Pemerintah Ambisi BBM E50, Padahal E10 Baru Bisa Terwujud di 2027
Penerapan BBM E10 di Indonesia mulai 2027 sebagai transisi E50, mensyaratkan peningkatan produksi tebu, singkong, dan jagung domestik tanpa mengganggu pangan.

Highlight Artikel
- Penerapan BBM E10 (campuran etanol 10%) diperkirakan baru terealisasi pada 2027, bukan 2026, karena kesiapan ekosistem dan pasokan bahan baku bioetanol.
- E10 menjadi langkah awal menuju target ambisius pemerintah E50, yang bertujuan mengurangi ketergantungan impor BBM dan memanfaatkan produksi dalam negeri.
- Kunci keberhasilan peningkatan persentase etanol adalah mendongkrak produksi bahan baku seperti tebu, singkong, dan jagung tanpa mengganggu ketahanan pangan nasional.
- Pemerintah disarankan menerapkan campuran etanol secara bertahap, misalnya E10 di 2027 lalu E20 di 2028, sambil terus memperkuat produksi bahan baku lokal.
Uzone.id - Penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol 10 persen alias E10 diperkirakan baru bisa mulai terealisasi pada 2027 mendatang. Penerapan BBM E10 dinilai penting sebelum mencapai ambisi pemerintah di E50.
Pakar energi dari Universitas Indonesia (UI), Ali Ahmudi Achyak, menyampaikan bahwa langkah ini bisa menjadi batu loncatan awal bagi pemerintah sebelum akhirnya menambah porsi etanol secara bertahap sampai menyentuh angka E50.Menurut Ali, kalau mau dipaksakan berjalan di 2026, target E10 masih belum realistis. Pasalnya, kesiapan ekosistem bioetanol dan pasokan bahan bakunya masih butuh banyak pembenahan.
Meski begitu, peluang di tahun 2027 tergolong cukup terbuka lebar mengingat saat ini BBM beretanol 5 persen (E5) sudah mulai beredar di pasaran.
“Kalau 2026 ini belum bisa diterapkan E10, tetapi 2027 bisa diterapkan E10. Karena sekarang sudah ada yang etanolnya 5 persen, E5,” ucap Ali seperti dikutip dari Antara.
Di sisi lain, Ali menekankan bahwa kunci utama untuk menaikkan persentase etanol dalam BBM adalah dengan mendongkrak produksi bahan baku dasarnya. Agar kebutuhan tersebut terpenuhi, beberapa komoditas potensial seperti tebu, singkong, hingga jagung perlu digenjot pengembangannya oleh pemerintah.
Penerapan E10 hingga E50 sendiri sejatinya selaras dengan misi besar pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi. Kesuksesan program biodiesel B50 sebelumnya pun sempat dijadikan acuan bahwa pengembangan biofuel jenis lain, termasuk bioetanol, sangat mungkin untuk didorong lebih jauh.
Kendati demikian, Ali memberi catatan penting bahwa sifat bahan baku bioetanol tidak bisa disamakan dengan biodiesel. Jika biodiesel bertumpu pada minyak kelapa sawit, produksi bioetanol bakal mengandalkan tebu, singkong, dan jagung, tiga komoditas yang juga memegang peranan krusial dalam ketersediaan pangan nasional.
Sebut saja tebu yang menjadi pilar utama industri gula, serta jagung yang tak cuma buat bahan makanan tetapi juga krusial bagi industri pakan ternak. Oleh sebab itu, lonjakan permintaan bahan baku untuk bioetanol harus diimbangi dengan strategi peningkatan hasil panen agar stok pangan masyarakat tidak terganggu.
Ali menggarisbawahi pentingnya peran pemerintah dalam merancang ekosistem yang seimbang antara sektor energi dan ketahanan pangan sebelum melangkah lebih jauh menaikkan kadar etanol. “Harus disiapkan ekosistemnya dulu, supaya tidak mengganggu ketahanan pangan,” ucap Ali.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar implementasi campuran etanol ini dijalankan secara bertahap saja. Begitu program E10 berhasil meluncur di 2027, pemerintah bisa melanjutkannya ke level E20 pada 2028 mendatangkan, berbarengan dengan penguatan produksi tebu, singkong, serta jagung di hilir.
Secara kalkulasi, Ali memperkirakan tanaman tebu membutuhkan durasi kurang lebih sembilan bulan dari masa tanam hingga siap dipanen. Rentang waktu inilah yang mesti masuk dalam pertimbangan matang saat pemerintah menetapkan roadmap peningkatan porsi etanol tersebut.
“Jadi, nanti 2027 bisa diterapkan E10, kemudian nanti 2028 baru nambah 10 persen lagi. Harapannya, tebunya sudah panen, singkongnya sudah panen, jagungnya panen,” kata Ali.
Dalam jangka panjang, target pemerintah memang cukup ambisius dengan mengincar implementasi E50 alias BBM campuran 50 persen etanol.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menyampaikan bahwa penerapan E50 berpotensi menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM secara signifikan.
Meski targetnya tinggi, pemerintah berkomitmen tidak ingin bergantung pada impor etanol dari luar negeri. Bahlil menegaskan bahwa pasokan etanol untuk kebutuhan E50 sepenuhnya harus mengandalkan hasil produksi dari dalam negeri sendiri.
“Kami tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50 tetapi etanolnya diimpor dari luar. Sama saja itu. Kami ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri,” sebut Bahlil.
Langkah bertahap ini pun dipilih agar kapasitas produksi bahan baku lokal bisa dibangun secara matang. Dengan begitu, pemanfaatan bioetanol tidak hanya memperkuat kemandirian energi nasional, tetapi juga tetap menjaga kestabilan ketersediaan pangan bagi masyarakat.
FAQ Artikel
Kapan BBM E10 diperkirakan akan mulai diterapkan di Indonesia?
BBM E10 diperkirakan baru bisa mulai terealisasi pada tahun 2027. Penerapan E10 di tahun 2026 dinilai belum realistis karena kesiapan ekosistem bioetanol dan pasokan bahan bakunya masih membutuhkan banyak pembenahan.
Mengapa penerapan E10 dianggap penting bagi pemerintah?
Penerapan E10 dinilai penting sebagai batu loncatan awal sebelum mencapai ambisi pemerintah di E50. Ini selaras dengan misi besar pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi dan berpotensi menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM secara signifikan.
Apa tantangan utama dalam meningkatkan persentase etanol dalam BBM?
Tantangan utamanya adalah mendongkrak produksi bahan baku dasar seperti tebu, singkong, dan jagung. Komoditas ini juga memegang peranan krusial dalam ketersediaan pangan nasional, sehingga peningkatan permintaan untuk bioetanol harus diimbangi dengan strategi peningkatan hasil panen agar stok pangan masyarakat tidak terganggu.
Apakah Indonesia akan mengimpor etanol untuk program ini?
Tidak. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tidak bergantung pada impor etanol dari luar negeri. Pasokan etanol untuk kebutuhan E50 sepenuhnya harus mengandalkan hasil produksi dari dalam negeri sendiri.
Brian Priambudi
Jurnalis

