Matahari 'Lockdown' Bikin Bumi Gonjang-ganjing? - Uzone
home ×
Digilife

Matahari 'Lockdown' Bikin Bumi Gonjang-ganjing?

19 May 2020 By
Matahari 'Lockdown' Bikin Bumi Gonjang-ganjing?
Share
Share
Share

Ilustrasi (Foto: David Monje / Unsplash)


Uzone.id - Tak cuma manusia di Bumi yang menjalani lockdown demi terhindar dari penularan pandemi virus Corona (Covid-19).

Matahari juga ada masanya masuk periode 'lockdown'. Hal itu bisa saja menyebabkan iklim di bumi jadi dingin dan timbul gempa bumi sehingga terjadinya kelaparan, menurut para ilmuwan yang dilansir The Sun.

Matahari saat ini berada dalam periode minimum (Solar Minimum) yang berarti aktivitas di permukaan Mahatari turun secara dramatis.

Para ahli percaya Bumi akan masuk ke periode terdalam dari "resesi" yang pernah tercatat sebagai bintik Matahari (sun spot) telah menghilang.

BACA JUGA: Gandeng Ariel Tatum, Instagram Rilis #REALTALK untuk Memerangi Cyberbullying

Astronom Dr Tony Phillips mengatakan, "Solar Minumum sedang berlangsung, dan itu yang terdalam."

Dr Tony menambahkan, "Hitungan Sun Spot menunjukkan bahwa ini adalah salah satu yang terdalam abad ini. Medan magnet matahari menjadi lemah, memungkinkan sinar kosmik berlebih ke tata surya."

Kelebihan sinar kosmik ini bisa menimbulkan bahaya kesehatan bagi astronot hingga mempengaruhi elektro-kimia atmosfer atas bumi, dan bisa membantu memicu petir.

Para ilmuwan NASA khawatir hal ini bisa menjadi pengulangan Dalton Minimum, yang terjadi antara 1790 dan 1830, yang mengarah pada periode dingin yang ekstrem, kehilangan panen, kelaparan dan letusan gunung berapi yang kuat.

Suhu anjlok hingga 2 derajat Celcius lebih dari 20 tahun, telah menghancurkan produksi pangan dunia.

Gunung Tambora di Pulau Sumbawa juga meletus pada 10 April 1815. Letusan Gunung Tambora terbesar kedua setelah 2.000 tahun hingga menewaskan sedikitnya 71 ribu orang.

Letusan menyebabkan apa yang disebut Tahun Tanpa Musim Panas pada 1816. Periode ini juga mendapat julukan "eighteen hundred and frozen to death (delapan belas ribu dan beku sampai mati)", ketika salju turun di bulan Juli.

BACA JUGA: YouTube Hapus Video Pendukung Herd Immunity Garis Keras

Penjelasan LAPAN

LAPAN melalui postingan di akun Instagram @lapan_ri, juga menjelaskan tengang Matahari 'lockdown' yang berarti Matahari sedang memasuki fase di mana Matahari lebih sedikit atau tidak sama sekali membentuk bintik matahari.

Bintik Matahari adalah bintik hitam di permukaan Matahari yang menandakan adanya konsentrasi medan magnet yang kuat dan suhu yang lebih rendah dibandingkan daerah lain di sekitarnya.

Jika pada suatu periode tidak muncul satu pun bintik Matahari, berarti aktivitas di Matahari bisa dikatakan Solar Minimum.

"Namun, jika bintik Matahari muncul dalam jumlah yang cukup banyak, artinya Matahari sedang dalam keadaan aktif (Solar Maximum)," kata LAPAN.

Kemudian dijelaskan bahwa kemunculan bintik di Matahari bukan merupakan fenomena acak, melainkan memiliki pola yang teratur.

Jumlah dan lokasi kemunculan bintik Matahari mengikuti suatu siklus dengan periode sekitar sebelas tahun. Siklus ini dikenal sebagai siklus Matahari.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Lalu, apakah fase Solar Minimum berpotensi menimbulkan berbagai bencana, seperti gempa bumi, cuaca beku, dan kelaparan?

LAPAN menjawabnya "tidak".

Baik Solar Minimum maupun Solar Maximum adalah siklus aktivitas matahari yang sudah terjadi sejak lama.

Solar Minimum adalah fase minimum Matahari yang terjadi secara periodik setiap 11 tahunan dan tidak berdampak signifikan pada cuaca dan tidak terkait bencana. 

 

VIDEO Samsung Galaxy Tab S6 Lite Unboxing, Dapat Apa Aja?

 

 

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

1 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
Satria Kelana 20 May 2020 | 03:27:23

semoga tidak ada kejadian yang merugikan kita semua ya gaes mari berdoa bersama sana

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article