Home
/
Digilife

Mengenal Teknologi Dry Ice yang Dipakai untuk Atasi Asap Karhutla

Mulai 15 Oktober 2026, Indonesia dan Thailand menguji teknologi dry ice di Sumatera Selatan untuk memecah inversi suhu agar asap Karhutla tersebar.

Mengenal Teknologi Dry Ice yang Dipakai untuk Atasi Asap Karhutla

Ilustrasi foto: Alex Gindin/Unsplash

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Indonesia, berkolaborasi dengan Thailand, akan menguji teknologi dry ice di Sumatera Selatan untuk mengurai asap Karhutla.
  • Uji coba pertama teknologi dry ice dijadwalkan pada 15 Oktober 2026, difokuskan pada lokasi prioritas seperti bandara dan lapangan udara TNI.
  • Dry ice adalah karbon dioksida padat bersuhu -78,5 derajat celsius yang bekerja dengan memecah inversi suhu, kondisi udara yang menjebak asap.
  • Teknik ini berbeda dari penyemaian awan karena tidak memerlukan awan dan tidak bertujuan menghasilkan hujan, melainkan mengurai asap untuk meningkatkan jarak pandang.

Uzone.id — Berbagai upaya kini dilakukan untuk memadamkan kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) yang masih terjadi di Kalimantan. Tak hanya itu, pemerintah kini juga mulai mencoba teknologi lain untuk mengurai asap akibat kebakaran hutan tersebut, yaitu melalui teknologi dry ice.

Teknologi ini baru akan diuji coba di wilayah Sumatera Selatan tepatnya di Palembang dengan tujuan untuk membantu mengurangi asap akibat dari kebakaran hutan. Saat ini, teknologi tersebut akan diutamakan di lokasi prioritas, seperti bandara dan lapangan udara TNI.

Pemilihan lokasi-lokasi prioritas ini adalah agar tim pemadam kebakaran dan pesawat untuk menyemaikan awan bisa kembali beroperasi memadamkan kebakaran hutan di wilayah-wilayah yang tercemar.

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, penggunaan teknologi dry ice atau es kering ini merupakan bagian dari kerjasama antara Indonesia dan Thailand.




“Kita bahagia karena Presiden sudah menginstruksikan adanya inovasi baru melalui kerja sama Indonesia dengan Thailand mengenai pengurai asap. Minimal, di tempat-tempat strategis seperti bandara dan lapangan udara TNI akan menggunakan teknologi dry ice,” ujar Herman Deru, dikutip dari Media Rakyat Sumatera, Rabu, (14/10).

Dalam keterangan yang dilansir dari Bloomberge News, Tri Handoko Seto, Wakil Kepala Bidang Modifikasi Cuaca di BMKG mengatakan kalau percobaan pertama akan dilakukan pada Kamis, 15 Oktober 2026. Teknik ini masih dalam tahap uji coba karena efektivitas teknik tersebut dalam mengatasi kabut asap kebakaran hutan di kondisi tropis masih belum terbukti sehingga butuh percobaan lebih lanjut.

Lantas apa itu teknologi dry ice yang akan digunakan untuk mengurai asap akibat kebakaran hutan (karhutla)?

Dry ice sendiri adalah karbon dioksida (CO2) yang memiliki bentuk padat. Berbeda dengan es biasa, dry ice ini tidak akan mencair di tekanan atmosfer normal. Alih-alih menjadi air, es kering akan berubah dari padat menjadi gas ketika berada di lokasi dengan suhu hangat.

Suhu dari dry ice ini bisa mencapai -78,5 derajat celsius dan dibuat dengan mendinginkan dan memadatkan karbon dioksida. Es kering ini dikenal karena efek dinginnya dan kemampuannya melepas gas karbon dioksida.

Nah, kehadiran CO2 ini bisa membantu menguraikan asap yang menumpuk di suatu wilayah dengan memecah inversi suhu, yaitu kondisi dimana udara hangat berada di atas udara yang lebih dingin dekat tanah.

Dalam kondisi ini, lapisan udara hangat bisa menghambat udara di bawahnya untuk naik ke atas, alhasil asap dari kebakaran pun ikut terjebak dan menumpuk di tanah. 

Nah, disinilah gunanya es kering/dry ice. Es kering yang punya suhu sangat dingin akan digunakan untuk ‘mengganggu’ lapisan udara yang menghambat tersebut. Kalau berhasil, asap yang ada dibawahnya diharapkan bisa lebih mudah menyebar dan terbawa angin.

Nah, teori inilah yang sedang dibuktikan oleh BMKG dan juga pemerintah Thailand untuk mengurai asap akibat kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah Kalimantan dan Sumatera.




Berbeda dengan penyemaian awan konvensional, metode es kering ini tidak perlu menunggu ada awan dan tidak bertujuan untuk menghasilkan curah hujan. Tapi, teknik ini tetap memperhatikan pola angin dan juga kondisi atmosfer lainnya untuk melihat apakah asap terurai atau tidak.

Sebagai catatan, penggunaan dry ice ini juga belum menjamin apakah asap akan langsung terurai dan berpindah dari wilayah terdampak atau membutuhkan waktu lagi.

Dry ice sendiri merupakan teknologi modifikasi cuaca yang sudah muncul semenjak tahun 1946 lalu. Penggunaan es kering atau karbon dioksida padat ini mulai digunakan setelah peneliti Amerika Serikat Vincent Schaefer menemukan bahwa es kering dapat memicu pembentukan es di dalam awan.

Militer AS kemudian melakukan percobaan dengan menjatuhkan es kering yang dihancurkan ke dalam badai pada tahun 1947, di tahun yang sama, para ilmuwan Australia juga menggunakan metode serupa untuk memicu turunnya hujan.

Sedangkan di Indonesia, teknik ini digunakan untuk mengurai asap yang mengganggu jarak pandang serta mengurai lapisan udara yang membuat asap kebakaran hutan terjebak di dekat permukaan tanah.

 

FAQ Artikel

Apa tujuan penggunaan teknologi dry ice dalam penanganan Karhutla?

Teknologi dry ice digunakan untuk membantu mengurangi dan mengurai asap akibat kebakaran hutan, terutama di lokasi prioritas seperti bandara dan lapangan udara TNI.

Di mana lokasi uji coba pertama teknologi dry ice ini?

Uji coba pertama teknologi dry ice akan dilakukan di wilayah Sumatera Selatan, tepatnya di Palembang.

Bagaimana cara kerja dry ice dalam mengurai asap kebakaran hutan?

Dry ice, atau karbon dioksida padat bersuhu sangat dingin, bekerja dengan memecah lapisan inversi suhu (udara hangat di atas udara dingin yang menjebak asap). Hal ini diharapkan memungkinkan asap menyebar dan terbawa angin.

Kapan percobaan pertama teknologi dry ice ini dijadwalkan?

Percobaan pertama teknologi dry ice dijadwalkan pada Kamis, 15 Oktober 2026, yang akan dilakukan oleh BMKG.

Apakah teknologi dry ice ini sama dengan penyemaian awan konvensional?

Tidak, teknologi dry ice berbeda. Metode ini tidak memerlukan keberadaan awan dan tidak bertujuan untuk menghasilkan curah hujan, melainkan untuk mengurai asap dengan memperhatikan pola angin dan kondisi atmosfer.

Vina Insyani

Vina Insyani

Jurnalis

Jurnalis yang berfokus untuk memantau tren viral di sekitar kalian serta mengulik isu yang ramai dibahas di ruang digital.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article