icon-category Digilife

Raksasa Teknologi Global yang Kena Krisis, dari Netflix Sampai Meta

  • 21 Jun 2022 WIB
  • Bagikan :
    Ilustrasi foto: Scott Graham @homajob/Unsplash

    Uzone.id - Krisis ekonomi global yang saat ini sedang hangat dibicarakan menambah adanya kemungkinan badai PHK karyawan yang makin besar. Di saat beberapa startup dan perusahaan teknologi melakukan pemutusan kontrak, startup lain mengurangi perekrutan karyawan baru.

    Dunia kabarnya sedang mendekati jurang krisis akibat adanya stagflasi. Stagflasi merupakan kondisi dimana ekonomi tak bertumbuh (stagnan) sedangkan di saat yang bersamaan terjadi inflasi.

    Salah satu pendorongnya adalah situasi geopolitik Rusia ke Ukraina yang tak hanya menimbulkan korban manusia namun juga memberi pengaruh pada ekonomi global. 

    Menurut laporan Bank Dunia, ekonomi global diramalkan melambat menjadi 2,9 persen di tahun 2022, lebih rendah dari prediksi 4,1 persen di bulan Januari lalu. Prediksi ini jauh melambat dari tahun 2021 lalu dimana ekonomi global bertumbuh sebanyak 5,7 persen.

    Melihat kondisi ini, beberapa raksasa teknologi dunia pun memutar otak untuk mempertahankan bisnis mereka. Berikut beberapa perusahaan teknologi yang terkena dampak krisis ekonomi dunia.

    Netflix

    Di paruh awal tahun 2022, Netflix mengalami penurunan hingga 200 ribu pengguna. Bahkan, perusahaan ini memprediksi bakal kehilangan 2 juta user di akhir Q2 mendatang.

    Hal ini didorong beberapa hal, termasuk kompetisi yang semakin sengit di pasar streaming konten dan kebijakan password-sharing yang dimonetisasi.

    Faktor yang lebih besar juga menjadi penyebab dari hilangnya pelanggan Netflix, seperti pertumbuhan ekonomi yang lamban, peningkatan inflasi, hingga peristiwa geopolitik seperti invasi Rusia ke Ukraina dan disrupsi dari pandemi Covid-19.

    Mencoba keluar dari krisis, Netflix menjadi salah satu raksasa teknologi yang melakukan pemangkasan jumlah karyawan. Sekitar satu bulan setelah kehilangan 200 ribu penggunanya, Netflix memberhentikan sekitar 150 staf karena penurunan pendapatan perusahaan. 

    Baca juga: Jawaban Elon Musk Soal PHK Bikin Karyawan Twitter Galau

    Beberapa departemen yang kena getah anjloknya pelanggan ini adalah departemen perekrutan, komunikasi dan departemen konten.

    Selain PHK karyawan, menghadirkan iklan menjadi salah satu upaya Netflix untuk meraup pendapatan lebih banyak, perusahaan berencana menghadirkan paket murah dengan iklan di dalamnya. Padahal sebelumnya Netflix ogah-ogahan menghadirkan iklan di platformnya.

    Tesla

    Salah satu perusahaan mobil mewah Tesla juga kena dampak dari lambatnya pertumbuhan ekonomi. Elon Musk sebelumnya berencana akan melakukan PHK pada 10 ribu karyawan mereka.

    Ia secara terang-terangan mengatakan niatnya untuk memangkas sekitar 10 persen dari pekerja Tesla. Hal ini diungkapkan olehnya di email yang dikirim ke jajaran eksekutif.

    Tesla sendiri mempunyai sekitar 100 ribu karyawan pada akhir tahun 2021 lalu, jumlah ini tentunya merupakan keseluruhan karyawan dari berbagai cabang di dunia.

    Sebelum melakukan PHK, Tesla terlebih dahulu menghentikan perekrutan karyawan di seluruh dunia. Hal ini dilakukan karena adanya kekhawatiran terhadap perkembangan ekonomi, khususnya AS yang dinilai makin parah.

    Salah satu yang jadi korban PHK ini adalah Christopher Bousigues yang baru menjabat Country Manager untuk Tesla Singapura. 

    Sumber lain juga mengatakan bahwa Tesla Singapura tidak akan lagi punya country manager dan kantor Tesla di Hong Kong akan mengawasi operasional di Singapura. 

    ByteDance

    ByteDance, Induk perusahaan TikTok ini juga tak luput dari krisis yang menyebabkan mereka harus melakukan PHK massal pada karyawannya.

    Bytedance bahkan harus membubarkan salah satu sektor bisnisnya yaitu 101 Studio dan melakukan PHK ke 150 karyawannya.

    Selain unit bisnis 101 Studio, bisnis pendidikan internal ByteDance juga dikabarkan mengalami penyesuaian besar-besaran dimana mereka mem-PHK sekitar 3 ribu karyawan dari jumlah total kurang dari 5 ribu karyawan.

    Shopee

    Salah satu platform e-commerce global asal Singapura, Shopee juga turut melakukan penyesuaian pada bisnisnya dengan melakukan PHK di beberapa pasar, termasuk Asia Tenggara, Amerika Latin dan Eropa.

    Untungnya, penyesuaian ini tak berpengaruh di pasar Indonesia. Hal ini disampaikan langsung oleh pihak Shopee Indonesia.

    Layanan ShopeePay dan ShopeeFood bakal jadi layanan yang kena pemotongan karyawan. Townhall juga dilaporkan diadakan untuk membahas langkah PHK dengan karyawan Shopee. Sebelumnya, perampingan karyawan ini telah lebih dulu pada layanan ShopeeFood dan ShopeePay di Thailand.

    Baca juga: Batasi Perekrutan Karyawan, Spotify Kena Krisis Juga?

    Selain melakukan pemutusan hubungan kerja, mereka kabarnya juga telah membekukan perekrutan dan beberapa tawaran untuk peran regional.

    Spotify

    Berbeda dengan perusahaan di atas yang sampai melakukan PHK, efek krisis ekonomi global membuat Spotify berhati-hati untuk melangkah. 

    Spotify kabarnya akan mengurangi perekrutan karyawan baru sebesar 25 persen setelah adanya kekhawatiran resesi yang terus meningkat.

    Kepala keuangan Spotify, Paul Vogel menambahkan kalau di sektor kepegawaian pun turut dipengaruhi oleh keadaan ekonomi.

    Melihat resesi ekonomi yang menghantui AS akhir-akhir ini, perusahaan seperti Spotify melakukan pencegahan agar tak terdampak ketidakstabilan ekonomi global.

    “Kami jelas menyadari meningkatnya ketidakpastian mengenai ekonomi global," kata Vogel, dikutip dari The Verge, Kamis, (16/06/2022).

    Meta

    Selanjutnya, raksasa teknologi Meta juga akan mengurangi perekrutan karyawan baru sebagai salah satu solusi di tengah mandeknya pertumbuhan pendapatan raksasa teknologi ini.

    Juru bicara Meta, Andrea Beasley mengatakan, “kami secara teratur mengevaluasi kembali ketersediaan SDM sesuai dengan kebutuhan bisnis, mengingat perlambatan pendapatan periode ini, kami ikut memperlambat pertumbuhan karyawan.”

    Meski melakukan perekrutan karyawan, Meta menyebut belum berencana untuk melakukan PHK terhadap karyawan mereka. Sejauh ini, Meta memiliki sekitar 77.805 karyawan di seluruh dunia. Mereka berencana memperlambat karyawan di posisi menengah hingga senior.

    Twitter

    Twitter menjadi salah satu perusahaan yang turut mengurangi perekrutan karyawan baru akibat adanya perubahan bisnis di platform mereka. Selain itu, proses pembelian Twitter oleh Elon Musk juga bikin platform ini terombang-ambing.

    Dalam pertemuan terbaru, Twitter terancam jadi perusahaan teknologi selanjutnya yang melakukan PHK terhadap karyawannya setelah calon bos baru, Elon Musk, menyampaikan kalau perusahaan perlu menjadi ‘sehat’ secara finansial serta mengurangi biaya. 

    Walau tidak terang-terangan, ucapan ini mengisyaratkan kalau Twitter kemungkinan akan melakukan pemutusan kerja pada karyawannya setelah kesepakatan pembelian platform ini berhasil.

    “Saat ini, biaya melebihi pendapatan dan ini bukan situasi yang bagus,” katanya ketika ditanya mengenai kemungkinan PHK di saat sesi Q&A rapat internal.

    Isu PHK ini terus menjadi kekhawatiran lebih dari 7.000 karyawan Twitter. Dilaporkan, bahwa Musk ingin meningkatkan jumlah karyawan Twitter dalam jangka waktu pendek, namun kemudian akan memotong sekitar 900 karyawan sebelum melanjutkan pertumbuhan.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini