Startup

Haruskah Merger untuk Bertahan di Tengah Pandemi?

  • 12 April 2021
  • Bagikan :

    Ilustrasi (Foto: Unsplash/krakenimages)

     Uzone.id - Ernst & Young (EY) memprediksi bahwa startup tanah air akan melakukan merger dan akuisisi secara masif tahun ini, agar mendapatkan untung tahun depan.
     
    Dalam laporan berjudul 'EY Global Capital Confidence Barometer', 98 persen perusahaan meninjau strategi dan portofolio secara komprehensif selama pandemi corona. Mereka bakal berfokus pada investasi.
     
    Selain itu, 37 persen perusahaan berencana melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi secara aktif selama pandemi Covid-19.
    Menurut EY, pada awalnya, upaya akuisisi banyak dilakukan perusahaan sektor mineral dan gas (migas). Akan tetapi, selama pandemi Covid-19, tren merger dan akuisisi beralih ke perusahaan teknologi dan startup.



    Salah satu merger dan akuisisi yang baru saja terjadi yakni Sirclo, platform e-commerce enabler, yang melakukan akuisisi terhadap Orami, platform parenting yang terdiri atas e-commerce, content, dan community. Selain itu, rumor yang mencuat selama beberapa bulan terakhir adalah kabar merger antara dua unicorn Gojek dan Tokopedia.

    Baca juga: Nasib Startup Logistik Pasca Pandemi

    Dalam kacamata strategi, perusahaan melakukan merger dan akuisisi untuk keperluan pertumbuhan secara anorganik. Ini menjadi tren yang terjadi di perusahaan teknologi dan startup karena menghadirkan kecepatan yang sangat dibutuhkan untuk bersaing di industri ini

    Apabila perusahaan tidak melakukan merger dan akuisisi, maka untuk berekspansi ke bidang lain, perushaan harus mengembangkan kapabilitas secara organik yang membutuhkan waktu lama dan juga berisiko tinggi.

    Dari sisi perusahaan yang diakuisisi, ini merupakan salah satu exit strategy. Terlebih di era pandemi ini, startup yang terdampak secara negatif dapat mempertimbangkan untuk diakuisisi oleh perusahaan yang lebih besar.

    Dalam hal ini, sinergi antara dua atau lebih perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi menjadi salah satu pertimbangan utama.

    Hal ini agar menghasilkan perusahaan yang memiliki nilai lebih dari gabungan masing-masing perusahaan yang terlibat. Sinergi dapat terjadi melalui beberapa bidang, misalnya layanan atau target pelanggan yang saling melengkapi.

    Baca juga: Meneropong Peluang Agritech di Indonesia

    Namun, merger dan akuisisi juga bukan tanpa cela. Banyak contoh perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi kemudian gagal. Salah satu parameter yang dapat dilihat adalah bagaimana nilai perusahaan hasil merger dan akuisisi dibandingkan dengan masing-masing nilai perusahaan sebelum proses tersebut dilakukan.

    Oleh karena itu, salah satu yang penting dilakukan adalah dengan membentuk tim untuk memastikan sinergi yang ingin dicapai melalui proses merger dan akuisisi dapat benar-benar direalisasikan. Hal ini disebut dengan nama Post Merger Integration (PMI).

    Proses merger dan akuisisi juga menjadi salah satu indikator tahapan suatu industri. Semakin banyak terjadi proses tersebut, semakin besar kemungkinan industri tersebut semakin matang. Hal ini sepertinya akan terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

    Baca Tulisan Fajrin Rasyid Lainnya di Sini