Home
/
ESG

Dari Pilah Sampah hingga Kompos, Begini Cara Gozero di Klangon

Telkom GoZero% di Bukit Klangon edukasi pengelolaan sampah berkelanjutan lewat pemilahan empat kategori dan pengolahan sampah organik jadi kompos bernilai.

Dari Pilah Sampah hingga Kompos, Begini Cara Gozero di Klangon

Foto: Uzone.id

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Telkom Indonesia mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di kawasan wisata Bukit Klangon, Yogyakarta, melalui program GoZero%.
  • Program ini memperkenalkan pemilahan sampah ke dalam empat kategori: organik, anorganik, residu, dan limbah B3, untuk penanganan yang sesuai jenisnya.
  • Fokus utama adalah membangun kebiasaan masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya, bukan hanya menyediakan fasilitas.
  • Telkom berkolaborasi dengan akademisi (UGM, UNDIP) untuk pendampingan masyarakat dalam mengelola sampah, termasuk mengolah sampah organik menjadi kompos yang bernilai ekonomi.

Uzone.id – Pengelolaan sampah di kawasan wisata tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah. Masyarakat juga perlu memiliki kebiasaan memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Hal ini menjadi salah satu hal yang didorong Telkom Indonesia melalui program GoZero% Sustainability Action di kawasan Bukit Klangon, Yogyakarta.

Melalui program tersebut, Telkom memperkenalkan pemilahan sampah ke dalam empat kategori, yakni organik, anorganik, residu, dan limbah B3.

Pemilahan ini diharapkan membuat sampah yang dihasilkan masyarakat maupun wisatawan dapat ditangani sesuai jenisnya. Sampah organik, misalnya, tidak harus berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah kembali menjadi kompos.





VP Sustainability Telkom Indonesia Gunawan Wasisto mengatakan, keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada fasilitas yang diberikan, tetapi juga bagaimana masyarakat mendapatkan pengetahuan untuk mengelola sampah secara mandiri.

Karena itu, Telkom membuka peluang pendampingan masyarakat dengan melibatkan kalangan akademisi, termasuk dari perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (UNDIP).

“Pendampingan dengan akademisi seperti Undip dan UGM kepada masyarakat, bagaimana mengelola, memilah dan mengurangi jumlah sampah,” ujar Gunawan saat ditemui Uzone.


Foto: Uzone.id

Menurutnya, pengelolaan sampah juga dapat diarahkan agar memberikan manfaat lebih bagi masyarakat. Salah satunya melalui pemanfaatan sampah organik menjadi kompos yang kemudian bisa digunakan kembali untuk kebutuhan lingkungan sekitar.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya didorong untuk membuang sampah sesuai kategorinya, tetapi juga memahami bahwa sebagian sampah masih memiliki manfaat dan dapat kembali digunakan.

Sampah organik bisa punya nilai ekonomi

Salah satu fokus yang dapat dikembangkan adalah pengolahan sampah organik.

Sisa makanan, dedaunan, hingga material organik lainnya dapat dipisahkan sejak awal untuk kemudian diolah menjadi kompos. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk penghijauan kawasan maupun kebutuhan pertanian masyarakat sekitar.

“Pengelolaan reuse juga bisa jadi kompos,” kata Gunawan.


Foto: Uzone.id

Ke depan, Telkom juga membuka kemungkinan menghadirkan fasilitas pendukung seperti green house untuk memperkuat ekosistem pengelolaan sampah sekaligus pemanfaatan hasil olahannya.

Dengan begitu, pengelolaan sampah tidak berhenti pada aktivitas memilah, tetapi berlanjut menjadi sebuah siklus: sampah dikurangi, dipilah, diolah, lalu dimanfaatkan kembali.

Membentuk kebiasaan, bukan sekadar menyediakan tempat sampah

Di kawasan GoZero% Eco Camp Klangon, prinsip tersebut juga diperkenalkan melalui berbagai informasi mengenai pengelolaan lingkungan.

Masyarakat dan pengunjung didorong menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), menggunakan air dan energi secara bijak, menjaga kebersihan, serta tidak mengganggu lingkungan dan satwa di sekitar kawasan.

Empat kategori tempat sampah yang tersedia juga menjadi bagian penting dari edukasi tersebut. Hijau untuk organik, biru untuk anorganik, kuning untuk residu, dan merah untuk limbah B3.





Lantas, apa perbedaan keempat jenis sampah tersebut?

1. Sampah Organik

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup dan relatif mudah terurai secara alami.

Contohnya antara lain sisa makanan, daun kering, kulit buah, serta sisa tanaman.

Jenis sampah ini sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Salah satunya dengan mengolahnya menjadi kompos, yang kemudian dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman dan mendukung penghijauan di lingkungan sekitar.

Karena itu, memisahkan sampah organik sejak awal dapat mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali.

Di Klangon, pengolahan sampah organik juga menjadi salah satu hal yang ingin terus didorong agar masyarakat tidak hanya memilah, tetapi mengetahui apa yang bisa dilakukan setelah sampah tersebut dipisahkan.


Foto: Uzone.id


2. Sampah Anorganik

Berbeda dengan organik, sampah anorganik merupakan material yang relatif sulit terurai secara alami, tetapi sebagian masih dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Contohnya seperti botol plastik, kaleng, dan berbagai jenis kemasan.

Sampah anorganik yang dipilah dengan baik akan lebih mudah dikumpulkan dan masuk ke proses pemanfaatan atau daur ulang sesuai jenis materialnya.

Artinya, botol plastik yang masuk ke tempat sampah anorganik tidak serta-merta menjadi sampah yang tidak berguna. Dengan sistem pengelolaan yang tepat, material tersebut masih memiliki potensi untuk kembali dimanfaatkan.

3. Sampah Residu

Lalu ada sampah residu, yakni material yang tersisa dan sulit untuk masuk ke kategori organik maupun anorganik yang dapat didaur ulang.

Contohnya antara lain tisu bekas, popok atau pembalut, serta masker sekali pakai.

Sampah residu menjadi penting untuk dipisahkan karena tidak semua benda yang terlihat seperti plastik otomatis bisa didaur ulang.

Dengan memilah residu sejak awal, pengelola dapat mengetahui mana sampah yang memang masih dapat dimanfaatkan dan mana yang membutuhkan penanganan sebagai residu.


Foto: Uzone.id


4. Limbah B3

Kategori terakhir adalah limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun.

Jenis ini membutuhkan perhatian khusus karena dapat mengandung bahan berbahaya yang berpotensi mencemari lingkungan maupun membahayakan kesehatan apabila tidak ditangani dengan benar.

Contohnya antara lain baterai bekas, lampu rusak, dan produk aerosol tertentu.

Karena karakteristiknya berbeda dari sampah rumah tangga biasa, limbah B3 sebaiknya tidak dicampurkan dengan sampah organik, anorganik, maupun residu.

Pada akhirnya, masyarakat Klangon diharapkan dapat memiliki sistem pengelolaan sampah yang dapat diteruskan secara mandiri, sekaligus melihat sampah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih bisa dikurangi, digunakan kembali, dan diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

FAQ Artikel

Apa tujuan utama program GoZero% Sustainability Action Telkom Indonesia di Bukit Klangon?

Program GoZero% bertujuan untuk mendorong pengelolaan sampah yang tidak hanya menyediakan tempat sampah, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya di kawasan Bukit Klangon, Yogyakarta.

Ada berapa kategori pemilahan sampah yang diperkenalkan Telkom dalam program ini?

Telkom memperkenalkan pemilahan sampah ke dalam empat kategori utama: organik, anorganik, residu, dan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Bagaimana Telkom melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah mandiri?

Telkom membuka peluang pendampingan masyarakat dengan melibatkan kalangan akademisi seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (Undip) untuk memberikan pengetahuan tentang cara mengelola, memilah, dan mengurangi jumlah sampah secara mandiri.

Apa manfaat yang dapat diperoleh dari pengolahan sampah organik?

Sampah organik dapat diolah kembali menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan untuk penghijauan kawasan maupun kebutuhan pertanian masyarakat sekitar, sehingga memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.

Apa perbedaan antara sampah organik, anorganik, residu, dan limbah B3?

Organik: Sampah dari makhluk hidup yang mudah terurai dan bisa jadi kompos (contoh: sisa makanan, daun kering).

Anorganik: Material sulit terurai, tapi bisa didaur ulang (contoh: botol plastik, kaleng).

Residu: Material sisa yang sulit masuk kategori organik atau anorganik yang dapat didaur ulang (contoh: tisu bekas, popok).

Limbah B3: Bahan berbahaya dan beracun yang butuh penanganan khusus (contoh: baterai bekas, lampu rusak).

Hani Nur Fajrina

Hani Nur Fajrina

Jurnalis

Tech journalist sejak 2014. Menulis seputar teknologi, gadget, startup, telekomunikasi, ESG, dan ekosistem digital. Di waktu senggang, suka menonton dan mengulas film.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article