Telkom Rampungkan Spin-Off InfraCo, InfraNexia Siap Sokong Era AI
Telkom Group telah merampungkan Spin-Off InfraCo Tahap 2, mengalihkan lebih dari 90 persen aset infrastruktur senilai Rp85,7 triliun ke InfraNexia.

Foto: dok. Telkom
Highlight Artikel
- Penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2 oleh Telkom, mengalihkan lebih dari 90% total aset infrastruktur ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).
- Total nilai aset dan bisnis yang dialihkan ke InfraNexia mencapai Rp85,7 triliun, menjadikannya pilar utama TelkomGroup dalam bisnis wholesale connectivity.
- InfraNexia kini mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut domestik.
- Langkah strategis ini disiapkan untuk menopang pertumbuhan AI, cloud computing, dan data center, serta meningkatkan kualitas layanan pelanggan jangka panjang.
Daftar Isi
Pengalihan aset dan bisnis dalam tahap kedua ini memiliki nilai transaksi mencapai Rp49,9 triliun. Jika digabungkan dengan proses Spin-Off InfraCo Tahap 1 yang efektif sejak Januari 2026, total nilai aset dan bisnis yang dialihkan ke InfraNexia mencapai Rp85,7 triliun.
Dengan tambahan aset tersebut, InfraNexia kini punya skala yang jauh lebih besar untuk menjalankan bisnis infrastruktur digital secara terpisah dari bisnis layanan Telkom. Perusahaan akan menjadi salah satu pilar utama TelkomGroup dalam mengelola bisnis wholesale connectivity dan menawarkan infrastruktur kepada berbagai pelaku industri.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, Spin-Off InfraCo Tahap 2 menjadi salah satu langkah penting dalam transformasi TelkomGroup sekaligus mendukung strategi TLKM 30, khususnya dalam upaya membuka nilai dari aset-aset infrastruktur yang dimiliki perusahaan.
“Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis guna mendukung percepatan konektivitas digital nasional," ujar Dian dalam keterangan resminya yang diterima Uzone.
InfraNexia Pegang 112 Ribu Km Fiber Optik
Skala aset yang akan dikelola InfraNexia bukan kecil. Setelah proses pengalihan selesai, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik yang mencakup jaringan akses pelanggan hingga core backbone dan berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 26.000 kilometer merupakan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di various wilayah Indonesia.
Jika dibentangkan, total jaringan fiber optik yang dikelola InfraNexia itu hampir setara tiga kali keliling Bumi.
Dengan aset sebesar itu, InfraNexia akan lebih fokus menjalankan bisnis wholesale connectivity, yakni menyediakan infrastruktur jaringan yang dapat digunakan oleh operator telekomunikasi, penyedia layanan internet (ISP), perusahaan digital, maupun pelanggan korporasi.
Model ini memungkinkan TelkomGroup memisahkan pengelolaan infrastruktur dari bisnis layanan secara lebih jelas. InfraNexia dapat fokus membangun, mengelola, dan memonetisasi aset jaringan, sementara kebutuhan konektivitas berbagai pelanggan dapat dilayani melalui entitas infrastruktur tersebut.
Disiapkan untuk Era AI, Cloud dan Data Center
Menariknya, langkah ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan internet saat ini.
InfraNexia melihat pertumbuhan AI, cloud computing, dan data center akan membutuhkan kapasitas konektivitas yang semakin besar. Infrastruktur fiber optik dan jaringan backbone menjadi salah satu fondasi penting untuk menopang pertumbuhan tersebut.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan penyelesaian spin-off menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale.
“Kami optimistis penyelesaian spin-off ini semakin memperkokoh InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale yang netral dan andal. Dengan integrasi aset yang semakin matang, kami akan memperkuat layanan utama kami, mulai dari 5G backhaul, wholesale network dan FTTx, hingga passive infrastructure sharing,” ungkap Lukman dalam kesempatan yang sama.
"Kami sudah melakukan akselerasi program network modernization dan mendorong implementasi autonomous network guna menghadirkan infrastruktur konektivitas yang lebih cerdas, efisien, dan adaptif. Upaya strategis ini akan memperkuat kesiapan kami dalam pengembangan konektivitas mendukung pertumbuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia. Semua ini kami jalankan dengan fokus utama kepada pertumbuhan bisnis dan kepuasan pelanggan," kata Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf.
Bagi TelkomGroup, pengalihan aset ini juga menjadi bagian dari upaya menuju struktur strategic holding. Pengelolaan aset infrastruktur yang lebih terfokus diharapkan membuat perusahaan lebih fleksibel dalam mencari mitra strategis, mengoptimalkan aset, serta membuka sumber pertumbuhan baru.
Model serupa sebenarnya sudah digunakan sejumlah operator telekomunikasi global, seperti Telstra, Telecom Italia (TIM), CETIN, Telenor, Telefónica, dan KPN, yang memisahkan bisnis infrastruktur untuk mengembangkan layanan wholesale connectivity.
Dalam konteks Indonesia, InfraNexia kini memiliki modal aset yang jauh lebih besar untuk menjalankan model tersebut.
Apa Dampaknya ke Pelanggan?
Pertanyaan berikutnya, apakah perubahan struktur bisnis ini akan langsung terasa oleh pelanggan Telkom?
Telkom memastikan proses transaksi dilakukan secara *seamless* dan tidak berdampak terhadap layanan pelanggan.
Namun dalam jangka panjang, pemisahan bisnis ini ditargetkan memberikan dampak terhadap kualitas dan pengembangan infrastruktur.
Dengan InfraNexia yang lebih fokus mengelola jaringan, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk mengoptimalkan investasi, melakukan modernisasi jaringan, serta menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
Dian mengatakan, salah satu fokus Spin-Off InfraCo Tahap 2 adalah meningkatkan pengalaman pelanggan.
“Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan strategic initiative dari TelkomGroup yang tidak hanya bertujuan untuk menghadirkan bisnis infrastruktur yang lebih fokus, agile, dan berdaya saing. Dengan kehadiran InfraNexia kami optimistis dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan," tutup Dian.
InfraNexia juga akan memperkuat sejumlah layanan, mulai dari 5G backhaul, wholesale network, FTTx, hingga passive infrastructure sharing.
Ke depan, perusahaan juga tengah mendorong program network modernization dan penerapan autonomous network. Teknologi tersebut ditujukan untuk membuat pengelolaan jaringan menjadi lebih otomatis, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan trafik.
Meski Telkom masih menjadi pemegang saham mayoritas InfraNexia dengan kepemilikan lebih dari 99 persen, perusahaan menegaskan InfraNexia akan beroperasi secara profesional dan tetap melayani seluruh pelanggan.
Dengan selesainya Spin-Off InfraCo Tahap 2, pekerjaan berikutnya justru menjadi lebih besar: bagaimana mengubah lebih dari 112.000 kilometer jaringan fiber optik dan various aset infrastruktur lainnya menjadi jaringan yang semakin efisien, terbuka untuk kolaborasi, dan mampu menopang kebutuhan digital Indonesia yang terus tumbuh.
FAQ Artikel
Apa itu Spin-Off InfraCo Tahap 2 Telkom?
Spin-Off InfraCo Tahap 2 adalah kelanjutan penataan bisnis infrastruktur Telkom Indonesia, di mana lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan dialihkan kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia).
Berapa total nilai aset yang dialihkan ke InfraNexia?
Jika digabungkan dengan Spin-Off Tahap 1, total nilai aset dan bisnis yang dialihkan ke InfraNexia mencapai Rp85,7 triliun. Pengalihan tahap kedua sendiri bernilai Rp49,9 triliun.
Berapa panjang jaringan fiber optik yang dikelola InfraNexia?
Setelah pengalihan, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, yang mencakup jaringan akses pelanggan hingga core backbone, serta sekitar 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut domestik.
Apa fokus bisnis utama InfraNexia setelah spin-off?
InfraNexia akan lebih fokus menjalankan bisnis wholesale connectivity, yakni menyediakan infrastruktur jaringan yang netral dan andal bagi operator telekomunikasi, ISP, perusahaan digital, dan pelanggan korporasi. Ini juga disiapkan untuk menopang pertumbuhan AI, cloud computing, dan data center.
Apakah Spin-Off InfraCo ini berdampak langsung pada pelanggan Telkom?
Telkom memastikan proses transaksi dilakukan secara seamless dan tidak berdampak langsung terhadap layanan pelanggan. Namun, dalam jangka panjang, diharapkan terjadi peningkatan kualitas dan pengembangan infrastruktur yang bermanfaat bagi pelanggan.


