Mobil Nasional RI Masih Dirumuskan, Proyek i2C Sudah Ngebut
Tidak hanya motor listrik nasional (MoLiNas), pemerintah juga sedang memasak proyek mobil nasional yang berkolaborasi dengan Indigenous Indonesian Car (i2C).

Uzone.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmennya untuk terus mendukung inisiatif pengembangan mobil nasional yang saat ini sedang dalam tahap perumusan oleh pemerintah.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan bahwa peran Kemenperin saat ini berfokus pada pemberian dukungan dalam proses penyusunan program tersebut.Sementara wewenang penuh mengenai perumusan kebijakan hingga penerbitan roadmap berada di tangan kementerian dan lembaga terkait lainnya.
"Untuk pengembangan mobil nasional, kami dapat laporkan bahwa kami terus-menerus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk Danantara," ujar Agus dalam rapat kerja bersama DPR yang disiarkan secara online, dikutip Uzone.id.
Koordinasi intensif ini dilakukan karena Kemenperin memegang mandat untuk memastikan kelancaran dukungan teknis bagi proyek mobil nasional tersebut.
Salah satu proyek yang digadang-gadang sebagai cikal bakal mobil nasional adalah Indigenous Indonesian Car (i2C).
Proyek mobil listrik ini dikelola oleh PT Teknologi Militer Indonesia (TMI). Setelah pertama kali diperkenalkan dalam wujud clay model pada ajang GIIAS 2025, pengembangan proyek ini kini telah memasuki fase teknis yang lebih mendalam.
Saat ini TMI sedang fokus menyempurnakan desain sekaligus merancang skateboard atau sasis kendaraan. Langkah ini merupakan persiapan krusial sebelum masuk ke tahap pembuatan show car dan prototipe awal.
Progres pengembangan i2C ini juga sempat dipaparkan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara Pengarahan di Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) yang berlangsung di ITB pada 7 Agustus 2025 lalu.
Terkait strategi produksi, TMI mengambil langkah pragmatis agar tidak harus menanggung investasi besar di awal.
Alih-alih membangun pabrik baru, perusahaan memutuskan untuk memanfaatkan fasilitas manufaktur yang sudah tersedia di Indonesia.
Strategi kolaborasi ini dinilai sangat efisien karena fasilitas yang tersedia saat ini dianggap cukup mumpuni untuk mendukung proses produksi i2C di tahap awal.
