Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Pertamax Berpotensi Rp20.000 per Liter?
Gejolak geopolitik Selat Hormuz mampu menaikkan Pertamax hingga Rp18.000-Rp20.000 per liter, akibat naiknya harga minyak global dan pasokan energi tak stabil.

Highlight Artikel
- Harga Pertamax berpotensi naik menjadi Rp18.000-Rp20.000 per liter akibat gejolak geopolitik global.
- Ketegangan di Selat Hormuz, Timur Tengah, disebut sebagai penyebab utama ketidakpastian pasokan dan harga minyak dunia.
- Kondisi geopolitik saat ini dianggap terberat, melampaui dampak perang Ukraina-Rusia, menurut Pertamina Patra Niaga.
- Harga minyak mentah global seperti Brent dan WTI melonjak lebih dari 6%, mencapai rekor tertinggi sejak 2026 akibat ancaman pasokan fisik.
Uzone.id - Gejolak geopolitik di pasar global tampaknya belum juga mereda. Kondisi ini membuat harga BBM jenis Pertamax berpotensi meningkat antara Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.
Ketegangan yang masih memanas di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, terus membayangi ketersediaan pasokan energi sekaligus memicu ketidakpastian harga minyak dunia.Dampak serius dari situasi ini dirasakan langsung di industri energi nasional. Direktur Pemasaran Retail PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Eko Ricky Susanto, menjelaskan bahwa tekanan geopolitik saat ini terbilang cukup berat jika dibandingkan dengan dinamika sebelumnya.
"Nah yang terakhir ini, yang ketiga ini yang terbaru dan saya rasa ini mungkin salah satu yang terberat kita kena hadapi ya, karena dulu waktu perang Ukraina-Rusia tidak separah ini, dengan adanya perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya," ujar Eko kepada media dikutip dari Kompas.
Sebagai gambaran, tarif Pertamax (RON 92) untuk area DKI Jakarta dan sekitarnya saat ini dipatok Rp 15.950 per liter. Namun, melihat tren pergerakan minyak mentah global yang merangkak naik, peluang harga BBM ritel untuk kembali melandai ke tingkat normal makin mengecil.
Eko mengungkapkan, sulit rasanya membayangkan patokan harga mentah dapat segera menyentuh kisaran awal sebelum krisis pecah.
"Saya enggak tahu, katanya hari ini harga dunia BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun 70 dollar per barrel seperti atau 60 dollar per barrel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujarnya.
Bila reli kenaikan minyak internasional terus berlanjut tanpa penyesuaian signifikan, imbasnya akan merembet secara mendalam ke dalam negeri. Banderol produk bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax pun berpotensi terkerek naik cukup dramatis.
"Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lawan itu akan berkisaran antara di angka 18 ribu sampai 20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," kata Eko.
Kekhawatiran tersebut tercermin dari pergerakan pasar komoditas. Lonjakan tajam lebih dari 6 persen mendorong minyak dunia melampaui ambang batas 100 dollar AS per barel pada penutupan perdagangan Kamis (10/9) atau Jumat (11/9) pagi WIB.
Laju inflasi yang dipicu perselisihan berkepanjangan di Timur Tengah ini turut melayangkan sentimen negatif ke bursa saham Amerika Serikat (Wall Street), hingga menyebabkan penutupan di zona merah pada perdagangan Kamis (10/9) waktu setempat.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah jenis Brent melesat 6,42 dollar AS atau setara 6,34 persen menjadi 107,63 dollar AS per barel.
Pada saat bersamaan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 6,43 dollar AS (6,69 persen) hingga berada pada posisi 102,48 dollar AS per barel.
Pencapaian kedua acuan minyak bumi ini mencatatkan rekor tertinggi sejak 19 Mei 2026 sekaligus mengukuhkan kenaikan paling tajam dalam kurun waktu hampir dua bulan terakhir.
Di sisi lain, ancaman pada pasokan fisik masih berlangsung seiring maraknya insiden serangan terhadap kapal tanker, yang membuat aktivitas pelayaran di Teluk via Selat Hormuz tetap ketat dan terbatas.
FAQ Artikel
Mengapa harga Pertamax berpotensi naik?
Harga Pertamax berpotensi naik karena gejolak geopolitik di pasar global, terutama ketegangan di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, yang memicu ketidakpastian pasokan energi dan harga minyak dunia.
Berapa potensi kenaikan harga Pertamax?
Harga BBM jenis Pertamax berpotensi meningkat antara Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.
Berapa harga Pertamax saat ini di DKI Jakarta?
Tarif Pertamax (RON 92) untuk area DKI Jakarta dan sekitarnya saat ini dipatok Rp 15.950 per liter.
Apa yang membuat situasi geopolitik kali ini lebih berat dibandingkan sebelumnya?
Menurut Direktur Pemasaran Retail PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Eko Ricky Susanto, situasi ini lebih berat karena dampaknya secara global terhadap ketersediaan energi dan harga yang belum stabil akibat perang di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Perang Ukraina-Rusia tidak separah ini dampaknya.
Bagaimana pergerakan harga minyak mentah global baru-baru ini?
Harga minyak dunia melampaui ambang batas 100 dollar AS per barel pada penutupan perdagangan Kamis (10/9) atau Jumat (11/9) pagi WIB. Minyak mentah jenis Brent melesat 6,42 dollar AS menjadi 107,63 dollar AS per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 6,43 dollar AS hingga berada pada posisi 102,48 dollar AS per barel.
.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26amp%3Bresolution%3DHD&w=256&q=75)
