Huawei Ingin Smartwatch Tak Cuma Baca Data, tapi Cari Pola Kesehatan
Smartwatch Huawei memanfaatkan konsep 'point, line, plane' dan AI untuk menganalisis pola tubuh, melampaui data angka biasa, demi deteksi dini risiko kesehatan.

Ilustrasi (Foto: Dok Huawei)
Highlight Artikel
- Huawei mengarahkan pengembangan smartwatch dari sekadar menampilkan angka pengukuran menjadi memahami perubahan data tubuh dari waktu ke waktu melalui konsep "point, line, plane".
- Konsep "point, line, plane" menganalisis beberapa indikator kesehatan secara bersamaan, seperti detak jantung, tidur, dan oksigen darah, untuk mengidentifikasi potensi risiko kesehatan lebih dini, bukan sebagai diagnosis medis.
- Perangkat wearable Huawei kini mampu mencakup lebih dari 70 indikator kesehatan dari enam sistem tubuh, menggabungkan sensor optik dengan data multimodal untuk analisis yang lebih kontekstual.
- Kecerdasan Buatan (AI) terintegrasi sebagai lapisan awal untuk menyaring pertanyaan kesehatan pengguna dan membantu tenaga ahli memprioritaskan kasus yang memerlukan intervensi profesional.
Uzone.id, Dongguan - Detak jantung 80 bpm mungkin terlihat normal. Begitu juga kadar oksigen darah, durasi tidur atau jumlah langkah jika dilihat satu per satu. Namun, bagaimana jika beberapa indikator tersebut berubah bersamaan dibandingkan kebiasaan tubuh seseorang?
Inilah arah baru yang tengah dikejar Huawei dalam pengembangan perangkat wearable.Smartwatch tidak lagi diposisikan sekadar sebagai perangkat yang menampilkan angka hasil pengukuran, tetapi diarahkan untuk memahami perubahan data tubuh dari waktu ke waktu dan mencari pola yang berpotensi memberikan informasi kesehatan lebih dini.
Huawei menyebut pendekatan tersebut sebagai konsep “point, line, plane” atau titik, garis dan bidang.
Dari satu angka menjadi pola
“Titik” merupakan satu hasil pengukuran pada satu waktu, misalnya detak jantung.
Ketika pengukuran dilakukan terus-menerus, kumpulan titik tersebut berubah menjadi sebuah “garis”. Dari sini perangkat dapat melihat tren dan membandingkannya dengan baseline atau kebiasaan normal pengguna.
Tahap berikutnya adalah “bidang”, ketika sejumlah indikator berbeda dianalisis secara bersamaan.
Huawei memberikan contoh kombinasi detak jantung, tidur, kadar oksigen dalam darah dan indikator harian lainnya.
Satu parameter mungkin tidak menunjukkan sesuatu yang mencolok, tetapi perubahan beberapa parameter secara bersamaan berpotensi menunjukkan penyimpangan dari pola normal pengguna.
Pendekatan tersebut menjadi dasar fitur Health Insights atau Wawasan Kesehatan. Huawei mengatakan tujuannya adalah membantu pengguna menemukan perubahan status maupun potensi risiko kesehatan lebih awal melalui analisis berbagai data, bukan berdasarkan satu angka saja.
Penting dicatat, pendekatan seperti ini merupakan screening dan pemantauan risiko, bukan pengganti pemeriksaan atau diagnosis oleh tenaga medis.
Lebih dari 70 indikator kesehatan
Untuk membuat analisis semacam itu, dibutuhkan semakin banyak sumber data.
Huawei menyebut sistem sensornya kini dapat mencakup lebih dari 70 indikator yang berkaitan dengan enam sistem tubuh, termasuk sirkulasi, pernapasan, saraf, endokrin, reproduksi dan sistem gerak.
Menariknya, beberapa pengukuran tidak hanya mengandalkan sensor optik di bagian bawah smartwatch.
Untuk evaluasi fungsi paru-paru misalnya, Huawei menjelaskan pendekatan yang mengombinasikan karakteristik spektrum suara batuk dengan data seperti detak jantung, HRV dan perilaku pengguna.
Idenya adalah satu jenis data tidak selalu cukup untuk memberikan konteks. Semakin banyak sinyal yang dapat dianalisis bersama, semakin banyak pula konteks yang tersedia bagi algoritma.
Menurut pihak Huawei dalam kunjungan ke Dongguan, China, satu parameter kesehatan belum tentu cukup untuk memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi tubuh. Karena itu, pengembangan wearable mulai diarahkan untuk melihat hubungan antara beberapa indikator sekaligus dan membandingkannya dengan kondisi normal masing-masing pengguna.
“Ketika terjadi perubahan melonjak pada tanda vital yang berbeda dan menyimpang dari garis dasar Anda, kami dapat membantu konsumen memprediksi potensi risiko kesehatan terlebih dahulu. Mungkin satu tanda vital tidak menunjukkan risiko secara tren, tetapi ketika digabungkan dapat menunjukkan risiko. Misalnya menggabungkan data detak jantung, tidur, oksigen darah, dan data indikator harian, kami dapat memprediksi risiko terlebih dahulu,” jelas pihak Huawei dalam Huawei Health Session di Dongguan, China.
Cara membaca tidur juga dibuat lebih kompleks
Pendekatan multimodal tersebut turut diterapkan pada pemantauan tidur.
Huawei sebelumnya melihat dua pendekatan berbeda dalam mengevaluasi tidur, yakni CPC (cardiopulmonary coupling) yang menitikberatkan hubungan kondisi kardiopulmoner selama tidur, serta pendekatan AASM yang digunakan untuk mengevaluasi tahapan tidur.
Alih-alih memilih salah satunya, Huawei menggabungkan kedua pendekatan tersebut dalam sistem evaluasi tidur terbaru yang diluncurkan pada Mei 2026.
Hasilnya, pengguna tidak hanya diperlihatkan tahapan tidur seperti N3 atau tidur dalam, N2 atau tidur ringan dan REM, tetapi juga stabilitas tidurnya.
Berdasarkan pengujian internal yang disampaikan perusahaan, Huawei mengklaim pendekatan tersebut meningkatkan akurasi komprehensif lebih dari 30 persen.
Ketika jam tangan memberi peringatan
Dalam presentasinya, Huawei juga membagikan kasus seorang pengguna asal Meksiko untuk menggambarkan fungsi pemantauan jangka panjang.
Menurut Huawei, pada Maret 2024 perangkat Watch GT4 milik pengguna tersebut memberikan peringatan terkait fibrilasi atrium. Dalam perjalanan kesehatannya, pengguna tersebut kemudian didiagnosis kanker.
Pada Februari 2026, ketika menggunakan Watch GT5, perangkat kembali memberikan peringatan mengenai aritmia dan tekanan darah rendah.
Pemeriksaan di rumah sakit kemudian menemukan gagal jantung dan fibrilasi atrium, yang dalam paparan Huawei dikaitkan dengan kerusakan jantung terkait pengobatan.
Setelahnya, pengguna memanfaatkan perangkat untuk melakukan pengukuran ECG dan tekanan darah secara berkala serta membagikan datanya kepada dokter.
Huawei mengatakan cerita tersebut dibagikan atas izin pengguna. Kasus individual seperti ini tentu tidak dapat dijadikan bukti bahwa smartwatch mampu mendiagnosis penyakit, tetapi memperlihatkan bagaimana data wearable dapat menjadi informasi tambahan yang mendorong pengguna melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
AI ikut masuk ke pemantauan kesehatan
Lapisan berikutnya yang mulai dimasukkan Huawei adalah kecerdasan buatan.
Bersama Rumah Sakit 301 di China, Huawei mengembangkan fitur AI follow-up untuk membantu menangani pertanyaan dalam tindak lanjut kesehatan.
Menurut Huawei, pengembangannya berangkat dari temuan bahwa banyak pertanyaan pengguna bersifat sederhana. Jika semuanya harus dijawab tenaga ahli, waktu mereka untuk menangani kasus yang benar-benar membutuhkan intervensi menjadi berkurang.
Sistem kemudian dirancang agar pengguna terlebih dahulu berinteraksi dengan AI yang pengetahuannya dikembangkan berdasarkan pengetahuan para ahli.
Huawei mengklaim sekitar 90 persen pertanyaan dalam skenario tersebut dapat ditangani melalui komunikasi AI. Jika sistem menemukan situasi yang membutuhkan intervensi profesional, kasus tersebut diteruskan kepada tenaga ahli untuk tindak lanjut.
Artinya, AI di sini tidak ditempatkan sebagai pengganti dokter, tetapi sebagai lapisan awal untuk menyaring interaksi dan membantu tenaga ahli memprioritaskan kasus yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Pergeseran besar fungsi smartwatch
Arah tersebut memperlihatkan bagaimana fungsi wearable perlahan berubah.
Generasi awal perangkat wearable banyak berkutat pada jumlah langkah, kalori dan aktivitas olahraga. Setelah sensor berkembang, perangkat mulai menawarkan pemantauan detak jantung, SpO2, ECG, tidur hingga tekanan darah pada perangkat tertentu.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar menambahkan parameter baru.
Tumpukan data tersebut harus diberi konteks.
Karena angka detak jantung, tidur atau SpO2 pada satu waktu belum tentu bercerita banyak. Justru perubahan terhadap pola normal seseorang dan hubungan antara beberapa indikator yang berpotensi memberikan informasi lebih berarti.
Di sinilah wearable mulai memasuki babak baru: dari perangkat yang mengukur tubuh, menuju perangkat yang mencoba memahami pola tubuh.
Namun semakin jauh smartwatch memasuki wilayah kesehatan, semakin penting pula batas antara informasi konsumen, screening risiko dan diagnosis medis dijaga.
Data dari pergelangan tangan dapat menjadi sinyal awal, tetapi keputusan medis tetap membutuhkan pemeriksaan serta tenaga kesehatan profesional.
FAQ Artikel
Apa konsep "point, line, plane" dalam pengembangan wearable Huawei?
Ini adalah pendekatan Huawei untuk menganalisis data kesehatan dari smartwatch. "Titik" adalah satu hasil pengukuran, "garis" adalah tren dari kumpulan titik pengukuran yang terus-menerus, dan "bidang" adalah analisis gabungan beberapa indikator berbeda (misalnya detak jantung, tidur, oksigen darah) untuk mencari pola perubahan dan potensi risiko.
Apa tujuan utama fitur Health Insights Huawei?
Tujuannya adalah membantu pengguna menemukan perubahan status maupun potensi risiko kesehatan lebih awal melalui analisis berbagai data, bukan berdasarkan satu angka saja. Fitur ini berfungsi sebagai screening dan pemantauan risiko, bukan pengganti pemeriksaan atau diagnosis medis.
Berapa banyak indikator kesehatan yang dapat dipantau oleh sistem sensor Huawei saat ini?
Sistem sensor Huawei kini dapat mencakup lebih dari 70 indikator yang berkaitan dengan enam sistem tubuh, termasuk sirkulasi, pernapasan, saraf, endokrin, reproduksi, dan sistem gerak.
Bagaimana Huawei menggabungkan data untuk analisis kesehatan yang lebih kompleks?
Huawei menggunakan pendekatan multimodal dengan mengombinasikan berbagai jenis data. Misalnya, untuk evaluasi fungsi paru-paru, mereka menggabungkan karakteristik spektrum suara batuk dengan data seperti detak jantung, HRV, dan perilaku pengguna.
Apa peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam pemantauan kesehatan wearable Huawei?
AI digunakan dalam fitur "AI follow-up" sebagai lapisan awal untuk membantu menangani pertanyaan sederhana dari pengguna. AI menyaring interaksi dan meneruskan kasus yang membutuhkan intervensi profesional kepada tenaga ahli, sehingga AI tidak ditempatkan sebagai pengganti dokter.

