Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun di Q3 2026, Tumbuh 3,5 Persen
Hingga Kuartal III 2026, Telkom membukukan pendapatan Rp113,5 triliun dan laba bersih Rp14,4 triliun, didukung ekosistem digital dan transformasi TLKM 30.

Highlight Artikel
- Pendapatan konsolidasi Telkom mencapai Rp113,5 triliun hingga Kuartal III 2026, naik 3,5% YoY.
- Laba bersih perseroan tercatat Rp14,4 triliun (normalisasi Rp16,5 triliun), tumbuh 3,9% YoY.
- Pertumbuhan signifikan ditopang oleh bisnis Data, Internet & IT Services (naik 8,3%), serta bisnis data center NeutraDC (naik 17%).
- Telkom terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30, termasuk penataan 14 entitas dan pemisahan aset wholesale fiber ke InfraNexia.
Uzone.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mencatatkan pertumbuhan kinerja sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Di tengah dinamika industri telekomunikasi dan persaingan bisnis digital, Telkom berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026.
Pendapatan tersebut meningkat 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Pertumbuhan ini salah satunya ditopang oleh bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatatkan kenaikan 8,3 persen YoY menjadi Rp71,5 triliun.
Dari sisi profitabilitas, Telkom membukukan EBITDA sebesar Rp55,5 triliun atau tumbuh 2 persen YoY. Margin EBITDA tercatat sebesar 48,9 persen.
Sementara itu, laba bersih perseroan mencapai Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen. Jika menggunakan perhitungan laba bersih normalisasi, angkanya mencapai Rp16,5 triliun atau meningkat 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perusahaan terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30. Fokusnya adalah memperkuat bisnis inti sekaligus membangun fundamental perusahaan untuk menghadapi perkembangan industri digital.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal," ungkap Nanang dalam keterangan yang diterima Uzone.
Ia melanjutkan, "tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan."
Bisnis Seluler dan Internet Rumah Masih Jadi Penopang
Dari empat segmen bisnis utama yang dijalankan TelkomGroup, segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband membukukan pendapatan sebesar Rp81,6 triliun, tumbuh 3,5 persen YoY.
Di bisnis seluler, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun atau meningkat 1,8 persen YoY. Pertumbuhan ini terutama ditopang bisnis digital yang naik 7,7 persen menjadi Rp60,7 triliun.
Menariknya, rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) seluler Telkomsel juga mengalami peningkatan. Hingga kuartal III 2026, ARPU tumbuh 7,1 persen YoY menjadi Rp45.400. Sementara itu, data yield atau pendapatan yang diperoleh dari setiap unit konsumsi data meningkat 6,5 persen.
Kenaikan tersebut sejalan dengan strategi Telkomsel dalam mengoptimalkan nilai pelanggan, menyederhanakan produk, serta memperkuat monetisasi layanan seluler. Perusahaan juga melihat adanya pergeseran pola konsumsi pelanggan menuju layanan digital.
Sementara itu, bisnis internet rumah IndiHome mencatatkan pendapatan sebesar Rp19,1 triliun. Meski perusahaan masih melakukan penataan basis pelanggan, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan secara kuartalan.
Jumlah pelanggan IndiHome pada kuartal III 2026 meningkat 1,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU juga naik 3,2 persen secara kuartalan menjadi Rp217.700.
Bisnis Data Center Tumbuh 17 Persen
Selain layanan seluler dan internet rumah, bisnis infrastruktur digital juga menjadi salah satu area yang terus dikembangkan TelkomGroup.
Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan eksternal tumbuh 5,5 persen YoY menjadi Rp7,1 triliun. Pertumbuhan ini didukung layanan data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur.
Salah satu bisnis yang mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi adalah NeutraDC. Perusahaan penyedia layanan data center tersebut membukukan pendapatan Rp1,39 triliun hingga September 2026, meningkat 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tidak hanya pendapatan, EBITDA NeutraDC juga tumbuh 35 persen YoY dengan margin mencapai 40,9 persen.
Kinerja tersebut didukung kontribusi fasilitas data center di Singapura dan Cikarang, seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan serta komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui layanan Neutra Compute.
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). Target tersebut disiapkan untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan pasar terhadap layanan pusat data.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, TelkomGroup juga tengah menjajaki kemitraan strategis yang diharapkan bisa memperkuat kapabilitas teknis, akses pasar, hingga pendanaan.
Di sisi lain, Mitratel mencatatkan pendapatan dari bisnis menara telekomunikasi dan fiber to the tower (FTTT) sebesar Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8 persen YoY. Perusahaan membukukan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun.
Segmen B2B dan Internasional Ikut Tumbuh
Pertumbuhan juga datang dari segmen B2B ICT yang mencatatkan pendapatan Rp11,2 triliun, meningkat 3,1 persen YoY.
Bisnis usaha kecil dan menengah (Small Medium Enterprises/SME) menjadi salah satu penggerak utama dengan pendapatan Rp3,3 triliun atau tumbuh 10,2 persen YoY.
Kinerja tersebut didukung pertumbuhan pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen menjadi 771,1 ribu pelanggan. Sementara itu, bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution tumbuh 6,2 persen.
Adapun segmen International membukukan pendapatan Rp8,9 triliun atau meningkat 5,8 persen YoY. Salah satu pendorongnya adalah pendapatan jaringan yang melonjak 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun.
TelkomGroup juga terus memperkuat konektivitas internasional melalui pengembangan jaringan kabel laut. Salah satunya proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026, serta proyek INSICA yang ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pengembangan tersebut turut memperkuat posisi Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” imbuh Nanang.
Sudah Tata 14 Entitas Lewat TLKM 30
Di tengah upaya mendorong pertumbuhan bisnis, TelkomGroup juga terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30. Program ini memiliki empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Salah satu fokus utamanya tahun ini adalah streamlining atau penataan portofolio perusahaan agar struktur bisnis TelkomGroup menjadi lebih sederhana dan efisien.
Hingga kuartal III 2026, Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas. Rinciannya, tiga entitas didivestasi, sembilan entitas ditutup, dan dua entitas digabungkan.
Telkom juga merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen. Sebanyak 94,3 persen dari belanja modal tersebut dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure.
Selain penataan entitas, salah satu langkah penting dalam transformasi Telkom adalah penyelesaian pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui langkah tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan menggunakan model bisnis carrier-neutral dan open-access.
Model ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kerja sama dengan berbagai mitra strategis.
Nanang mengatakan penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi bagian penting untuk membangun organisasi yang lebih ramping dan adaptif.
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan," tutupnya.
Dengan pertumbuhan pendapatan yang masih terjaga dan transformasi bisnis yang terus berjalan, Telkom optimistis dapat menutup 2026 dengan kinerja yang lebih solid. Perusahaan juga menyatakan akan terus meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan di tengah kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas dan layanan digital yang semakin besar.
FAQ Artikel
Berapa pendapatan konsolidasi Telkom hingga Kuartal III 2026?
Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga Kuartal III 2026, meningkat 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bisnis apa saja yang menopang pertumbuhan Telkom?
Pertumbuhan Telkom ditopang oleh bisnis Data, Internet & IT Services, segmen B2C (layanan mobile dan fixed broadband), bisnis data center NeutraDC, segmen B2B ICT, dan segmen International.
Apa itu strategi TLKM 30 yang dijalankan Telkom?
TLKM 30 adalah strategi transformasi TelkomGroup dengan empat pilar utama: Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift. Fokus utamanya adalah memperkuat bisnis inti dan membangun fundamental perusahaan untuk menghadapi perkembangan industri digital.
Apa peran InfraNexia dalam transformasi Telkom?
InfraNexia adalah entitas yang mengkonsolidasikan lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup. Tujuannya adalah mengembangkan infrastruktur wholesale fiber connectivity dengan model bisnis carrier-neutral dan open-access untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan membuka peluang komersialisasi.
Hani Nur Fajrina
Jurnalis



