Home
/
ESG

Asap Karhutla Kalimantan Tembus Malaysia, Sekolah Ikut Online

Karhutla di Kalimantan meluas, menyebabkan emisi dan asap lintas negara. Kualitas udara buruk dan sekolah tutup, konsisten dengan pola El Niño.

Asap Karhutla Kalimantan Tembus Malaysia, Sekolah Ikut Online

Ilustrasi foto: Marcus Kauffman/Unsplash

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan masih meluas dan asapnya berdampak hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura.
  • Kementerian Kehutanan melaporkan ribuan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dan menengah.
  • Aktivitas kebakaran dan emisi berbahaya meningkat, konsisten dengan pola El Niño menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).
  • Dampak Karhutla menyebabkan kualitas udara sangat tidak sehat di beberapa wilayah, serta penutupan ribuan sekolah di Kalimantan dan Sarawak.

Uzone.id — Karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan tak hanya menghasilkan emisi yang meningkat, tetapi juga membuat asap menyebar hingga Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Hingga berita ini diturunkan, Jumat, (28/8), Kementerian Kehutanan melaporkan adanya 717 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) dan 12.696 hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah (medium confidence). 

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan ini tidak hanya menjadi perhatian warga negara Indonesia saja tapi juga negara-negara tetangga. Dampaknya pun semakin terasa hingga saat ini, bahkan disorot karena menyebabkan emisi yang berbahaya untuk iklim.

Sorotan Internasional: Emisi meningkat

Bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan ini disorot oleh Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), layanan pemantauan atmosfer European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk program observasi Bumi Uni Eropa Copernicus.

Menurut hasil pantauan mereka, aktivitas kebakaran di Indonesia pada musim kemarau tahun ini lebih kuat dibandingkan beberapa tahun terakhir. CAMS juga mengungkapkan bahwa emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional Indonesia turut mengalami peningkatan.





Mark Parrington, Senior Scientist ECMWF di CAMS, mengatakan perkembangan di Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan ini merupakan pola yang konsisten dari tahun-tahun El Niño sebelumnya.

"Untuk Indonesia, emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El Niño sebelumnya," kata Parrington.

Asap Meluas ke Negara Tetangga

Selain emisi dan asap yang meningkat, dampak dari kebakaran hutan ini juga berdampak ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Di Malaysia misalnya, tepat di Sri Aman, Sarawak, Air Pollutant Index Management System (APIMS) sempat mencatat kualitas udara hingga indeks 223 atau masuk kategori sangat tidak sehat, per 28 Agustus 2026.

Beberapa wilayah lain di Malaysia juga juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, yaitu Serian 182, Samarahan 168, Sarikei 166, dan Kuching 162.

Malaysia mengklasifikasikan indeks udara dengan poin 101-200 sebagai udara yang tidak sehat dan 201-300 sangat tidak sehat.

Di Singapura, otoritas setempat juga meningkatkan kewaspadaan serta mulai memberikan peringatan dini kepada warga terkait potensi memburuknya udara akibat arah angin.

Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) juga mengklaim terus memantau dengan cermat kualitas udara di Negeri Singa menyusul peningkatan aktivitas titik panas dan kabut asap selama akir pekan kemarin.

Sekolah di Kalimantan dan Malaysia Dialihkan

Aktivitas sehari-hari juga ikut terdampak akibat kebakaran hutan dan lahan ini, di Kalimantan, sedikitnya 3.500 lebih sekolah terpaksa mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi sistem online karena Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik di Kalimantan yang sempat mencapai angka sangat tinggi dan masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.

Beberapa universitas juga turut melakukan kuliah secara daring (online) sebagai imbas dari kebakaran. Di UIN Antasari, kuliah online diterapkan selama 2 minggu pertama, terhitung mulai tanggal 3–17 September 2026,” tegasnya, melalui surat edaran tertanggal 27 Agustus 2026.

Tak hanya di Kalimantan, sebanyak 591 sekolah di 10 distrik di Sarawak juga mengalami penutupan sementara dan memilih pembelajaran online (pembelajaran daring) akibat tebalnya kabut asap yang berasal dari Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan, Indonesia.

Upaya Penanganan Karhutla

Hingga saat ini, berbagai penanganan telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia termasuk dukungan dari negara lain seperti Malaysia, tindakan tersebut termasuk pemadaman darat, groundcheck, patroli, mopping up, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta penguatan pencegahan dan pemantauan di wilayah prioritas.

 

FAQ Artikel

Apa itu Karhutla yang terjadi di Kalimantan?

Karhutla adalah Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan, menyebabkan asap tebal dan emisi berbahaya. Kebakaran ini terus meluas dan dampaknya sangat signifikan.

Bagaimana Karhutla di Kalimantan berdampak pada negara tetangga?

Asap dari Karhutla melintasi batas negara hingga berdampak pada Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Malaysia, kualitas udara sempat mencapai kategori sangat tidak sehat (API 223), dan Singapura juga meningkatkan kewaspadaan.

Apa peran El Niño dalam peningkatan Karhutla kali ini?

Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), peningkatan aktivitas kebakaran dan emisi musiman di Indonesia pada musim kemarau tahun ini konsisten dengan pola tahun-tahun El Niño sebelumnya, yang biasanya memicu kondisi lebih kering dan rawan kebakaran.

Apa saja dampak Karhutla terhadap aktivitas sehari-hari?

Dampak Karhutla menyebabkan kualitas udara sangat buruk, bahkan mencapai tingkat berbahaya bagi kesehatan. Hal ini memicu penutupan ribuan sekolah di Kalimantan (sekitar 3.500 lebih) dan di Sarawak, Malaysia (591 sekolah), yang beralih ke sistem pembelajaran daring (online).

Upaya apa saja yang dilakukan untuk mengatasi Karhutla?

Pemerintah Indonesia, dengan dukungan negara lain seperti Malaysia, melakukan berbagai penanganan termasuk pemadaman darat, groundcheck, patroli, mopping up, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta penguatan pencegahan dan pemantauan di wilayah prioritas.

Vina Insyani

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article