icon-category Gadget

Review Sharp Aquos Sense8: Tahan Banting, Tapi Speknya Terlalu Standar

Bagikan :

Uzone.id - Laptop dengan built quality standar militer, sudah biasa. Kalau smartphone, rasanya masih jadi fitur yang jarang banget ditemui di pasaran. Kalaupun ada, biasanya form factor-nya tebal dengan bodi yang rugged.

Tapi bagaimana kalau ada smartphone Android dengan standar militer Amerika Serikat (AS), tapi bentuknya seperti ponsel mainstream, cenderung ringan dan ergonomis di genggaman pula. Inilah Sharp Aquos Sense8 yang baru saja kami review.

Aquos Sense8 adalah smartphone pertama Sharp di tahun ini untuk pasar Indonesia. Harganya Rp5,9 jutaan atau lebih murah Rp600 ribu dari Jepang, dimana smartphone tersebut dijual di harga Rp6,5 jutaan.

Harganya lumayan tinggi, jika kalian hanya melihat spesifikasi dapur pacu yang diusung ponsel ini. Ya, Sharp Aquos Sense8 ‘cuma’ ditenagai Snapdragon 6 Gen 1, suksesor dari Snapdragon 695 yang umumnya dipakai ponsel Rp3 jutaan. 

Begini review lengkap Sharp Aquos Sense8 setelah kami gunakan sebagai daily driver kurang lebih dua minggu.

Tahan banting!

alt-img

Sharp Aquos Sense8 beda dengan ponsel bersertifikasi militer AS, MIL-STD-810G lainnya. Smartphone ini tak dibalut casing rugged yang bikin bobotnya berat dan tak ergonomis kalau dibawa kemana-mana.

Sharp Aquos Sense8 justru dibikin tipis, bobotnya juga ringan. Dibuat menggunakan material aluminium, tebal ponsel ini cuma 8,4 mm dengan berat 159 gram. 

Gak nyangka awalnya saat mendengar penjelasan perwakilan Sharp Indonesia yang menyebut kalau ponsel ini sudah mengantongi sertifikasi MIL-STD-810H. Sebab, untuk mendapatkan sertifikat tersebut, ponsel harus lolos lebih dari 15 pengujian ketahanan.

Ada banyak pengujian ketahanan yang dilakukan, mulai dari tes suhu ekstrem, kelembapan, guncangan, ketinggian, dan lain sebagainya. 

alt-img

Pada akhirnya kami harus percaya setelah melakukan pengujian langsung terhadap ponsel ini. Beberapa kali kami jatuhkan Sharp Aquos Sense8 dari meja dengan tinggi sekitar 70 - 75 cm, ternyata aman-aman saja.

Boro-boro bocel, baret pun tidak. Baik layar atau bodi belakang - termasuk bingkai kameranya, hingga sudut-sudut ponsel. 

Bukan cuma ketahanan standar militer AS, Sharp Aquos Sense8 sudah mengantongi rating IP68 yang membuatnya tahan air sedalam 1,5 meter selama 30 menit dan terpaan debu. 

Desainnya sangat minimalis

alt-img

Boleh lah kami apresiasi usaha Sharp untuk merancang ponsel yang ergonomis, tapi tahan banting. Tapi soal selera desain, rasanya Sharp harus banyak belajar pada merek-merek asal China yang kerap bikin ponsel eye-catching yang menarik minat konsumen di Indonesia.

Gak ada tuh warna gradasi atau warna yang bisa berubah-ubah ketika terkena pantulan cahaya. Dari tiga warna yang tersedia, yakni Pale Green, Light Copper, dan Cobalt Black, semuanya menampilkan kelir yang bikin boring.

Untungnya, ponsel ini gak gampang kelihatan kotor karena jejak sidik jari yang menempel. Bodi belakangnya yang terbuat dari polikarbonat atau plastik dengan tekstur yang dibikin agak keset, plus warnanya memang bernuansa matte.

Ada yang menarik dari Sharp Aquos Sense8. Awalnya kami sempat dibuat heran, kok gak ada SIM ejector dalam paket penjualan? Ternyata, gak butuh alat tersebut untuk buka SIM tray, karena desainnya mirip seperti ponsel awal tahun 2000-an.

alt-img

Untuk membuka SIM tray Aquos Sense8, tinggal congkel saja. Letaknya ada di atas, bersanding dengan mikrofon. Adapun, jenis SIM tray-nya SIM 1 + microSD, karena smartphone ini mendukung teknologi eSIM juga.

Bahas tiap sisinya, tombol Volume dan Power ada di tepian sebelah kanan. Catatan nih, tombol Power-nya kerendahan buat dipencet, sementara tombol Volume posisinya ketinggian.

Di bawah, ada mikrofon, jack audio 3,5 mm, port USB-C dan lubang speaker. 

Layarnya bagus, bezel-nya ketebelan

alt-img

Ada plus minus dari layar Sharp Aquos Sense8. Kualitasnya bagus, tapi kami gak sreg dengan bezel di sekeliling layarnya.

Sharp Aquos Sense8 punya layar OLED yang kualitas warnanya bagus, tingkat kecerahannya juga tinggi, serta menyuguhkan detail yang lebih jernih. Bukan sembarang OLED, melainkan IGZO OLED buatan Sharp sendiri.

IGZO merupakan akronim dari Indium Gallium Zinc Oxide, yang sudah sering diadopsi Sharp pada rangkaian produknya, termasuk TV. Panel ini punya konsumsi daya yang lebih rendah, tapi gak mengorbankan kualitas visual secara keseluruhan. 

Mengikuti bodinya yang ringkas, ukuran layarnya terbilang kecil. Cuma 6,1 inci saja, gak selebar smartphone kelas menengah keluaran Samsung, Xiaomi, Vivo, Oppo, dan lainnya. 

Resolusinya Full HD+, tapi refresh rate-nya adaptif dari 1Hz sampai 90Hz. Ini fitur yang mewah di kelasnya, dan Sharp pun membenamkan teknologi Black Frame Insertion yang bikin kecepatan refresh layar akan terasa seperti 180Hz.

alt-img

Tingkat kecerahan maksimal yang ditawarkan layar ponsel ini mencapai 1.300 nits. Setidaknya, pengguna dapat memakai ponsel ini di berbagai kondisi, baik indoor dan outdoor secara maksimal.

Kurangnya satu doang nih. Desain bagian depan ponsel yang jadul banget. Pertama, masih saja pakai notch atau poni. Dan kedua, buset bezel-nya gak kurang tebal nih? 

OS bersih, fiturnya segudang

alt-img

Sharp Aquos Sense8 berjalan di sistem operasi Aquos UX berbasis Android 13. Salah satu OS yang kami suka, karena UI-nya sederhana, bersih, dan gak banyak bloatware. Paling cuma ada beberapa aplikasi bawaan Google saja.

Tampilannya beneran khas Android murni. Tapi jangan salah, banyak banget fitur yang disuguhkan oleh OS ini. 

Nah, ini harus ditiru oleh para brand smartphone Android lainnya. Daripada ngeluncurin banyak fitur tapi gak kepakai karena sulit ditemukan oleh para pengguna, mending contoh cara Sharp ini.

alt-img

Sharp menghadirkan fitur bernama Aquos Tricks yang bisa dibuka via Settings atau pengaturan. Di sini, Sharp mengumpulkan banyak fitur dalam satu menu. Fitur-fitur mulai pengaturan layar hingga menaikkan performa saat main game, tumplek blek di sini.

Sharp Aquos Sense8 juga dijamin akan mendapatkan update OS setidaknya sampai Android 16. Juga, ponsel ini akan menerima security patch rutin selama 5 tahun ke depan.

Performa standar banget!

alt-img

Sharp boleh berbangga Aquos Sense8 menjadi smartphone pertama di Indonesia dengan prosesor Snapdragon 6 Gen 1. Tapi come on, masa HP harga nyaris Rp6 juta pakai prosesor medioker?

Ini bukan salah Snapdragon 6 Gen 1, karena system on chip (SoC) ini memang andal performanya. Namun lagi-lagi, buat smartphone harga Rp5,9 jutaan, rasanya kok kurang banget. 

Oke, kita kenalan sedikit dengan prosesor ini. Snapdragon 6 Gen 1 merupakan suksesor dari Snapdragon 695 yang kebetulan digunakan pada Sharp Aquos Sense7. Prosesor ini menggunakan arsitektur 4nm, dimana clock-speed pada performance-core tembus 2,2 GHz. 

Klaimnya Sharp, Snapdragon 6 Gen 1 pada Aquos Sense8 memiliki peningkatan kinerja CPU sampai 36 persen dibanding Aquos Sense7. Performa grafisnya juga lebih ngebut 33 persen dari sebelumnya.

RAM-nya masih LPDDR5 8 GB, sedangkan ruang penyimpanan ponsel ini masih saja UFS 2.2 dengan kapasitas 256 GB. Lagi-lagi mengecewakan buat ponsel harga Rp5,9 jutaan. Untung, Sharp tak lupa kasih slot microSD yang support sampai 1 TB.

Kami menguji kemampuan Sharp Aquos Sense8 pakai beberapa aplikasi benchmark, berikut hasil pengujiannya:

- AnTuTu Benchmark v10: 485.604 poin

- PCMark Work 3.0: 10.977 poin

- 3DMark Wild Life Stress Test: 2.383 (best loop) dan 2.378 poin (lowest loop)

alt-img

Kalau bicara soal gede-gedean skor benchmark, jelas skor AnTuTu-nya kalah dari Poco X6 dan Poxo X6 Pro yang dibanderol dengan harga di bawahnya. Angka ini setaranya dengan Vivo Y100 5G dijual di Indonesia dengan Rp3,8 jutaan.

Tapi kami apresiasi kestabilan performa grafis dari smartphone ini. Nyaris sempurna, alias 99,8 persen pada Wild Life Stress test. Meski, frame rate tertingginya hanya mentok pada 18 FPS saja.

alt-img

Walau biasa saja benchmark-nya, tapi dalam pemakaian sesungguhnya, ponsel ini tetap lancar dan bisa diandalkan. Main game misalnya, kami bermain beberapa game seperti Seal M, Call of Duty Mobile, sampai Stumble Guys, semuanya lancar tanpa ngelag sama sekali.

Walau memang, grafis yang diset secara default pada Call of Duty Mobile agak rendah. Tapi semuanya terbayar dengan frame rate rata-rata pada 60 FPS.

Baterai Sharp Aquos Sense8 terbilang jumbo, padahal bodinya lumayan tipis dan ringan. Kapasitasnya 5.000 mAh yang dapat bertahan selama 7 jam 23 menit untuk bermain game tanpa henti sampai baterainya benar-benar habis alias 0 persen. Sementara untuk pemakaian normal, ponsel ini bisa bertahan lebih dari 10 jam. 

alt-img

Sangat mengecewakan, ponsel dengan harga Rp5,9 jutaan ini tak didukung teknologi fast charging yang cepat. Meski adaptor charger dapat memberikan daya hingga 30W, Sharp Aquos Sense8 cuma mendukung fast charging 18W saja.

Dari pengujian kami, ngecas dari 0 persen hingga penuh butuh waktu 3 jam lebih. 

alt-img

Harus terbiasa dengan hasil kameranya

alt-img

Di bagian kamera, Sharp Aquos Sense8 punya kamera utama 50 MP dengan ukuran sensor 1/1.55”. Kamera ini sudah didukung optical image stabilization (OIS) yang membuat pengambilan gambar jauh lebih stabil tanpa kehilangan kualitas warna dan detailnya. 

Lalu, ada kamera 8 MP berlensa ultrawide. Sementara di depan, disematkan kamera selfie 8 MP. Sudah, cuma tiga saja kamera yang diusung oleh smartphone ini. 

Kamera telephoto saja tidak ada, untungnya kamera utama bisa melakukan optical-zoom sebanyak dua kali. Jangan berharap kamera ultrawide pada ponsel ini mendukung autofocus, hanya fixed focus saja, jadi kalian gak bisa ambil foto dari dekat atau makro.

alt-img

Bicara soal kualitas, gak ada yang salah dengan keluaran gambar dari kamera Sharp Aquos Sense8. Semuanya terlihat normal, baik-baik saja dengan detail yang juga jernih.

Tapi bagi kalian yang terbiasa pakai Xiaomi, Oppo, Vivo, Realme, atau bahkan Samsung yang biasanya melakukan tweak pada saturasi warna - terutama warna terang, mungkin sedikit dibuat kecewa. 

Tangkapan kamera ponsel ini lebih realistis, jadi apa yang kalian lihat, ya itulah yang tampil pada layar ponsel. Tapi tetap saja, kalau kalian kurang puas, bisa gunakan Adobe Lightroom atau Snapseed untuk edit foto yang diambil ponsel ini.

Menangkap momen menggunakan 2x optical-zoom juga bagus kok. Cuma kurangnya, lagi-lagi soal proses pengambilan gambar yang kerap membutuhkan waktu beberapa detik, terlebih saat memotret di kondisi cahaya yang menantang, seperti remang atau terlalu terang (backlight)

Sementara kamera ultrawide-nya, gak bisa berharap banyak sebenarnya. Kualitasnya biasa saja, noise di sudut-sudut gambar juga kelihatan dengan jelas. Serta saat diperbesar, detailnya sangat kurang, apalagi warnanya yang cenderung agak gelap pada beberapa skenario pengambilan gambar.

Begitu juga dengan kamera selfie-nya. Kalau ponsel ini harganya Rp1 jutaan, wajar sih kalau kameranya 8 MP. Tapi ini nyaris Rp6 juta lho, kok setega itu kasih kamera selfie 8 MP sih, Sharp?

Untungnya, bak smartphone kelas high-end dan flagship, Sharp Aquos Sense8 mampu memotret gambar dengan format RAW dan sudah dilengkapi sistem pencitraan rancangan Sharp sendiri bernama ProPix5.

Berikut beberapa hasil gambarnya:

Foto Sharp Aquos Sense8

Kesimpulan

alt-img

Sharp beneran serius masuk ke segmen bisnis smartphone di Indonesia. Mulai rutin lho brand asal Jepang ini launching ponsel di pasar tanah air, walau harganya yang kadang ‘tak masuk akal’.

Kami sempat mengernyitkan dahi saat mengetahui harga Sharp Aquos Sense8 di Indonesia, gak make sense tidak seperti nama yang diusungnya. Tapi kalau tetap positive thinking, sebenarnya banyak kelebihan dari smartphone ini.

Pertama, tentu saja sertifikasi militer MIL-STD-810H dan rating IP68. Soal built quality, lengkap banget Sharp Aquos Sense8 ini. Dipakai dengan cara yang ekstrem, sering-sering kena air, pokoknya aman, tested by Uzone!

Kedua, layar ini punya kualitas yang bagus. OLED IGZO dengan refresh rate adaptif menambah pengalaman kami saat pakai ponsel ini, baik untuk scrolling medsos, chatting, atau bahkan ngegame.

Ketiga, performanya stabil, terutama buat main game. Gak gampang panas pula, padahal bodinya telah menggunakan material aluminium.

Keempat, kamera utamanya yang menurut kami sudah mumpuni, baik untuk mengambil foto atau merekam video. Dengan OIS yang ditambah electronic image stabilization (EIS), hasil gambar dengan kamera utama bakalan minim noise.

Kurangnya ada banyak juga, dari desainnya yang terlampau sederhana, bezel layar yang terlalu tebal, prosesor yang menurut kami tak seharusnya ada pada smartphone Rp5,9 jutaan, belum fast charging, hingga kamera ultrawide dan selfie yang beresolusi rendah. 

Masih ada waktu buat Sharp untuk dapat menarik perhatian konsumen di Indonesia. Ingat, walau Sharp laku keras di Jepang, tapi tipikal konsumen di Indonesia itu berbeda. Harga terjangkau dengan spek ‘rata kanan’, masih jadi primadona, lho!

Biar gak ketinggalan informasi menarik lainnya, ikuti kami di channel Google News dan Whatsapp berikut ini.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini