home ×
Technology

Kisah tentang Tutupnya Agate Jogja

11 January 2017 By
Kisah tentang Tutupnya Agate Jogja
Share
Share
Share
Share

Perjalanan industri game Indonesia di tahun 2017 dibuka dengan berita tutupnya salah satu studio game paling senior asal Yogyakarta, Agate Jogja.

Studio yang digawangi oleh Frida Dwi (akrab disapa Ube) dan Estu Galih tersebut memutuskan untuk memisahkan diri dari perusahaan induknya, Agate, yang berbasiskan di Bandung, dan mengakhiri perjalanan mereka.

Apa alasannya? Dan apa jalan yang akan diambil oleh dua orang terakhir di Agate Jogja ke depannya? Simak jawabannya di bawah.

Lima tahun untuk selamanya

Sebelum kita mulai membahas lebih lanjut, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan Agate Jogja. Meskipun sudah memiliki nama yang cukup populer, tidak sedikit juga orang yang sering bertanya-tanya apa bedanya Agate Jogja dan Agate.

Mengapa hanya Agate Jogja yang memiliki label kota di namanya, sedangkan kantor Agate di Jakarta dan Bandung hanya menggunakan nama Agate saja?

Gombal | Screenshot 1

Gombal, salah satu game yang dirilis Agate Jogja tahun lalu

“Agate Jogja mulai dipersiapkan akhir 2011, sekitar bulan November dan Desember, tapi kami pakai tanggal 1 Januari 2012 sebagai hari jadi Agate Jogja,” ujar Ube menjelaskan sejarah Agate Jogja kepada Tech in Asia.

“Kenapa memilih jadi bagian dari Agate? Aku pribadi cukup dekat dengan anak-anak Agate dari 2010, dan sangat menyenangkan berada di lingkungan mereka yang isinya anak-anak muda yang semangat dan positif.”

Sebagai sebuah studio game, Agate Jogja mengerjakan berbagai jenis game, baik game sebagai servis (outsource untuk perusahaan lain) ataupun mengembangkan properti intelektual sendiri. Meskipun memiliki anggota tim yang berbeda dan lebih kecil, Agate Jogja tetap menjalin hubungan yang erat dengan Agate.

“Lima tahun perjalanan Agate dan Agate Jogja, tim Agate Jogja lebih banyak berkolaborasi dengan tim sales dan marketing yang ada di Jakarta, (yaitu) Agate Level Up. Teman-teman di Agate Level Up kalau dapat klien yang cocok dengan profil Agate Jogja biasanya akan mengoper proyeknya ke kami. Di luar itu kami sangat independen dengan manajemen dan produksi game sendiri tanpa banyak campur tangan dari teman-teman di Agate,” jelas Ube.

Kuis-Tegar | screenshot

Kuis Tegar, sebuah game berisi kuis tebakan garing

Dengan porsi kerja yang terbagi antara game buatan sendiri dan proyek dari luar, pemasukan yang diterima Agate Jogja tetap lebih besar dari luar. “Kalau dihitung totalnya mungkin tujuh puluh persen pemasukan kami dari servis, hanya di tahun 2014-2015, ketika trilogi Kuis Geje sedang naik daun, pendapatan dari properti intelektual kami bisa menyaingi servis.”

Langkah baru

Lewat lima tahun setelah berdiri, pada hari Senin, 9 Januari 2017 Ube mengumumkan bahwa Agate Jogja resmi berhenti beroperasi. Penutupan ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu cepat.

“Secara garis besar keputusan menutup Agate Jogja ada dua tahap dengan alasan masing-masing, pertama pembubaran tim produksi di Juli 2016 dan akhirnya pemberhentian operasi di Januari 2017.”

Agate Jogja | Team Photo 2

Foto tim Agate Jogja

Di pertengahan 2016, pembubaran dilakukan dan hanya menyisakan Ube serta Estu sebagai bagian dari Agate Jogja. Menurut Ube, keputusan ini diambil karena mereka merasa tidak berhasil mengembangkan tim yang setelah empat tahun berjalan perkembangannya masih terasa stagnan, sesuatu yang dirasa juga terjadi karena dasar kemampuan kedua co-founder yang lebih kuat di produksi daripada manajemen.

Di akhir 2016, Ube dan Estu pergi merantau ke Bandung untuk mendiskusikan masa depan Agate Jogja. Keduanya ditawarkan untuk melanjutkan kerja di Agate sebagai bagian dari Agate utama. Namun melihat bagaimana Agate saat ini tengah dalam proses kencang untuk berkembang, Ube menilai membagi tim produksi ke tim yang terletak di dua kota hanya akan jadi hambatan.

… Aku merasa masih harus berkontribusi banyak buat komunitas di Jogja

“Kalau ditanya kok tidak pindah ke Bandung saja? Sebenarnya kalau mau pindah ke Bandung semua langsung beres sih tantangan yang di tahap dua itu, hahaha. Cuma balik lagi aku dan Estu memilih tetap di Jogja, Estu dengan alasan pribadinya dan aku merasa masih harus berkontribusi banyak buat komunitas di Jogja.

“Aku di industri game mulai tumbuh bersama komunitas, sayang saja kalau harus meninggalkan GameLan yang di dalamnya juga banyak teman-teman yang sedang berjuang. Dari pertimbangan-pertimbangan itu, akhirnya kami berdua memutuskan untuk mundur dari Agate sekaligus menutup Agate Jogja.”

Cukup disayangkan memang sebagai bagian penting dari sejarah industri game Indonesia, Agate Jogja harus tutup di usianya yang terbilang muda. Tapi ketika satu pintu tertutup, bukan tidak mungkin pintu lain akan terbuka lebih lebar ke depannya.

Agate Jogja | Unique Game Controller

Salah satu game dengan alat kontrol unik yang dikembangkan Agate Jogja

Ketika ditanya apa yang akan Ube dan Estu lakukan sekarang setelah ditutupnya Agate Jogja, ia pun menjawab dengan cukup simpel, “Kami start dari awal lagi bikin game bersama, sekarang sudah mulai produksi game pertama.”

Tutupnya Agate Jogja jelas bukan berarti habisnya sepak terjang dua orang ini di industri game Indonesia. Dengan pengalaman yang ada, kita bisa menantikan apa yang Ube dan Estu akan berikan, baik untuk para pemain ataupun untuk komunitas.

Lalu apa pelajaran paling berharga yang diambil Ube dari perjalanannya dengan Agate Jogja?

Multihat (satu orang berperan di berbagai bidang) bikin tidak fokus, hahaha. Aku lemah ketika harus membagi konsentrasi antara manajemen dan produksi, jadi ada baiknya punya partner fokus di bidang yang tidak kita kuasai,” tutup Ube.

The post Memulai Usaha dari Awal demi Komunitas, Kisah tentang Tutupnya Agate Jogja appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id