
Uzone.id — Sebuah laporan terbaru dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) mengungkap temuan baru terkait data center AI yang saat ini terus dibangun.
Dalam temuan tersebut, peneliti PBB memperingatkan bahwa konsumsi air yang dibutuhkan untuk mendukung operasional AI bisa setara dengan kebutuhan dasar 1,3 miliar orang pada tahun 2030 nanti.Jejak air (water footprint) dari pusat data AI juga diproyeksikan setara dengan kebutuhan air domestik dasar seluruh penduduk Afrika Sub Sahara selama satu tahun.
Laporan tersebut menyoroti bahwa dampak lingkungan AI selama ini lebih sering diukur dari sisi emisi karbon. Tapi ternyata, operasional data center yang menjadi tulang punggung teknologi AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar.
Kebutuhan ini digunakan untuk proses pendinginan serta lahan yang luas untuk pembangunan infrastruktur pendukungnya. Gak cuma menghabiskan air dalam jumlah besar, konsumsi listrik data center AI secara global diperkirakan mencapai 945 terawatt-jam (TWh) pada 2030.
Angka tersebut hampir 2 kali lipat dari penggunaan listrik Jepang dan tiga kali lipat dari total konsumsi listrik tahunan Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria yang secara gabungan dihuni lebih dari 650 juta penduduk.
Sementara itu, jejak lahannya diperkirakan melampaui 5.590 mil persegi atau sekitar dua kali luas wilayah metropolitan Jakarta.
Sepanjang 2025 kemarin, data center di seluruh dunia diperkirakan telah mengkonsumsi sekitar 448 TWh listrik, melampaui konsumsi energi tahunan Arab Saudi. Sementara di Irlandia, pusat data menyumbang sekitar 21 persen konsumsi listrik nasional pada 2023, bahkan melebihi penggunaan listrik rumah tangga di kawasan perkotaan.
Dampak penggunaan energi yang besar ini mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk mendorong operator jaringan listrik nasional menunda persetujuan pembangunan pusat data baru di sekitar Dublin hingga 2028.
Kekhawatiran serupa muncul terkait penggunaan air. Data center berukuran besar dapat menggunakan hingga lima juta galon air per hari untuk menjaga suhu server tetap stabil. Di wilayah yang sudah menghadapi krisis air, kebutuhan tersebut berpotensi memperburuk tekanan terhadap sumber daya yang tersedia.
Salah satu contohnya adalah Querétaro di Meksiko yang menghadapi kekhawatiran atas pembangunan pusat data baru di tengah kondisi kekeringan berkepanjangan. Situasi serupa juga terjadi di Uruguay ketika rencana pembangunan pusat data yang membutuhkan banyak air menuai kritik saat negara itu mengalami krisis pasokan air bersih pada 2023.
Selain persoalan lingkungan, laporan ini juga menyoroti potensi meningkatnya kesenjangan digital global. Hingga 2025, hanya 32 negara yang memiliki pusat data khusus AI, dengan sekitar 90 persen kapasitas terkonsentrasi di Amerika Serikat dan China.