Digilife

Pengguna Baru Uang Elektronik di Indonesia Capai 13 Persen

  • 15 October 2021
  • Bagikan :

     

    Uzone.id - Adopsi uang elektronik (e-wallet) dan mobile banking semakin meningkat di Indonesia. Walaupun saat ini baru mencapai 13 persen pengguna dari total populasi penduduk namun angka ini dinilai meningkat, apalagi selama pandemi ini. Bahkan peningkatan ini juga terjadi di Asia Pasifik.

    Hal ini terungkap dalam penelitian Kaspersky bertajuk Mapping a Secure Path for the Future of Digital Payments in APAC. penelitian ini mempelajari interaksi pengguna lokal dengan pembayaran online yang tersedia di Asia Pasifik dan mengobservasi sikap mereka terhadap kepraktisan tersebut, ini nanti akan menjadi pemegang kunci untuk memahami faktor-faktor selanjutnya apakah adopsi teknologi ini semakin berkembang atau mengalami kemunduran.

    Baca juga: Hati-hati Trojan Pencuri Akun Game

    Salah satu temuan utamanya menunjukkan bahwa sebagian besar (90 persen) responden Asia telah menggunakan aplikasi pembayaran seluler setidaknya sekali dalam 12 bulan terakhir. Hampir 2 dari 10 (15 persen) di antaranya baru memulai menggunakan platform ini setelah pandemi.

    Filipina mencatat persentase pengadopsi uang elektronik (e-cash) baru tertinggi sebesar 37 persen, diikuti oleh India (23 persen), Australia (15 persen), Vietnam (14 persen), Indonesia (13 persen), dan Thailand (13 persen). Sedangkan terendah adalah China (5 persen), Korea Selatan (9 persen), dan Malaysia (9 persen).

    China dan Korea Selatan ditemukan sebagai wilayah dengan sedikit pengguna baru e-wallet. Hal ini dikarenakan hampir semua warganya telah menggunakan uang elektronik bahkan sebelum pandemi muncul. Hadirnya Alipay dan WeChat Pay telah menyebabkan adopsi massal yang signifikan dan menjadi contoh bagi negara-negara Asia lainnya.

    Data dari penelitian terbaru Kaspersky ini menunjukkan bahwa uang tunai masih menjadi raja, setidaknya untuk saat ini, di Asia Pasifik dengan 70 persen responden masih menggunakan catatan fisik untuk transaksi sehari-hari. Namun, pembayaran mobile dan aplikasi mobile banking tidak jauh tertinggal dengan 58 persen dan 52 persen pengguna menggunakan platform ini setidaknya sekali seminggu hingga lebih dari sekali sehari untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan keuangan mereka.

    Baca juga: 10 Film dan Serial Netflix yang Paling Populer 2021

    "Dari statistik tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa pandemi telah memicu lebih banyak orang untuk terjun ke ekonomi digital, yang dapat sepenuhnya menurunkan penggunaan uang tunai di kawasan ini dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” kata Chris Connell, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

    Yang menarik, lebih dari setengah responden survei mencatat bahwa mereka mulai menggunakan metode pembayaran digital selama pandemi karena lebih aman dan nyaman daripada melakukan transaksi tatap muka. Sebanyak 45 persen pengguna mengaku melakukan pembayaran sembari mematuhi aturan jarak sosial. Selain itu 36 persen dari mereka juga menyebut jika ini adalah satu-satunya cara mereka dapat melakukan transaksi moneter selama lockdown.