Data KTP hingga Password Email Menkomdigi Meutya Hafid Diduga Bocor
Analis siber menduga data Menkomdigi Meutya Hafid, termasuk password, bocor dan dijual Rp2.000, mendesak pemerintah serius mengatasi keamanan data.

Highlight Artikel
- Dugaan kebocoran data pribadi Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mencuat.
- Data sensitif yang bocor meliputi foto KTP, informasi keluarga, serta password email dan LinkedIn, diklaim dijual dengan harga Rp2.000 hingga Rp10.000.
- Analis keamanan siber Namsun Bertin mengungkapkan dugaan ini melalui Instagram sebagai upaya menarik perhatian pemerintah terhadap isu keamanan data.
- Mr Bert mengaku telah berkali-kali melaporkan celah keamanan dan kebocoran data ke Komdigi, namun belum ada tindakan signifikan dari pemerintah.
Uzone.id — Dugaan kebocoran
data pribadi kembali mencuat di Indonesia. Kali ini, data yang diduga milik
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid disebut ikut beredar
dan bahkan diklaim bisa dibeli dengan harga hanya Rp2.000.
Dalam video tersebut, Mr Bert memperlihatkan sejumlah
informasi yang diklaim berkaitan dengan Meutya Hafid. Data yang ditampilkan
cukup beragam, mulai dari foto yang disebut pernah digunakan sebagai foto KTP
hingga informasi anggota keluarga.
“Kepada Ibu Meutya Hafid yang terhormat, Menteri Komdigi Indonesia. Ibu, ini adalah foto KTP-mu, atau pernah jadi foto KTP-mu. Benarkah, Ibu? Ini adalah data keluargamu, data anakmu, data suamimu yang saya tutupi untuk menjaga privasi Ibu,” kata Mr Bert dalam video tersebut.
Tak sampai situ, Mr Bet kemudian menunjukkan informasi lain
yang diklaim sebagai password milik Menteri Komdigi, Meutya Hafid. Mulai dari
password email hingga password LinkedIn.
“Ini adalah password Ibu yang jelas semuanya bisa dibaca.
Password seorang Menteri Komdigi,” ujarnya.
Mr Bert menyatakan bahwa informasi pribadi dan sensitif yang diduga berkaitan dengan Meutya tersebut dijual dengan bebas dan bisa diperoleh hanya dengan Rp2 ribu sampai Rp10 ribu.
“Baru-baru saja dijual data Rp10 ribu satu orang, kita bisa
dapat seluruh wajahnya, lokasinya, semua itu bisa didapatkan, Ibu. Rp10 ribu.
Tapi Rp10 ribu itu masih terlalu mahal karena saya pribadi bisa tahu sumbernya
dimana bisa membeli data Ibu, itu cuma Rp2 ribu,” lanjutnya.
Dalam postingan tersebut, Mr Bert menjelaskan bahwa data
tersebut menjadi salah satu gambaran betapa mudahnya informasi pribadi
masyarakat Indonesia ditemukan dan diperjualbelikan.
Ia menyebut bahwa postingan yang ia unggah tersebut tidak
bermaksud mempermalukan Meutya maupun melakukan doxing dengan memperlihatkan
data tersebut ke publik. Ia menyampaikan bahwa video tersebut dibuat untuk
menarik perhatian pemerintah terkait persoalan kebocoran data di Indonesia.
Mr Bert mengaku sudah beberapa kali mendatangi Komdigi untuk
melaporkan temuan terkait dugaan kebocoran data maupun celah keamanan.
“Saya berkali-kali datang, saya berkali-kali datang ke
Komdigi. Saya sampaikan ada kebocoran data ini, ada lubang keamanan ini,”
ujarnya.
Sayangnya, Mr Bert menyatakan bahwa pemerintah belum
melakukan tindakan signifikan terkait fenomena kebocoran data ini.
Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Komdigi belum
menyampaikan respon mereka terkait dugaan kebocoran data yang menimpa Menteri
Komdigi Meutya Hafid tersebut.
FAQ Artikel
Data pribadi siapa yang diduga bocor dalam artikel ini?
Data pribadi yang diduga bocor adalah milik Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid.
Siapa yang mengungkapkan dugaan kebocoran data ini?
Dugaan kebocoran data ini diungkap oleh kreator konten dan analis keamanan siber Namsun Bertin melalui akun Instagram-nya @realmrbert.
Apa saja jenis data yang diklaim bocor?
Jenis data yang diklaim bocor meliputi foto KTP, informasi anggota keluarga, serta password email dan LinkedIn milik Menteri Komdigi.
Mengapa Mr Bert mengungkapkan kasus kebocoran data ini?
Mr Bert mengungkapkan kasus ini untuk menarik perhatian pemerintah terkait mudahnya informasi pribadi masyarakat Indonesia ditemukan dan diperjualbelikan, bukan untuk mempermalukan atau melakukan doxing.
Vina Insyani
Jurnalis
