
Uzone.id — Bermula dari sebuah gang kecil di kawasan Jakarta Timur, sosok Taufiq Supriadi justru menjadi sorotan di Indonesia bahkan menjadi tokoh inspiratif hingga mancanegara.
Inovasi dan kegigihannya yang ingin menjaga lingkungan membuatnya meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) hingga penghargaan dari International Board of Standards (Colorado Springs, Amerika Serikat) atas kontribusinya di bidang lingkungan pada 2025.Tak hanya itu, ia juga pernah tampil di China Central Television melalui program Entrepreneur China berkat inovasi yang diciptakan di lingkungan sekitarnya.
Bagi yang belum tahu, Taufiq Supriadi merupakan seorang Ketua RT di RT 8 RW4 Malakajaya Duren Sawit, Jakarta Timur.
Bukan sembarang Ketua RT, ia berhasil menjadi Ketua RT pertama di Indonesia yang memiliki kolam ikan hias dan gizi warga, sekaligus Ketua RT pertama yang menginisiasi media pembelajaran pencegah krisis planet pada 2024.
Dengan berbagai program yang dijalankan, RT 08 RW 04 Malaka Jaya kini menjadi kawasan percontohan yang mengedepankan konsep ramah lingkungan dan keberlanjutan.
Hingga saat ini, dirinya sudah menggagas berbagai program untuk mendukung penghijauan dan upaya pencegahan krisis planet, mulai dari pembuatan lubang biopori untuk resapan air dan penguraian sampah organik, pengomposan, budidaya maggot, budidaya ikan lele dalam got, pemilahan sampah rumah tangga hingga bank sampah.
Tak hanya itu, Taufiq juga berhasil menghadirkan pemantauan CCTV dengan jadwal piket serta pemanfaatan energi surya melalui pembangunan PLTS dan lainnya.
Dari Lingkungan Gersang Jadi Kampung Ramah Lingkungan
Lalu, bagaimana awal mula Taufiq menggagas inovasi ini? Tim Uzone.id pun berkesempatan untuk berkunjung dan mendalami seluk beluk inovasi yang digagas oleh beliau dan masyarakat setempat.
Taufiq Supriadi, mengatakan perubahan tersebut dimulai sekitar 2,5 tahun lalu setelah dirinya menjabat sebagai ketua RT. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah menghadirkan ratusan tanaman produktif untuk menghijaukan kawasan.
"Sekarang sudah ada sekitar 817 tanaman produktif yang ditanam di lingkungan kami. Awalnya kami memanfaatkan dana operasional RT sebesar Rp2 juta untuk membeli planter bag dan media tanam, lalu dicicil hingga akhirnya program ini bisa berjalan," ujar Taufiq.
Selanjutnya, ia kemudian mengajak warga untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Sampah non-organik dipilah dan disalurkan ke bank sampah setiap pekan, sementara sampah organik diolah menjadi pakan maggot, ayam, ikan, hingga kompos untuk tanaman.
"Di tempat kami tidak ada yang namanya sampah. Semuanya dimanfaatkan dan berputar menjadi sumber daya baru," jelasnya.
Menurut Taufiq, kunci keberhasilan program bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga perubahan pola pikir masyarakat. Ia melibatkan warga sebagai perancang sekaligus pelaksana program sehingga tercipta rasa memiliki terhadap setiap kegiatan yang dijalankan.
Saat ini, berbagai fasilitas pendukung juga telah dibangun, mulai dari kolam ikan, kandang ayam pengolah sampah organik, sumur artesis, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), CCTV lingkungan, hingga jadwal piket gotong royong yang melibatkan seluruh warga.
Terkenal di Mancanegara dan Jadi Pencegah Krisis Planet
Taufiq menjelaskan bahwa berkat program yang dikelola bersama masyarakat sekitar membuat kampung mereka dikunjungi banyak pihak, bahkan dari berbagai negara.
“Banyak negara-negara luar datang ke sini, ada Korea Selatan, ada Singapura, ada Amerika, ada dari Belanda, dan banyak negara lain sudah datang ke tempat ini karena melihat kita berkomitmen menjaga lingkungan tetap lestari,” ujarnya kepada Uzone.id.
Ia melanjutkan bahwa apa yang dilakukan oleh kampung mereka merupakan wujud dari pelaksanaan Undang-Undang Lingkungan Hidup Pasal 70 Ayat 1 bahwa kita punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjaga lingkungan tetap tersetari dengan cara masing-masing.
“Makanya di titik ini, ini adalah media pencegah krisis planet,” katanya.
Ia melanjutkan, “Kalau di Google Maps ada kita ketik pencegah krisis planet. Ini yang dilihat oleh Tiongkok untuk mengundang kami berangkat ke Tiongkok.”
Langkah Kecil Hidupkan Lingkungan Hijau di Perkotaan
Langkah Taufiq tersebut kini memberikan dampak nyata bagi perkampungan mereka. Salah satunya adalah kawasan yang sebelumnya terasa sangat gersang kini sudah terasa lebih asri dan juga hijau.
Lina, salah satu pengurus RT, mengatakan kawasan yang sebelumnya gersang kini berubah menjadi lebih hijau dan asri. Selain memberikan udara yang lebih segar, program tersebut juga membuka peluang usaha bagi warga melalui penjualan olahan lele.
“Kalau untuk penghijauan yang pasti jadi kelihatan asri ya Mbak, lingkungannya hijau kelihatan gitu lho. Seger, pemandangannya seger. Yang pasti kita kan jadi dapat manfaat dari oksigennya. Terus kalau program-program yang lain, kayak di sini ada akuarium warga, jadi banyak yang datang ke sini gitu lho,” katanya kepada Uzone.id.
Sementara itu, Nita, pengurus RT lainnya, menilai lingkungan kini menjadi lebih bersih, nyaman, serta ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Kehadiran tamu juga mendorong aktivitas UMKM warga yang menjual aneka produk olahan lele, makanan, hingga souvenir.
“Lingkungan jadi lebih bersih, kita dapat oksigen dari pohon-pohon, dan sekarang juga jadi wilayah kita jadi ramai dikunjungi banyak orang, banyak orang terbantu UMKM juga, kalau ada event biasanya RT008 warganya buka beberapa tenant, gitu, kaya jualan abon lele, produk-produk dari RT 008, kue juga ada, sama souvenir, dan ada dampaknya,” tuturnya.