Mengenal Satelit Himawari-9, ‘Mata’ BMKG Pantau Erupsi hingga Karhutla
Himawari-9 jadi ‘mata’ BMKG dari angkasa. Satelit ini memantau sebaran abu vulkanik, karhutla, asap, hingga kondisi atmosfer Indonesia.

Ilustrasi Satelit Himawari-9. (Foto: NASA)
Uzone.id – Ketika Gunung Anak Krakatau kembali erupsi, perhatian biasanya tertuju pada gunung api dan kepulan abu yang keluar dari kawah. Namun, di balik pemantauan sebaran abu vulkanik hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ada teknologi satelit yang terus mengamati kondisi atmosfer dari angkasa. Salah satunya adalah Himawari-9.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap memanfaatkan Satelit Himawari-9 untuk memantau berabgai fenomena atmosfer di wilayah Indonesia. Menariknya, Himawari-9 bukan milik BMKG. Satelit ini dioperasikan oleh Japan Meteorological Agency (JMA).JMA sendiri mengoperasikan Himawari-9 sebagai satelit utama sejak 13 Desember 2022, menggantikan Himawari-8 yang kemudian menjadi satelit cadangan. Keduanya berada di orbit geostasioner sekitar 140,7 derajat bujur timur dan digunakan untuk mengamati kawasan Asia Timur serta Pasifik Barat.
Bukan Sekadar Foto dari Angkasa
Sekilas, citra satelit mungkin terlihat seperti foto biasa. Padahal, teknologi di balik Himawari-9 jauh lebih kompleks.
Dari penjelasan situs resmi BMKG, Satelit Himawari-9 membawa Advanced Himawari Imager (AHI), instrumen yang memiliki 16 kanal spektral. Kanal-kanal tersebut memungkinkan satelit mengamati berbagai panjang gelombang, mulai dari cahaya tampak hingga inframerah.
Dengan kemampuan tersebut, Himawari-9 dapat menghasilkan citra seluruh cakupan Bumi atau full-disk setiap 10 menit. Untuk wilayah tertentu, pengamatan dapat dilakukan dengan interval yang lebih singkat, termasuk setiap 2,5 menit pada area target berukuran 1.000 x 1.000 kilometer.
Kemampuan mengamati wilayah yang sama berulang kali dalam waktu singkat inilah yang membuat satelit geostasioner seperti Himawari-9 penting untuk pemantauan kejadian yang berubah cepat.
BMKG menyebut satelit cuaca geostasioner seperti Himawari-9 mampu memberikan citra berulang dari ketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan Bumi setiap 10 menit.
Data tersebut dimanfaatkan untuk mendeteksi perkembangan sistem badai dan pola awan, termasuk fenomena seperti abu vulkanik, kebakaran hutan, asap, dan aerosol.
Bagaimana Himawari-9 Memantau Erupsi?
Salah satu contoh paling aktual adalah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. BMKG menyebut analisis citra satelit Himawari-9 digunakan untuk memantau dinamika sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Berdasarkan citra Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong sebaran abu ke arah barat.
“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, dalam pernyataan resminya yang diunggah di situs resmi BMKG, Senin (7/9).
Pemantauan ini penting karena abu vulkanik bukan hanya persoalan di sekitar gunung. Ketika terbawa angin ke wilayah yang lebih luas, abu dapat mengganggu jarak pandang dan menjadi risiko serius bagi penerbangan.
Dalam kasus Anak Krakatau, BMKG bahkan melakukan pemantauan selama 24 jam dan menerbitkan informasi Significant Meteorological Information (SIGMET) untuk mendukung keselamatan penerbangan. Pada 7 September, BMKG mencatat sebaran abu vulkanik teramati hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer.
Jadi, fungsi satelit bukan sekadar “memotret” gunung yang sedang erupsi. Data dari satelit menjadi salah satu bahan untuk membaca bagaimana material vulkanik bergerak di atmosfer.
Dari Abu Vulkanik hingga Titik Panas Karhutla
Kemampuan yang sama juga digunakan untuk memantau potensi karhutla. BMKG memiliki produk bernama Himawari-9 Geohotspot.
Melalui produk tersebut, data suhu kecerahan dari kanal inframerah digunakan untuk melakukan penyaringan awan dan mengidentifikasi anomali suhu panas yang dapat menunjukkan potensi titik panas.
Citra RGB dari kanal visible dan near-infrared kemudian digunakan untuk membantu melihat sebaran asap. Artinya, satu citra bisa memberikan lebih dari sekadar gambaran visual permukaan.
Data inframerah membantu melihat anomali panas, sementara kombinasi kanal lainnya dapat membantu mengidentifikasi asap. BMKG kemudian mengolah informasi tersebut menjadi produk pemantauan yang bisa digunakan untuk melihat perkembangan kondisi karhutla.
Pada 25 Agustus 2026, misalnya, BMKG mencatat peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan berdasarkan pantauan Himawari-9.
Di Kalimantan Barat, jumlahnya meningkat dari 92 menjadi 140 titik, Kalimantan Tengah dari 113 menjadi 352 titik, dan Kalimantan Timur dari 30 menjadi 63 titik. Sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah.
Namun, penting dicatat bahwa Himawari-9 bukan satu-satunya satelit yang digunakan untuk memantau hotspot.
BMKG juga menggunakan data VIIRS dan MODIS dari satelit polar seperti NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua untuk mendeteksi titik panas. Jadi, pemantauan karhutla dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber data satelit dengan karakteristik yang berbeda.
Kenapa Pengamatan Setiap 10 Menit Penting?
Keunggulan utama Himawari-9 ada pada frekuensi pengamatannya. Satelit polar memang dapat memberikan data dengan resolusi spasial tertentu untuk mendeteksi hotspot, tetapi satelit tersebut tidak terus-menerus melihat lokasi yang sama.
Sebaliknya, satelit geostasioner seperti Himawari-9 berada pada posisi yang relatif tetap terhadap wilayah yang diamati sehingga bisa memberikan gambaran atmosfer secara berulang.
Dengan citra full-disk setiap 10 menit, perubahan awan, asap, pola atmosfer, hingga perkembangan fenomena tertentu dapat dipantau lebih sering. Untuk kejadian yang membutuhkan pemantauan lebih detail, JMA juga menyediakan pengamatan area target dengan interval hingga 2,5 menit.
Inilah yang membuat Himawari-9 menjadi salah satu “mata” penting bagi BMKG.
Bukan karena satelit tersebut milik BMKG, melainkan karena data yang dihasilkannya memberikan gambaran kondisi atmosfer secara luas dan berulang. Dari data itu, BMKG dapat mengolah berbagai produk untuk mendukung pemantauan cuaca, penerbangan, karhutla, hingga fenomena seperti abu vulkanik.

