
Uzone.id —
Perkembangan AI yang pesat saat ini turut meningkatkan ancaman penipuan di
internet. Salah satu yang marak ditemukan adalah video deepfake yang
sering kali memalsukan wajah maupun suara seseorang.
“Sekarang suara kita bisa ditiru, gambar wajah kita bisa ditiru, dan tampil dalam bentuk deepfake video yang dihasilkan oleh AI dengan sangat mulus,” ujarnya dalam acara Indonesia Ethical AI Summit, dikutip Kamis, (18/06).
Ia mengungkap bahwa penjahat siber seringkali memanfaatkan
teknologi ini untuk menipu masyarakat dan memeras data pribadi hingga harta
mereka. Bahkan, kerugian yang tercatat sudah mencapai triliunan rupiah akibat
modus penipuan ini.
“Kita melihat bagaimana AI digunakan oleh pelaku kejahatan
siber untuk berbagai bentuk penipuan atau scam. Kerugian yang dicatat oleh OJK
pada tahun ini sekitar Rp9 triliun, dan banyak diantaranya yang menggunakan
deepfake,” ujarnya lagi, dikutip dari berbagai sumber.
Saat ini, penipuan konten berbasis AI semakin berkembang hingga berada di level synthetic reality atau realitas sintetis, dimana masyarakat semakin sulit membedakan antara konten asli dan hasil rekayasa.
"Awamnya masyarakat kita tentang perkembangan AI ini
membuat banyak yang terkecoh. Itu sebabnya scam saat ini luar biasa,"
tambah Nezar.
Untuk mengurangi kasus scam dan menekan angka kerugian yang
disebabkan oleh pemanfaatan AI yang tidak bertanggung jawab, Nezar menilai
pengembang perlu menerapkan prinsip ethics by design dengan menghadirkan
transparansi, akuntabilitas, dan keamanan sejak tahap perencanaan hingga
pengembangan produk AI.
"Transparency, accountability, safety, itu harus
hadir di dalam implementasi, di dalam pengembangan satu produk AI,"
tegasnya.
Nezar pun mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku
industri, akademisi, dan komunitas AI untuk memperkuat tata kelola serta
mitigasi risiko sejak awal pengembangan teknologi.