Fakta PHP2Shell yang Hebohkan Dunia Siber: Bisa Lumpuhkan Internet Global
Celah kritis PHP2Shell mengancam 70% situs global dengan risiko serius peretasan data, mendorong Indonesia dan negara lain melakukan mitigasi.

Highlight Artikel
- Celah keamanan bernama PHP2Shell (CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619) ditemukan kritis dengan skor 9,2/10, mengancam puluhan juta website di seluruh dunia.
- Sekitar 70 persen situs web global, termasuk toko online, portal berita, dan layanan pemerintah, menggunakan PHP dan berpotensi diambil alih peretas tanpa autentikasi.
- Dampak serius kerentanan meliputi System Takeover, Remote Code Execution (RCE), pencurian data, defacement situs, penyebaran malware, hingga kelumpuhan layanan.
- Pemerintah dari berbagai negara seperti Jerman, Prancis, Jepang, dan Indonesia telah mengambil langkah mitigasi, termasuk penonaktifan sementara situs-situs penting.
Uzone.id — Celah keamanan
bernama PHP2Shell membuat pengguna internet global panik, pasalnya dua celah
yang ditemukan pada 21 Oktober 2026 kemarin ini mampu mengancam puluhan juta
website di seluruh dunia.
Dua celah tersebut antara lain CVE-2026-109618 dan
CVE-2026-109619 yang bisa menyebabkan penjahat siber tanpa autentikasi menyusup
dan mengambil alih sebuah website untuk mengirimkan HTTP request.
Dampaknya pun cukup parah akrena bisa berpotensi
mengeksploitasi proses PHP untuk melakukan Remote Code Execution (RCE) pada
server yang terdampak.
Untuk mengetahui lebih dalam soal kerentanan PHP2Shell ini,
kalian bisa mengecek beberapa faktanya berikut ini.
70 Persen Website Dunia Terancam
Gak tanggung-tanggung, sebanyak 70 persen situs web dunia,
termasuk toko-toko online, portal berita, hingga layanan pemerintah di sejumlah
negara menggunakan PHP sebagai penopang situs mereka.
Gak heran kalau penemuan dua celah ini bikin panik banyak
pihak.
Melansir dari TechCrunch, jumlah situs yang menggunakan
bahasa program ini melebihi 33 juta situs di seluruh dunia. Karena
penggunaannya yang luas, dua kerentanan ini berpotensi membuka jalan bagi
peretas untuk mengambil alih server tanpa harus login terlebih dahulu.
Mengutip dari Malwarebytes, Jumat, (23/10), dua celah
tersebut terdaftar dengan kode CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Keduanya
mendapat skor 9,2 dari 10 dalam penilaian tingkat keparahan kerentanan, atau
masuk kategori kritis.
Banyak website-website populer yang menggunakan PHP untuk
menjalankan situs mereka. Beberapa diantaranya adalah WordPress, Drupal,
Joomla, dan MediaWiki yang digunakan oleh situs populer Wikipedia.
Dampak Adanya Celah PHP2Shell
Kerentanan ini juga bikin panik berbagai perusahaan
teknologi, sebut saja OpenAI, Google hingga Amazon yang ikut turun tangan agar
kerentanan ini tidak melebar luas dan menyebabkan internet lumpuh.
Dampaknya gak main-main, kerentanan ini bisa mengambil alih
sistem atau System Takeover dengan mengakses baris perintah terminal (reverse
shell) menggunakan hak akses tinggi untuk mengendalikan seluruh server dari
jarak jauh.
Setelah berhasil menyusup, penjahat siber juga bisa mencuri
data aplikasi, basis data, informasi pengguna, hingga dokumen penting di dalam
server. Karena punya kendali penuh, penyusup juga bisa mengubah isi situs web,
menyisipkan halaman palsu (defacement), atau mengalihkan pengunjung ke situs
berbahaya.
Dampak lainnya termasuk memasang backdoor agar bisa masuk
kembali ke sistem di masa depan, menyebarkan perangkat lunak berbahaya atau
halaman phishing yang mengatasnamakan layanan terpercaya bahkan melumpuhkan
situs.
Negara mana saja yang sudah bertindak?
Celah keamanan ini juga banyak dialami oleh berbagai situs
pemerintah di dunia, termasuk di Indonesia. Di Eropa, penyedia layanan IT dari
Jerman telah melakukan penonaktifkan beberapa situs web pemerintah sebagai
langkah preventif.
Ada juga Perancis yang juga menonaktifkan sementara
situs-situs prefektur (kantor administrasi daerah) yang berbasis PHP. Belanda,
Finlandia, Inggris, Belgia dan Denmark juga melakukan tindakan serupa pada
situs-situs pemerintah, portal publik hingga sistem sekolah.
Di Jepang, Kementerian Komunikasi setempat merilis imbauan
darurat agar seluruh pengelola web berbasis PHP bersiap melakukan patching dan
beberapa situs penting seperti layanan keuangan hingga maskapai diminta untuk
membatasi akses.
Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Komdigi telah memberikan himbauan bagi seluruh pengguna layanan PDN-1 dan Government Cloud untuk segera melakukan pengamanan secara proaktif untuk menghadapi ancaman ini.
“Seluruh instansi pengguna layanan PDN diimbau untuk
meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pengamanan secara
proaktif sesuai dengan perkembangan ancaman keamanan siber,” tulis Direktur
Infrastruktur Pemerintah Digital, Syaharuddin.
Selain itu, situs Kemenperin juga telah dengan menonaktifkan
situs secara sementara. Dalam pengumuman yang dibagikan oleh akun Instagram
resminya @kemenperin_ri, penonaktifkan ini dilakukan sebagai langkah mitigasi
risiko keamanan siber terkait kerentanan PHP2Shell.
“Sobat Industri, dalam rangka mitigasi risiko keamanan siber
terkait kerentanan PHP2Shell, Kemenperin akan melakukan penonaktifan sementara
layanan SIINas, website Kemenperin, dan seluruh domain kemenperin.go.id,” tulis
pengumuman di akun tersebut.
69 Persen Situs Di RI Terancam!
Dalam laporan terbaru yang dibagikan oleh Alfons Tanujaya,
pakar siber dari Vaksincom, mengungkap bahwa terdapat 89.193 host PHP
terdeteksi di server Indonesia.
“Berdasarkan hasil pemindaian komprehensif terhadap server
di Indonesia yang terhubung langsung ke internet per 23 Oktober 2026, Vaksincom
mencatat sebanyak 89.193 host PHP terdeteksi aktif,” kata Alfons dalam
keterangan resmi yang diterima Uzone.id, Senin, (26/10).
Dari angka tersebut, sebanyak 69,6 persen situs mendukung
versi PHP yang sudah End-of-Life sehingga tidak ada patch resmi untuk
celah PHP2Shell.
Sementara itu, hanya 226 situs saja atau sekitar 0,2 persen
saja yang sudah dibekali dengan versi perbaikan.
Dari sekian banyak situs yang terdeteksi, Alfons menjelaskan
bahwa ada sekitar 2.072 situs pemerintah dengan domain go.id dan 5.246 situs
perusahaan co.id menjadi situs yang paling banyak dan paling sulit karena
menggunakan PHP end-of-Life.
Di sisi lain, seorang programmer Tjandra Aji melalui akun
Threads miliknya @cchhaannddraa, menyebut ada 304 situs pemerintahan dengan
domain go.id yang menggunakan PHP.
“Gue coba mengambil sampel 2000 situs pemerintahan dengan
domain .go id, ada 304 situs yang menggunakan PHP, dan cuma 2 situs yang sudah
menggunakan versi terbaru,” kata akun tersebut.
FAQ Artikel
Apa itu celah keamanan PHP2Shell?
PHP2Shell adalah celah keamanan kritis (CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619) dengan skor 9,2/10 yang memungkinkan penjahat siber tanpa autentikasi mengambil alih website dan melakukan Remote Code Execution (RCE) pada server yang terdampak.
Seberapa luas dampak celah PHP2Shell ini secara global?
Celah ini mengancam sekitar 70 persen situs web dunia, atau lebih dari 33 juta situs yang menggunakan PHP, termasuk toko online, portal berita, hingga layanan pemerintah, karena kerentanan ini memungkinkan peretas mengambil alih server tanpa login.
Apa saja potensi dampak serius dari kerentanan PHP2Shell?
Dampak seriusnya meliputi System Takeover untuk mengendalikan server dari jarak jauh, pencurian data sensitif (aplikasi, basis data, informasi pengguna), pengubahan atau defacement situs, penyisipan backdoor, penyebaran malware atau halaman phishing, hingga melumpuhkan situs.
Bagaimana status kerentanan PHP2Shell di Indonesia?
Di Indonesia, 89.193 host PHP terdeteksi aktif, dengan 69,6 persen di antaranya menggunakan versi PHP End-of-Life yang tidak mendapat patch resmi. Sebanyak 2.072 situs pemerintah (.go.id) dan 5.246 situs perusahaan (.co.id) juga rentan. Kementerian Komdigi dan Kemenperin telah mengimbau mitigasi proaktif dan menonaktifkan sementara situs.
Vina Insyani
Jurnalis
