Home
/
Automotive

Mobil-Motor Listrik Makin Banyak, Sanggupkah PLN Penuhi Kebutuhan?

Pemerintah dan PLN menghadapi tantangan besar pasokan listrik kendaraan listrik, sehingga perhitungan matang dan penambahan kapasitas daya PLN amat diperlukan.

Mobil-Motor Listrik Makin Banyak, Sanggupkah PLN Penuhi Kebutuhan?

Bagikan :

Highlight Artikel

Poin Penting

  • Kebutuhan listrik untuk kendaraan listrik di Indonesia menjadi tantangan besar mengingat total kendaraan bermotor mencapai 172,94 juta unit hingga akhir 2025.
  • Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menekankan pentingnya perhitungan konsumsi listrik, dengan asumsi 1.500 kWh/tahun untuk motor dan 2.000 kWh/tahun untuk mobil penumpang listrik.
  • Produksi listrik PLN sebesar 494 TWh per tahun (data 2025) perlu ditingkatkan secara signifikan, kemungkinan dengan pembangunan pembangkit listrik baru, untuk menopang elektrifikasi transportasi massal.
  • Pemerintah dan PLN wajib menyiapkan infrastruktur pengisian daya serta keandalan jaringan listrik untuk menghadapi lonjakan beban yang masif akibat peralihan ke kendaraan listrik.

Uzone.id - Tren penggunaan mobil dan motor listrik di Indonesia semakin banyak, tentu semua kendaraan itu membutuhkan pasokan energi listrik yang besar. Pertanyaannya, apakah PLN sanggup menyediakan pasokan energi listrik jika mobil dan motor listrik semakin ramai?

Mengalihkan seluruh kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik (EV) jelas bukan perkara mudah, pemerintah juga kudu memastikan pasokan daya tetap aman dan mampu mengimbangi kebutuhan pengisian energi yang melonjak pesat.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyoroti besarnya jumlah kendaraan yang beroperasi di Indonesia sebagai gambaran skala kebutuhan listrik apabila elektrifikasi transportasi berlangsung secara masif.



Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor di tanah air sudah tembus 172,94 juta unit hingga akhir 2025.

Angka raksasa tersebut mencakup seluruh moda transportasi darat, mulai dari sepeda motor, kendaraan roda tiga, mobil penumpang, kendaraan niaga, sampai kendaraan bernomor roda lebih banyak lagi.

“Kalau menurut data BPS itu ada 172,94 juta unit hingga akhir 2025. 172,94 juta unit itu dari motor, roda tiga, roda empat, dan roda lebih dari empat, semuanya jumlahnya 172 juta lebih,” kata Faisol di Periklindo Electric Vehicle Conference, dikutip oleh Uzone.id, Rabu (28/10).





Dengan jumlahnya yang fantastis, jika sebagian besar kendaraan tersebut mendadak hijrah menggunakan tenaga listrik, beban listrik nasional tentu bakal terkerek akibat rutinitas pengisian daya saban hari.

Faisol menjelaskan, jika mobil dan motor listrik semakin ramai, pemerintah perlu menghitung kebutuhan listrik berdasarkan konsumsi energi setiap kendaraan.

Perhitungan tersebut dapat menggunakan asumsi konsumsi listrik tahunan untuk sepeda motor maupun mobil penumpang, kemudian mengalikannya dengan jumlah kendaraan yang menjadi sasaran elektrifikasi.



“Kalau motor saja, satu motor 1.500 kWh per tahun, kalau kita kalikan dengan jumlah motor, maka akan berapa terawatt-hours yang kita butuhkan setiap tahun? Begitupun dengan EV, kalau misalnya kita kalikan satu kendaraan penumpang dengan 2.000 kWh, maka akan ada berapa terawatt-hour yang kita butuhkan untuk listrik?,” ucap Faisol.

Gambaran proyeksi kebutuhan daya dari sektor transportasi ini sangat bergantung pada kecepatan migrasi ke kendaraan listrik, total jarak tempuh, hingga tingkat pemakaian harian.

Pemerintah juga perlu memperhitungkan perbedaan konsumsi energi antara sepeda motor listrik, mobil penumpang, dan kendaraan komersial.





Tugas PLN dan pemerintah jelas tak cuma sebatas menghitung konsumsi energi belaka. Kesiapan infrastruktur pengisian daya dan keandalan jaringan listrik mutlak diperlukan agar kuat menahan lonjakan beban baru.

Sebagai tolok ukur, Faisol menyebutkan bahwa produksi listrik PLN mencapai sekitar 494 terawatt-hour (TWh) per tahun pada 2025. Angka baseline ini wajib dijadikan referensi utama dalam merumuskan skenario kebutuhan daya jangka panjang demi mendukung era elektrifikasi transportasi.

“PLN hari ini memproduksi kurang lebih 494 terawatt-hours per tahun seperti tahun 2025, kalau ditambah untuk kebutuhan kendaraan listrik, maka kita akan membutuhkan banyak sekali power plant baru, baik itu yang new energy maupun yang men-support yang sudah ada hari ini,” katanya.



Kondisi ini menegaskan bahwa strategi transisi ke ekosistem EV tidak boleh sekadar berfokus pada genjot penjualan unit atau penambahan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Faisol pun menekankan pentingnya peran PLN dalam mendukung proses transisi tersebut. Perusahaan listrik negara itu dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan pasokan energi dan infrastruktur yang diperlukan untuk menopang penggunaan kendaraan listrik dalam skala besar.

“Makanya di sini Pak Ketua Umum Periklindo, PLN menjadi penting sekali,” tutupnya.

FAQ Artikel

Apakah PLN mampu menyediakan pasokan listrik untuk kendaraan listrik yang semakin banyak?

Artikel ini membahas kekhawatiran tersebut. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyoroti skala kebutuhan listrik yang besar jika elektrifikasi transportasi terjadi secara masif, mengingat jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 172,94 juta unit hingga akhir 2025.

Bagaimana pemerintah menghitung kebutuhan listrik untuk kendaraan listrik?

Pemerintah perlu menghitung berdasarkan konsumsi energi setiap kendaraan, misalnya 1.500 kWh per tahun untuk sepeda motor dan 2.000 kWh per tahun untuk mobil penumpang, lalu mengalikannya dengan jumlah kendaraan yang akan dietrifikasi.

Berapa produksi listrik PLN saat ini dan apakah cukup untuk kebutuhan kendaraan listrik?

Produksi listrik PLN mencapai sekitar 494 terawatt-hour (TWh) per tahun pada tahun 2025. Jika ditambah untuk kebutuhan kendaraan listrik, akan dibutuhkan banyak sekali pembangkit listrik baru untuk memenuhi lonjakan beban daya yang masif.

Apa peran PLN dalam mendukung transisi ke kendaraan listrik?

PLN memiliki posisi strategis dan peran penting dalam menyiapkan pasokan energi dan infrastruktur yang diperlukan untuk menopang penggunaan kendaraan listrik dalam skala besar, termasuk keandalan jaringan listrik dan infrastruktur pengisian daya.

Brian Priambudi

Brian Priambudi

Jurnalis

Berpengalaman dalam review mobil dan motor.  Pengalaman menjadi jurnalis otomotif sejak 2018.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article