
Uzone.id - Sepekan penuh menjadikan Vivo X300 Ultra sebagai daily driver, selama itu juga saya dapat experience yang sangat positif dari smartphone ini. Apalagi soal kameranya, beneran nggak ada cela!
Sebagai model flagship tertinggi, Vivo X300 Ultra memang bawa spesifikasi yang ‘serba ultra’. Dapur pacunya saja pakai Snapdragon 8 Elite Gen 5, kemudian dikemas dalam desain yang super premium, dan tentu saja hadir dengan spesifikasi kamera yang buat saya sudah ‘creator-able’.Ya, dari awal menggunakannya, Vivo X300 Ultra rasanya memang ditujukan sebagai smartphone-nya para kreator konten yang senang mengambil konten foto maupun video super serius dengan kualitas di atas rata-rata.
Berikut ini review lengkap Vivo X300 Ultra setelah saya menggunakannya sebagai perangkat harian selama seminggu penuh.
Memang berasa mahalnya
Pakai smartphone ini memang berasa mahalnya. Bukan cuma kelihatan premium dari jauh, tapi juga terasa solid begitu digenggam. Vivo seperti benar-benar ingin menegaskan kalau X300 Ultra bukan sekadar flagship biasa, melainkan perangkat kamera serius yang kebetulan bisa dipakai sebagai smartphone harian.
Warnanya juga cukup mencuri perhatian—disamping bentuk modul kameranya yang masif. Kombinasi warna hijau yang dibuat kalem, terlihat tidak membosankan, justru tampak cantik kalau dibiarkan tanpa pakai casing tambahan.
Cuma ada beberapa catatan pentingnya. Pertama, kalau nggak pakai casing, bodi belakangnya lumayan licin. Hati-hati saja terlepas dari genggaman saat memegang HP terbaru Vivo harga Rp30 juta ini. Lebih aman memang pakai casing bawaannya, toh desainnya tak monoton—bening kok, tetap premium rasanya.
Kedua, lantaran modul kameranya yang besar dan agak menonjol, membuat bodi belakangnya tidak benar-benar rata saat ditaruh di atas meja. Modul kamera berbentuk lingkaran ini membuat posisi smartphone jadi sedikit miring, yang agak disayangkan lagi, hanya tepian modul bagian bawah saja yang menjadi penyangganya.
Jadi, kalau keseringan nggak pakai casing, ada kemungkinan bagian tepian tersebut yang bisa saja gugus atau baret duluan. Sayang kan?
Ketiga, Vivo tidak menyertakan tombol kontrol kamera fisik di sisi bodi, tak seperti generasi sebelumnya Vivo X200 Ultra atau lawan seimbangnya, Oppo Find X9 Ultra. Padahal, smartphone ini punya kelebihan utama pada sektor kamera, jadi agak kurang saja.
Tapi menariknya, saat digenggam, walau layarnya berukuran 6,82 inci, smartphone ini justru enak dan pas dalam genggaman. Bobotnya memang bukan yang paling ringan, tapi distribusi beratnya terasa cukup seimbang.
Bicara dimensi, Vivo X300 Ultra warna Film Green yang saya review setebal 8,49 mm dengan bobot 237 gram. Dari sisi ketahanan, Vivo X300 Ultra sudah siap banget dipakai di mana saja dan kapan saja, karena smartphone ini dilindungi Armor Glass di depan dan belakang, serta sudah mengantongi rating IP68/IP69 untuk ketahanan terhadap debu dan air.
Untuk susunan tombol dan port, semuanya dibuat familiar. Tombol power dan volume berada di sisi kanan, sementara bagian bawah diisi port USB-C, speaker, mikrofon, dan slot SIM. Tidak ada yang aneh di sini, dan penempatannya mudah dijangkau untuk penggunaan harian.
Layar besar, visual maksimal
Dari depan, Vivo X300 Ultra memang bawa layar masif seluas 6,82 inci berjenis LTPO AMOLED dengan resolusi 3.168 x 1.440 piksel dan sudah mendukung refresh rate adaptif 1-144Hz.
Layarnya yang datar dengan bezel yang tipis, plus kualitas visualnya yang tinggi, memang sukses bikin mata terkesima.
Layarnya tajam, warnanya hidup, dan tingkat kecerahan yang mencapai 4.500 nits, memang cocok dipakai di berbagai kondisi. Dipakai di dalam ruangan jelas enak, sementara saat dipakai di luar ruangan pun konten di layar masih mudah dilihat.
Refresh rate tinggi yang adaptif juga membuat pengalaman scroll-swipe terasa mulus. Animasi saat pindah aplikasi, membuka menu, atau sekadar scrolling timeline berasa responsifnya. Ini memang detail kecil, tapi pada smartphone flagship, hal seperti ini yang membuat pengalaman pakainya terasa lebih mahal.
Kalaupun ada catatan, ukurannya yang besar mungkin tidak cocok untuk semua orang. Buat pengguna yang terbiasa dengan smartphone compact, Vivo X300 Ultra bakalan terasa besar.
Tapi buat saya, ukuran layar seperti ini justru masuk akal, apalagi ponsel ini memang ditujukan untuk pengalaman kamera, multimedia, dan produktivitas yang lebih serius.
Performa tinggi, baterainya awet
Vivo X300 Ultra sudah berjalan di OriginOS 6 berbasis Android 16. UI-nya kurang lebih sama seperti smartphone Vivo lainnya, pun demikian dengan rangkaian fitur AI yang rasanya tak ada yang berbeda. Kalian bisa lihat ulasan lengkapnya pada review Vivo X300 Pro di bawah, atau review Vivo V70 dengan klik tautan ini.
Yang jadi pembeda sejauh ini adalah kemudahan transfer file ke ekosistem Apple, seperti iPhone, iPad, maupun perangkat Mac. Bukan, bukan via Vivo Office Kit—meski X300 Ultra juga mendukungnya, melainkan via Quick Share.
Ya, segampang itu sekarang transfer file apapun lintas ekosistem Android-Apple. Tinggal pilih file yang mau kalian kirim dari Vivo X300 Ultra, pilih Quick Share (nyalakan AirDrop di perangkat Apple juga), otomatis perangkat Apple yang dituju akan muncul di radar.
Begitu juga sebaliknya, nyalakan Quick Share agar Vivo X300 Ultra muncul dalam radar pencarian AirDrop. Gampang kan?
Sekarang mari bahas performanya, yang menurut saya jadi kelebihan lain dari Vivo X300 Ultra.
Bukan ditenagai MediaTek Dimensity 9500 seperti model regular dan Pro, Vivo X300 Ultra ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5. Info lagi nih, Snapdragon 8 Elite Gen 5 dibuat dengan fabrikasi 3nm, membawa 2-core Oryon V3 Phoenix L dengan kecepatan 4,6 GHz dan 6-core Oryon V3 Phoenix M dengan clock-speed 3,62 GHz. Untuk grafisnya, ada GPU Adreno 840.
Di atas kertas, ini konfigurasi yang kasih performa mentah sangat kencang. Unit Vivo X300 Ultra yang saya review merupakan varian dengan RAM 16 GB dan ruang penyimpanan 512 GB. Adapun, jenis RAM yang dipakai adalah LPDDR5X Ultra Pro dan memori UFS 4.1, jadi secara performa memang ngebut.
Bicara pemakaian harian dulu, performa Vivo X300 Ultra memang terasa sangat mulus. Buka banyak aplikasi, pindah dari kamera ke galeri, edit foto, upload konten, sampai multitasking antar aplikasi, semuanya berjalan tanpa drama. Animasi sistem terasa halus, aplikasi cepat terbuka, dan tidak ada delay yang mengganggu.
Dipakai untuk kerja mobile juga nyaman. Mulai dari mengetik artikel, membalas email, mengatur file foto, sampai kirim-kirim data lintas perangkat, semuanya terasa ringan.
Kalau kalian penasaran berapa skor benchmark-nya, berikut daftar lengkapnya:
Ya, memang sekencang itu Vivo X300 Ultra. Di AnTuTu v11, skor setinggi 3,9 juta poin ini sudah cukup menggambarkan kalau Snapdragon 8 Elite Gen 5 di Vivo X300 Ultra kasih tenaga mentah yang melimpah.
Di Geekbench 6, Vivo X300 Ultra mencatat skor 3.456 poin untuk single-core dan 9.505 poin untuk multi-core. Skor single-core yang tinggi ini terasa penting untuk aktivitas harian, karena banyak proses ringan seperti membuka aplikasi, navigasi sistem, dan respons antarmuka masih bergantung pada performa satu core yang kencang.
Sementara skor multi-core 9.505 poin memperlihatkan kemampuan Vivo X300 Ultra saat menangani beban kerja lebih berat. Misalnya untuk rendering, edit foto, kompres file, proses AI, sampai multitasking berat.
Di PCMark Work 3.0, skor 15.219 poin yang diraih Vivo X300 Ultra. Tingginya skor ini menggambarkan kalau X300 Ultra memang sudah mumpuni untuk dipakai aktivitas harian, seperti browsing, editing dokumen, manipulasi foto, sampai pekerjaan produktivitas ringan.
Beralih ke pengujian yang lebih berat, yakni 3DMark dengan skema Wild Life Stress Test. Tes ini untuk melihat konsistensi performanya dalam menangani beban grafis berat dalam waktu yang cukup lama.
Hasilnya, Vivo X300 Ultra mencatat best loop pada 24.308 poin dan lowest loop pada 15.282 poin, dengan tingkat stabilitas mencapai 62,9 persen.
Stabilitasnya terpantau terus turun pada iterasi ke-7, dan stabil hingga putaran ke-20. Ini menandakan sistem mulai menahan performa untuk menjaga suhu tetap terkendali.
Dari data monitoring, baterai turun dari 34 persen ke 20 persen selama stress test, sementara suhu naik dari 35 derajat Celcius ke 51 derajat Celcius.
Frame rate-nya bergerak dari 57 FPS sampai 178 FPS. Jadi, saat beban grafis berat dijalankan terus-menerus, Vivo X300 Ultra tetap bisa mempertahankan performa tinggi, meski tidak sepenuhnya stabil di puncaknya.
Buat saya, ini hasil yang masih cukup masuk akal. Smartphone flagship sekencang ini memang hampir pasti mengalami penurunan performa saat dipaksa menjalankan stress test panjang. Yang penting, setelah turun dari performa awal, grafiknya tidak jatuh terlalu liar dan masih bisa menjaga performa di level yang tinggi.
Bicara baterai, Vivo X300 Ultra ditopang baterai 6.600 mAh. Dalam penggunaan harian, baterainya memang awet. Dipakai dari pagi untuk chat, media sosial, browsing, foto-foto, sesekali rekam video, buka Maps, sampai streaming, Vivo X300 Ultra masih bisa bertahan sampai malam tanpa harus ngecas.
Saya juga menjalankan pengujian PCMark Work 3.0 Battery Life untuk melihat daya tahannya dalam skenario yang lebih terukur. Hasilnya, Vivo X300 Ultra mencatat waktu 21 jam 1 menit, durasi yang begitu lama, mengingat layarnya besar dan beresolusi tinggi, serta selama pengujian pun terhubung ke jaringan WiFi.
Untuk pengisian daya, Vivo X300 Ultra juga sudah mendukung fast charging 100W. Dari pengujian yang saya lakukan, pengisian dari 7 persen ke 100 persen membutuhkan waktu 49 menit. Sementara pengisian dari 14 persen ke 100 persen memakan waktu 42 menit.
Ada juga skenario lain, dari 14 persen ke 73 persen, baterainya terisi dalam 28 menit. Artinya, kalau hanya butuh isi daya cepat sebelum berangkat, sekitar setengah jam pengecasan saja sudah cukup untuk membuat baterainya kembali aman dipakai berjam-jam.
Asli, kameranya bagus!
Nah, ini dia bagian paling penting dari Vivo X300 Ultra. Sejak awal, smartphone ini memang terasa seperti perangkat kamera serius yang kebetulan bisa dipakai sebagai daily driver. Bukan cuma karena modul kameranya besar, tapi karena hasil fotonya memang konsisten di banyak kondisi.
Vivo X300 Ultra membawa tiga kamera belakang yang semuanya punya peran penting. Kamera ultrawide-nya beresolusi 50 MP dengan focal length 14mm, memakai sensor Sony LYTIA 818 berukuran 1/1,28 inci dan sudah mendukung autofokus.
Kamera utamanya punya focal length yang tak biasa. Vivo memilih focal length 35mm, bukan 23mm seperti kebanyakan smartphone. Jujur, awalnya kami tak biasa dengan perbesaran 35mm atau 1,5x zoom ini, terutama saat harus memotret perangkat saat sesi hands-on misalnya.
Rasanya, sudut pandang 35mm ini terlalu dekat, sementara ultrawide di 14mm juga terlampau jauh. Kalaupun mau dekat, paling menggunakan 28mm tapi dari lensa ultrawide.
Balik lagi ke kamera utama, sensornya menggunakan Sony LYTIA 901 beresolusi 200 MP dengan ukuran 1/1,12 inci.
Untuk telephoto, Vivo menyematkan kamera periscope 85mm beresolusi 200 MP dengan sensor ISOCELL HP0 berukuran 1/1,4 inci. Kamera ini didukung gimbal-grade OIS 3 derajat dan AF tracking 60 FPS.
Semua kamera belakangnya juga sudah mendapat dukungan Zeiss T* Coating. Di depan, Vivo X300 Ultra punya kamera selfie 50 MP dengan autofokus.
Soal kualitas, kamera ultrawide Vivo X300 Ultra mampu menciptakan gambar berkualitas tinggi—bukan cuma sekadar lensa pelengkap yang ‘asal ada’.
Karakter warna yang diberikan cenderung natural, tidak terlalu agresif, tapi detailnya tetap bagus, bahkan di kondisi cahaya menantang sekalipun. Seperti yang saya bilang, bukan cuma sekadar 14mm saja, menggunakan lensa inipun saya dapat mengambil dalam perspektif 28mm.
Kamera utama 35mm menjadi salah satu bagian kuat dari konfigurasi kamera di Vivo X300 Ultra. Focal length 35mm ini memang terasa lebih rapat, tapi juga terlihat lebih pas untuk membangun komposisi. Frame jadi lebih fokus, distorsi lebih minim, dan objek utama lebih mudah dibuat menonjol.
Saat memotret gedung, jalanan, cityscape, atau momen harian, kamera utama 35mm ini memberi karakter yang berbeda. Bukan sekadar terlihat tajam, tapi juga seperti ‘bercerita’. Komposisinya pun lebih bersih karena tidak terlalu banyak elemen yang masuk ke frame.
Dari sisi detail, kamera utama 200 MP-nya juga sangat kuat. Tekstur gedung, garis kaca, detail wajah, sampai objek kecil masih tertangkap dengan baik. Dynamic range-nya luas dan warna tidak dibuat terlalu berlebihan, khas Zeiss.
Untuk telephoto terlebih mode portrait, Vivo X300 Ultra sebenarnya menyediakan focal length 50mm, 85mm, 135mm, sampai 230mm.
Dan jujur, kamera 85mm dari kamera ini menjadi salah satu favorit saya. Focal length ini memberi kompresi yang pas untuk foto manusia, lantaran wajah terlihat proporsional dengan background lebih rapi. Detail seperti rambut, tekstur pakaian, hingga ekspresi wajah juga bisa ditangkap dengan sangat baik.
Untuk telephoto jarak jauh, Vivo X300 Ultra juga impresif. Di 135mm sampai 230mm, hasil fotonya masih tajam dan detail. Saat dipakai memotret gedung, cityscape, atau objek kecil dari jarak jauh, hasilnya tetap terlihat jelas. Kontrasnya memang cenderung lebih tegas, tapi justru membuat fotonya jadi lebih hidup.
Di kondisi malam hari, kamera telephoto-nya juga masih bisa diandalkan. Detail gedung dan lampu kota tetap terjaga, warna lampu tidak gampang pecah, dan stabilisasinya membantu saat memotret di focal length panjang.
Memang, di beberapa kondisi gelap, noise di area langit masih bisa terlihat, terutama saat ISO naik. Tapi secara keseluruhan, hasilnya masih sangat layak.
Kamera selfie 50 MP dengan autofokus juga tampil bagus. Hasilnya terang, tajam, dan wajah terlihat bersih. Di kondisi backlight, wajah tetap bisa terlihat jelas tanpa membuat background hilang total. Karakternya beda dengan kamera utama, di mana fotonya lebih cerah dari aslinya.
Untuk video, Vivo X300 Ultra juga terasa serius. Stabilisasinya solid, transisi antar focal length tidak terlalu patah, dan warna tetap konsisten. Dipakai merekam momen harian, perjalanan, sampai konten vertikal untuk media sosial, hasilnya sudah sangat aman.
Kesimpulan
Vivo X300 Ultra memang pantas disebut sebagai flagship ‘Ultra’ dari Vivo. Desainnya premium, layarnya memanjakan mata, performanya sangat kencang, baterainya awet, dan fast charging 100W-nya juga bisa diandalkan untuk pemakaian harian yang padat.
Tapi daya tarik terbesarnya tetap ada di kamera. Konfigurasi 14mm, 35mm, dan 85mm yang dibawa Vivo X300 Ultra bukan cuma mentereng di atas kertas saja, tapi emang bagus secara kualitasnya.
Memang butuh adaptasi saat menggunakan kamera utamanya, tapi justru di situlah karakter Vivo X300 Ultra yang terasa berbeda dibanding kompetitornya. Hasil fotonya natural, detail, sinematik, dan telephoto-nya sangat bisa diandalkan untuk portrait maupun objek jarak jauh.
Catatannya minor banget, dari bodinya yang cukup besar, modul kamera menonjol, dan tidak ada tombol kamera fisik seperti rivalnya—Oppo Find X9 Ultra. Namun di luar itu, Vivo X300 Ultra tetap jadi salah satu smartphone kamera terbaik yang bisa dibeli saat ini.