
Uzone.id - PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfokus pada sektor pangan, telah merampungkan kontrak pengadaan armada kendaraan niaga dalam jumlah besar.
Kesepakatan tersebut pun jadi kontroversi di tengah sedang melemahnya industri otomotif lokal.Kesepakatan ini mencakup sekitar 105.000 unit pikap dan truk yang dipasok oleh manufaktur otomotif terkemuka asal India, dengan total nilai kontrak yang mencapai Rp24,66 triliun.
Pengadaan ini merupakan bagian integral dari percepatan pembangunan fasilitas fisik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh Indonesia.
Secara terperinci, kontrak tersebut mengalokasikan 35.000 unit kendaraan dari Mahindra & Mahindra (Mahindra) dan 70.000 unit lainnya melalui PT Tata Motors Distribusi Indonesia (Tata Motors). Armada ini dirancang khusus untuk mendukung kegiatan operasional dan logistik di KDKMP.
Hingga saat ini, kemajuan pembangunan fasilitas KDKMP telah mencapai 30.597 unit, dengan 1.207 unit di antaranya telah selesai 100%.
Prinsip Efisiensi dan Keterbatasan Produksi Lokal
Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa keputusan strategis untuk mengimpor kendaraan didasari oleh prinsip efisiensi, efektivitas, dan ketepatan guna, sejalan dengan amanat Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengakui bahwa nilai kontrak yang mencapai triliunan rupiah tersebut diperkirakan akan lebih tinggi jika seluruh pengadaan dipenuhi melalui produksi dalam negeri.
Mota menekankan pentingnya prinsip kewajaran (fairness) dalam pengadaan sarana dan prasarana KDKMP.
Tujuannya adalah memastikan masyarakat desa KDKMP mendapatkan sarana logistik yang optimal, teruji, dan dengan harga yang adil.
"Kami berupaya memastikan bahwa masyarakat akan memperoleh harga yang paling adil, karena prinsip kewajaran sangat krusial bagi masa depan mereka. Kami membuka pilihan yang lebih luas kepada masyarakat," ujar Mota dalam keterangan resminya, dikutip dari CNBC.
"Ini juga mendorong para produsen untuk berkompetisi secara sehat, sehingga dana masyarakat memberikan nilai produktif yang maksimal." tambahnya.
Lebih lanjut, Mota menyebutkan faktor utama lain di balik keputusan impor adalah keterbatasan kapasitas produksi domestik.
"Hampir semua produk nasional telah terserap habis. Ketika manufaktur seperti Mitsubishi, Hino, dan Isuzu tidak mampu lagi memenuhi permintaan pasokan, kami mengalihkannya ke Tata Motors demi mencapai tujuan dari kegiatan ini," bebernya.
Dampak Harga dan Perlindungan Rantai Pasok Lokal
Mota membenarkan nilai kontrak sebesar Rp 24,66 triliun. Meskipun terikat perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement/NDA) dengan pemasok.
Ia mengungkapkan bahwa harga pembelian secara curah (bulk) ini menghasilkan diskon signifikan, yakni "hampir 50% lebih murah" dibandingkan produk 4x4 sejenis yang beredar di pasar Indonesia saat ini.
Mengenai potensi gangguan terhadap industri logistik nasional, Agrinas memperkirakan bahwa 80-90% produksi karoseri di Indonesia telah terserap untuk kebutuhan program KDKMP.
Dengan mengimpor 105.000 unit, Agrinas memastikan bahwa kebutuhan armada logistik bagi pelaku usaha lain di Indonesia tidak terganggu.
"Dengan melakukan impor ini, kami tidak memotong rantai distribusi yang telah berjalan. Kami menjamin distribusi untuk Koperasi Merah Putih berjalan sempurna, sementara rekan-rekan di industri logistik tetap terdukung oleh fasilitas kendaraan domestik," jelas Mota.
Saat ini, unit-unit kendaraan tersebut telah mulai tiba dan didistribusikan. Mota menyatakan bahwa setiap unit KDKMP akan menerima satu unit pikap atau truk.
Kendaraan akan ditempatkan sementara di Kodim-Kodim (Komando Distrik Militer) dan segera dimobilisasi ke lokasi koperasi yang telah siap.