utama yang mendapat sorotan adalah soal keamanan (58,3 persen), pengangguran (53,2 persen), dan korupsi (52,7 persen). Di Makassar, tiga permasalahan utama yang masih dihadapi warganya yaitu kemacetan lalu lintas (52,6 persen), pengangguran (52,5 persen), dan korupsi (49,6 persen).
IMD menyebut dengan adanya peringkat tersebut diharapkan bisa membantu pengembangan kota pintar di masing-masing daerah.
“Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa, di masa depan, kota pintar fokus memperhatikan manusia (human-centric) yang hidup didalamnya dan merangkul semua kalangan (inklusif),” tambah Lanvin.