
Uzone.id — Tahun 2026, ancaman siber akan semakin ‘ramai’ jenisnya di tengah teknologi AI hingga tren chatbot yang semakin banyak diadopsi. Tahun ini saja, phishing yang menargetkan e-commerce mencapai 6,5 juta serangan, yang menargetkan toko online, sistem pembayaran hingga layanan pengiriman.
Kaspersky mencatat bahwa musim penjualan seperti Harbolnas membuat para pelaku siber untung. Pasalnya, pengguna khususnya pemburu belanja online menurunkan kewaspadaan mereka sehingga mudah untuk diserang.Tahun 2026 sendiri, terdapat beberapa modus yang kemungkinan akan banyak menyerang keamanan ritel dan e-commerce. Berikut beberapa prediksinya.
Ramai chatbot bikin data pengguna makin rentan
Tahun 2025, hampir semua platform (termasuk platform e-commerce) banyak menggunakan chatbot untuk berinteraksi, membantu mencari produk hingga membantu menyelesaikan masalah. Di sisi lain, interaksi dengan chatbot ini mendorong pengguna untuk membagikan data-data mereka, seperti mengungkap preferensi, informasi, hingga membagikan beberapa info penting seputar pesanan (bahkan akun mereka).
Kaspersky menyebut bahwa pergeseran habit ini memperluas celah serangan privasi, karena platform mengumpulkan profil pengguna melalui interaksi obrolan.
“Akibatnya, log chatbot mungkin menjadi sepeka data transaksional, meningkatkan risiko pengumpulan data yang berlebihan, penyalahgunaan, atau pengungkapan informasi pribadi,” kata Anna Larkina, pakar analisis data web dan privasi Kaspersky.
Modus penipuan tagihan pajak dan aturan dagang makin marak
Masih ingat wacana pemerintah yang akan membebankan seller di e-commerce untuk membayar pajak lewat platform? Hal ini kemungkinan akan dijadikan sebagai ide modus baru penipuan.
Kaspersky memprediksi bahwa modifikasi dalam aturan pajak, bea impor dan perdagangan cross-border kemungkinan akan dijadikan umpan untuk mempromosikan tawaran-tawaran murah ke toko-toko online.
“Karena aturan penetapan harga dan biaya terus berkembang di berbagai pasar, hal ini dapat menurunkan kewaspadaan, meningkatkan efektivitas skema tersebut, terutama terhadap pengecer kecil dan menengah,” tambah Anna.
‘Agen AI’ untuk belanja: canggih tapi data pengguna jadi jaminannya
Asisten belanja bertenaga AI akan semakin beroperasi dimana mereka menyematkan diri ke dalam peramban, aplikasi seluler, dan layanan pihak ketiga.
Meskipun dirancang untuk menyederhanakan navigasi dan penemuan harga, alat-alat ini menciptakan risiko privasi baru dan kurang terlihat. Agen belanja AI eksternal kebanyakan memerlukan akses terus menerus ke perilaku pengguna, termasuk aktivitas penelusuran, konteks lokasi, dan interaksi produk di berbagai situs.
Anna menambahkan, “Hal ini memungkinkan agregasi profil perilaku terperinci di luar kendali langsung pengguna dan platform ritel, meningkatkan risiko pengumpulan data berlebihan, penggunaan data yang tidak transparan, dan paparan tidak disengaja.”
Resiko privasi juga muncul gara-gara pencarian berbasis gambar
Pencarian produk berbasis gambar menjadikan unggahan foto sebagai bagian rutin dari pengalaman berbelanja di platform e-commerce. Meskipun fitur ini meningkatkan penemuan produk, fitur ini juga meningkatkan risiko paparan data pribadi yang tidak disengaja.
“Gambar yang dikirimkan pengguna mungkin berisi wajah, lingkungan rumah, atau detail sensitif, seperti nama, nomor telepon, atau alamat yang terlihat pada label pengiriman atau kemasan,” tambahnya.
Maka dari itu, proses pencarian yang aman bisa minimalisasi data, dan retensi terbatas wajib menjadi persyaratan penting bagi pengecer.