icon-category Digilife

Mengenal Pentingnya Orkestrasi di Perusahaan untuk Olah Inovasi

  • 02 Oct 2022 WIB
  • Bagikan :
    Foto: Mimi Thian/Unsplash

    Kolom oleh VP Digital Business Strategy & Governance Telkom Indonesia, Riza A.N. Rukmana

    Uzone.id – Inovasi adalah salah satu cara terbaik untuk mempercepat laju perusahaan. Namun, bagaimana jika inovasi berjalan berlebihan dan tumpang tindih? Yang ada, langkah operasional perusahaan menjadi tidak efisien bahkan memberatkan.

    Ambil kasus saat divisi berbeda dari satu perusahaan meluncurkan produk yang mirip bahkan sama. Biasanya hal ini terjadi karena tiap divisi didorong untuk berinovasi. Benar saja, perusahaan memiliki banyak produk atau jasa, namun menjadi tumpang tindih dan tidak memiliki kapabilitas untuk menjadi besar.

    Ujungnya, strategi pricing dilakukan padahal produk atau jasa tersebut diluncurkan dari perusahaan—atau anak usahanya—yang sama. Kanibalisme pun tidak terhindarkan.

    Proses inovasi pun kadang menjadi tidak efisien dari sisi operasional. Misal, karena inovasi produk atau jasa dilakukan oleh divisi yang berbeda, pembelian material atau pemilihan vendor dilakukan sendiri-sendiri atau tidak melalui satu pintu.

    Baca juga: Sense of Ownership dalam Bekerja, Apa Manfaatnya?

    Kerap kali tiap divisi membangun infrastruktur dan layanan sendiri untuk mendukung inovasinya. Hal ini tentu membuat biaya yang dikeluarkan menjadi lebih mahal. Padahal ketika dijalankan melalui satu pintu, perusahaan akan memiliki daya tawar yang lebih baik karena berbicara kuantitas yang lebih besar.

    Hal seperti ini tentunya tidak dapat terus dibiarkan karena dapat menggerogoti kinerja perusahaan, baik secara tersadari atau tidak. Strategi orkestrasi atau pengelolaan perlu segera dilakukan, mulai dari dalam melalui sumber daya terkait manajemen, produk dan operasional, hingga ke luar melalui partnership.

    Orkestrasi internal
    Orkestrasi internal biasanya dimulai dari transformasi manajemen, khususnya untuk yang sifatnya sentralisasi diubah menjadi lebih koordinatif. Hal ini membuat sistem kerja menjadi lebih efisien karena tiap lini manajemen ibarat pemain musik yang bekerja secara bersama-sama dan saling mendukung, dengan dipimpin oleh CEO atau C-level sebagai konduktor.

    Perusahaan kemudian melakukan evaluasi inovasi dengan melihat efektivitas, harga, hingga value dari produk atau jasa yang mereka tawarkan. Lihat kinerjanya, apakah produk tersebut efektif dan sesuai dengan permintaan pasar atau tidak. Apabila komponen tersebut banyak yang tidak terpenuhi, maka produk tersebut perlu determinasi. Semuanya tentu dilakukan dengan menyesuaikan visi dan misi perusahaan.

    Setelah dilakukan pemetaan untuk inovasi produk atau jasa yang masih relevan, perusahaan kemudian dapat melakukan efisiensi operasional yang mendukung kinerja produk atau jasa tersebut. Misalnya dengan membangun satu infrastruktur dan layanan yang dapat dipergunakan secara bersama-sama, seperti layanan satu pusat penyimpanan data atau cloud dan over-the-top service (OTT).

    Di luar itu semua, strategi lain yang perlu dikembangkan adalah membangun kolaborasi yang saling menguntungkan, baik antar lini perusahaan, dengan sesama pemain industri maupun lintas industri, juga dengan mereka yang memiliki keahlian untuk pengembangan produk.

    Kolaborasi
    Donald L. Sull dari London Business School dan Alejandro Ruelas-Gossi dari School of Management in Miami, keduanya profesor, dalam artikel Business Strategy Review yang berjudul Strategic Orchestration menulis bahwa strategi orkestrasi yang mengarah kepada kolaborasi atau partnership dapat membantu perusahaan menghadapi berbagai tantangan dengan lebih baik—termasuk meraih pasar lebih cepat—serta segera beradaptasi dengan perubahan keadaan, hingga menurunkan biaya investasi.

    Melalui partnership, perusahaan tidak lagi hanya berfokus pada sumber daya yang dimilikinya, melainkan melihat peluang peningkatan nilai perusahaan melalui kerja sama dengan pihak lain.

    Hal ini juga merupakan sebuah bentuk efisiensi karena perusahaan bisa lebih berfokus pada keahliannya dan bekerja sama dengan pihak lain untuk hal-hal yang tidak dimilikinya. Maklum, sumber daya manusia sebuah perusahaan pastilah terbatas.

    Strategi ini telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Apple, Nestle, dan lainnya. Nestle misalnya, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai pemimpin pasar kopi instan dunia, bekerja sama dengan para petani kopi, pembuat mesin kopi, hingga high-end partner seperti Cathay Pacific dan Ritz-Carlton untuk menyajikan pengalaman luxury menikmati kopi melalui Nespresso.

    Baca juga: Tips Memulai Agile Management di Perusahaan

    Hal ini membuat Nestle dapat bertumbuh di luar dari core produknya. Melalui strategi itu, perusahaan fast-moving consumer goods (FMCG) terbesar di dunia ini bisa fokus pada kapabilitas yang dimilikinya: menghasilkan produk sebaik mungkin. Sedangkan untuk urusan distribusi atau hilir, mereka berkolaborasi dengan pemain lainnya.

    Sementara Apple mengembangkan sensasi customer experience melalui kerja sama dengan provider konten atau aplikasi dan pembuat aksesoris yang membuat customer dapat melengkapi produk Apple miliknya dengan aksesoris dan konten yang disukai.

    Hal ini sejalan dengan misi pendiri Apple, yakni mendiang Steve Jobs yang tidak hanya ingin membuat produknya menjadi gadget, melainkan membentuknya sebagai gaya hidup atau lifestyle.

    Apa yang dilakukan oleh Nestle dan Apple merupakan sebuah strategi orkestrasi inovasi yang solid dan efisien, terbukti dari keduanya yang terus menjadi pemimpin pasar di industrinya masing-masing hingga saat ini.

    Tidak mau terhanyut pada zona nyaman, mereka belajar bahwa agar perusahaan bisa tumbuh lebih besar lagi diperlukan sebuah orkestrasi internal dan eksternal, bukan hanya berinovasi.

    Hal ini tentu bisa ditiru oleh banyak perusahaan lain termasuk di Indonesia, untuk bisa memperkuat inovasi secara efisien sekaligus memajukan perusahaan. Walau inovasi—yang terkadang menjadi tuntutan di sejumlah perusahaan–adalah hal yang penting; diperlukan adanya sejumlah karakter bagi penciptanya: legowo, empati, serta memiliki visi dan misi yang sama.

    Pasalnya, inovasi yang berlebihan hanyalah menjadi akreditasi dan arogansi. Sedangkan inovasi berdasarkan visi dan misi bisa menghasilkan esensi, fungsi, dan implikasi.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini