Home
/
Games

Risiko Jadi Atlet eSports: dari Stres, Kolesterol hingga Skoliosis

Atlet eSports menghadapi stres tiga kali lebih berat dari pekerja kantoran, plus masalah fisik seperti skoliosis dan kolesterol.

Risiko Jadi Atlet eSports: dari  Stres, Kolesterol hingga Skoliosis

Momen acara Pencetusan Semangat Kolaboratif ‘We Got Your Back!’ Timnas eSports x Salonpas, di Jakarta, Selasa (15/9). (Foto: Uzone.id)

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Atlet eSports lebih rawan stres (tiga kali lipat) dibanding pekerja kantoran karena intensitas latihan 8-10 jam per hari dengan konsentrasi tinggi.
  • Tingkat stres tinggi pada atlet eSports memengaruhi detak jantung dan kontrol emosi, sehingga latihan kardio penting untuk stabilitas.
  • Tim sport science menemukan masalah kesehatan fisik serius pada atlet muda Timnas eSports, seperti skoliosis, kolesterol tinggi, dan indikasi diabetes.
  • Program latihan fisik komprehensif, disesuaikan per individu, serta didampingi dokter, ahli gizi, dan psikolog, diterapkan untuk meningkatkan kebugaran dan mengatasi masalah kesehatan atlet.

Uzone.id - Ternyata, jadi atlet eSports itu lebih rawan stres ketimbang pekerja kantoran. Bahkan, tingkat stres para atlet eSports disebut tiga kali lebih berat.

Hal tersebut diungkap Yudhi Esa Saputra, M.Pd. dari tim Sport Science – Physical Trainer yang mendampingi timnas eSports Indonesia menjelang Asian Games ke-20 Aichi-Nagoya 2026. 

Menurut Yudhi, para atlet dapat menghabiskan waktu selama delapan sampai 10 jam sehari untuk berlatih. Selama itu pula, tangan dan jari mereka terus melakukan gerakan berulang dengan tingkat konsentrasi yang tinggi.

“Karena intensitas latihannya sampai 10 jam, tingkat stres atlet tiga kali lebih berat daripada pekerja kantoran. Kalau kita bermain game mungkin untuk fun, tapi kalau sudah dikompetisikan, stresnya luar biasa,” kata Yudhi dalam sesi diskusi yang digelar PB ESI, Selasa (15/9).

Yudhi Esa Saputra, M.Pd. dari tim Sport Science – Physical Trainer (Foto: Uzone.id)

Tekanan selama latihan maupun pertandingan juga dapat memengaruhi detak jantung dan kemampuan atlet dalam mengontrol emosi. Padahal, merxeka harus tetap tenang agar mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Yudhi mencontohkan, detak jantung yang meningkat ketika atlet berada di bawah tekanan dapat membuat kontrol emosinya menjadi kurang stabil. Oleh karena itu, latihan kardio menjadi bagian dari program yang diberikan kepada para pemain.

“Latihan kardio itu penting. Pengontrolan emosinya bisa kita lakukan saat kardio dan heart rate-nya bisa lebih stabil,” jelasnya.


Tim sport science juga melakukan pengukuran komposisi tubuh dan detak jantung secara berkala. Dari hasil pengujian, detak jantung para atlet secara umum turun dari 62 menjadi 58 denyut per menit. 

“Artinya, jantung memompa darah lebih efisien. Ini akan menentukan pengambilan keputusan yang tepat saat atlet dalam laga krusial,” kata Yudhi. 

“4 September kemarin, otot anak-anak secara umum naik 0,49 persen dan lemaknya itu turun 0,96 persen,” lanjutnya.

Masih muda, sudah kolesterol hingga skoliosis

Maleaky Patty dari tim Sport Science – Physical Trainer dan Manager timnas eSports Indonesia, Glorya Famiela Ralahalo  (Foto: Uzone.id)

Masalah yang ditemukan tim sport science Timnas eSports Indonesia bukan cuma soal gampang stres. Maleaky Patty dari tim Sport Science – Physical Trainer turut menemukan sejumlah masalah kesehatan fisik saat melakukan observasi awal terhadap para atlet.

Pemeriksaan yang dilakukan mencakup postur tubuh, fleksibilitas, komposisi tubuh, hingga lingkar perut. Hasilnya, ada atlet yang memiliki tubuh terlalu kurus maupun kelebihan berat badan.

Maleaky juga menemukan atlet dengan masalah postur, termasuk terindikasi mengalami skoliosis. Selain itu, ada pemain berusia 14 hingga 16 tahun yang sudah mengalami masalah kolesterol, bahkan kondisinya mulai mengarah ke diabetes.

“Waktu saya observasi, ternyata mereka banyak mengalami masalah postural, banyak yang skoliosis dan kolesterol. Padahal masih muda, ada yang 14 tahun dan 16 tahun. Ada juga yang sudah mulai mengarah ke diabetes,” ungkap Maleaky.

Dari temuan tersebut, kata Maleaky, latihan fisik sangat penting bagi pemain eSports profesional. 

“Biasanya orang fokus melatih jari dan mata, itu memang poinnya. Tapi kalau kita melatih sesuatu yang teknikal, kita harus melihat dulu fondasinya,” jelas Maleaky.

“Di situ kami mengobservasi bahwa ternyata mereka butuh menaikkan kebugaran. Saya dan tim lakukan pada saat Pelatnas, menaikkan tingkat kebugaran mereka adalah hal pertama yang kami lakukan,” sambungnya.

Lebih lanjut, program latihan fisik para atlet Timnas eSports Indonesia dimulai pada pagi hari. Para atlet menjalani latihan fleksibilitas, mobilitas, kekuatan, dan daya tahan sebelum dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk berlatih di pusat kebugaran.

Pada awalnya, tim sport science menargetkan latihan di pusat kebugaran berlangsung sekali dalam seminggu. Namun, sejumlah atlet justru mulai berlatih secara mandiri hingga dua atau tiga kali dalam seminggu.

Programnya pun tidak disamaratakan. Atlet dengan kelebihan berat badan diarahkan untuk menurunkan persentase lemak, sementara pemain yang terlalu kurus menjalani program untuk meningkatkan massa otot.

Selain pelatih fisik, PB ESI turut melibatkan dokter, ahli gizi, dan psikolog untuk mendampingi para atlet. Kondisi fisik, pola tidur, beban latihan, proses pemulihan, nutrisi, hingga kesehatan mental mereka terus dipantau selama pemusatan latihan.

Asian Games ke-20 Aichi-Nagoya 2026 berlangsung pada 19 September sampai 4 Oktober. Sementara pertandingan cabang eSports digelar pada 23 September hingga 2 Oktober di Aichi Sky Expo.

Indonesia mengikuti delapan dari 11 nomor medali yang dipertandingkan, yakni Mobile Legends: Bang Bang, Honor of Kings, PUBG Mobile, Pokemon Unite, Identity V, eFootball, Gran Turismo 7, dan Naraka: Bladepoint.

FAQ Artikel

Mengapa atlet eSports lebih rawan stres daripada pekerja kantoran?

Menurut Yudhi Esa Saputra dari tim Sport Science Timnas eSports Indonesia, atlet eSports dapat menghabiskan waktu 8-10 jam sehari untuk berlatih dengan konsentrasi tinggi dan gerakan berulang, menyebabkan tingkat stres mereka tiga kali lebih berat dibandingkan pekerja kantoran.

Apa saja masalah kesehatan fisik yang ditemukan pada atlet eSports muda?

Maleaky Patty dari tim Sport Science menemukan berbagai masalah, termasuk masalah postur seperti skoliosis, kolesterol tinggi pada atlet berusia 14-16 tahun, dan beberapa bahkan sudah mengarah ke diabetes.

Bagaimana program latihan fisik membantu atlet eSports mengatasi stres dan masalah kesehatan?

Latihan fisik, termasuk kardio, fleksibilitas, mobilitas, kekuatan, dan daya tahan, penting untuk menstabilkan detak jantung, membantu pengontrolan emosi, serta mengatasi masalah fisik seperti kelebihan berat badan atau kekurangan massa otot. Program disesuaikan untuk setiap individu.

Dukungan apa saja yang diberikan kepada atlet eSports Timnas Indonesia selain latihan fisik?

PB ESI melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter, ahli gizi, dan psikolog untuk memantau kondisi fisik, pola tidur, beban latihan, proses pemulihan, nutrisi, hingga kesehatan mental para atlet secara menyeluruh.

Kapan dan di mana pertandingan cabang eSports Asian Games ke-20 Aichi-Nagoya 2026 akan digelar?

Pertandingan cabang eSports Asian Games ke-20 Aichi-Nagoya 2026 akan diselenggarakan pada 23 September hingga 2 Oktober di Aichi Sky Expo.

Muhammad Faisal Hadi Putra

Muhammad Faisal Hadi Putra

Jurnalis

Suka ngulik teknologi, gadget, dan game. Buat saya, yang menarik bukan cuma spesifikasi dan fitur, tapi juga pengalaman saat mencobanya langsung.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article