Home
/
ESG

Terpujilah GURU, Cara Telkomsel Bantu Guru Beradaptasi dengan AI

Telkomsel luncurkan "Terpujilah GURU" 2026 untuk tingkatkan literasi digital guru agar bijak manfaatkan AI dan jaga peran humanis pembelajaran.

Terpujilah GURU, Cara Telkomsel Bantu Guru Beradaptasi dengan AI

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Telkomsel meluncurkan program 'Terpujilah GURU' pada 2026, sebuah inisiatif perdana untuk meningkatkan literasi AI dan keterampilan digital tenaga pendidik.
  • Program ini dirancang untuk mengatasi tantangan guru yang khawatir tertinggal dari murid dalam mengadopsi teknologi AI.
  • 'Terpujilah GURU' membekali para guru untuk memanfaatkan AI secara bijak dalam pembelajaran, termasuk membedakan hasil karya AI dari manusia.
  • Program ini juga mendorong guru berkembang menjadi educator, creator, sekaligus innovator, dengan tetap menempatkan peran humanis dan empati guru sebagai hal yang tidak tergantikan oleh AI.
Uzone.id – Kehadiran Kecerdasan buatan atau AI di kehidupan sehari-hari rasanya memang begitu dekat. Di sekolah, teknologi ini juga mulai menjadi bagian dari keseharian siswa. Mereka bisa menggunakan AI untuk mencari informasi, merangkum materi, mencari ide, bahkan membantu mengerjakan tugas.

Di titik ini muncul tantangan baru yang diakui oleh Telkomsel, yakni soal bagaimana guru mengikuti perkembangan teknologi yang mungkin justru lebih cepat dipelajari oleh muridnya?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu latar belakang hadirnya Terpujilah GURU, program Telkomsel yang dirancang untuk membantu tenaga pendidik meningkatkan literasi AI sekaligus keterampilan digital.

Menariknya, Terpujilah GURU baru pertama kali hadir pada 2026. Jadi, program ini merupakan inisiatif perdana Telkomsel untuk secara khusus mendorong peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi digital dan AI untuk kebutuhan pembelajaran.





Melalui program ini, guru tidak hanya diperkenalkan dengan teknologi AI, tetapi juga didorong untuk memahami bagaimana teknologi tersebut bisa digunakan secara bijak dalam proses belajar-mengajar.

Telkomsel memosisikan Terpujilah GURU sebagai akselerator literasi AI bagi tenaga pendidik. Program ini juga membawa gagasan agar guru berkembang menjadi educator, creator, sekaligus innovator yang mampu memimpin pembelajaran di era AI.

Kenapa Guru Perlu Belajar AI?

Ada kekhawatiran yang cukup sederhana tetapi relevan ketika AI mulai digunakan siswa: jangan sampai guru justru tertinggal dari murid dalam memahami teknologi.

Vice President Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menjelaskan bahwa salah satu hal yang menjadi perhatian adalah perkembangan AI yang sangat cepat.

“Program ini tercetus salah satunya ya berangkat dari ketakutan perkembangan AI – masak murid-murid dapat jauh lebih bisa mengadaptasi AI ketimbang guru?” kata pria yang akrab disapa Fahmi saat ditemui awak media pada Rabu (23/9).

Kekhawatiran tersebut bukan semata-mata soal siapa yang lebih jago menggunakan chatbot atau aplikasi AI.




Ada pertanyaan lain yang jauh lebih dekat dengan aktivitas guru sehari-hari. Misalnya, ketika seorang siswa mengumpulkan tugas, bagaimana guru membedakan jawaban yang benar-benar dipikirkan dan ditulis siswa dengan jawaban yang dibuat menggunakan AI?

“Pelatihan ini sesimpel untuk membekali para guru tentang bagaimana membedakan jawaban racikan AI dengan bikinan murni dari manusia. Cara berpikir mandiri ini yang harus tetap dijaga di tengah gempuran tekknologi seperti AI,” sambungnya.

Di sinilah literasi AI menjadi penting. Guru tidak cukup hanya mengetahui bahwa AI bisa membuat tulisan, gambar atau materi pembelajaran. Mereka juga perlu memahami cara kerja dan keterbatasannya, sehingga dapat menentukan kapan teknologi tersebut membantu dan kapan penggunaannya justru perlu dikritisi.

Lebih lanjut, Terpujilah GURU tidak dirancang hanya sebagai kelas untuk belajar menggunakan AI.




Program ini membantu guru berkembang sebagai fasilitator digital melalui modul siap pakai, ruang belajar kolaboratif, dan komunitas berbagi praktik.

Telkomsel juga membawa ekosistem yang mencakup konektivitas, AI tools, dan platform digital untuk membuka akses terhadap pembelajaran modern bagi tenaga pendidik di berbagai daerah.

Dalam pelaksanaannya, guru mendapatkan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas belajar-mengajar.

Materi yang diberikan mencakup pemanfaatan AI yang berpusat pada manusia, produktivitas dan penyusunan instruksi AI, desain visual, pembuatan video, metode pembelajaran kreatif, hingga asesmen digital.

Setiap peserta juga menyusun karya akhir berupa materi dan rancangan pembelajaran yang dapat diterapkan serta dikembangkan di sekolah masing-masing.





Guru Tetap Jadi Manusia di Balik Teknologi

Ada alasan kenapa peran guru tetap menjadi bagian penting dalam konsep Terpujilah GURU.

AI mungkin bisa membantu membuat soal, merangkum buku, menyusun materi presentasi atau memberikan alternatif ide. Namun, teknologi tidak otomatis memahami karakter setiap siswa di dalam satu kelas.

Guru yang berinteraksi langsung dengan murid tetap punya konteks yang tidak selalu dimiliki teknologi.

Galih Sulistyaningra selaku CEO & Co-Founder Smartick Indonesia yang turut hadir di malam puncak Terpujilah GURU turut mengatakan, ada banyak hal dari peran seorang guru yang tidak akan pernah tergantikan oleh AI, salah satunya sisi humanis.

“Interaksi guru, cara guru memperhatikan perkembangan murid, hingga melihat potensi-potensi terpendam dari murid, ini tidak akan bisa digantikan oleh AI. Cara guru membersamai murid dan empati yang terbentuk di dalam hubungan mengajar ini masih sangat manusia, tidak mungkin dilakukan oleh AI,” ungkap Galih.


Foto: Uzone.id


Maka, pemanfaatan AI dalam pendidikan lebih masuk akal jika ditempatkan sebagai alat bantu. Guru tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan, memeriksa hasilnya, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa.

Gagasan tersebut juga menjadi bagian dari arah Terpujilah GURU sejak pertama kali diperkenalkan pada 2026. Program ini mendorong guru untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi berkembang sebagai educator, creator, dan innovator.

Artinya, teknologi bukan mengambil alih peran guru. Sebaliknya, guru justru dibekali kemampuan agar bisa memanfaatkan teknologi untuk memperkuat proses belajar.

Perubahan teknologi juga membuat pekerjaan guru tidak berhenti pada menyampaikan materi di depan kelas.

Ada kebutuhan untuk membuat materi yang lebih visual, menghadirkan konten yang lebih mudah dipahami, hingga mencari cara baru untuk membuat siswa terlibat dalam pembelajaran.

Karena itu, kemampuan membuat konten digital menjadi bagian penting dari Terpujilah GURU.



Guru dapat memanfaatkan keterampilan tersebut untuk mengembangkan materi sendiri, bukan hanya mengambil materi yang sudah tersedia di internet. Dengan bantuan AI, proses mencari ide atau membuat rancangan awal juga bisa menjadi lebih cepat.

Tetapi hasil akhirnya tetap membutuhkan sentuhan manusia. Guru yang menentukan apakah materi tersebut cocok dengan usia siswa, sesuai dengan konteks pelajaran, dan tidak menyesatkan.

Pada pelaksanaan perdananya di 2026, Terpujilah GURU diklaim telah menjangkau lebih dari 3.800 guru SMA, SMK, dan MA melalui kegiatan roadshow di sejumlah daerah serta pembelajaran daring.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.500 peserta terpilih mengikuti proses secara bertahap, mulai dari seleksi, akademi daring bagi 400 guru, pendampingan untuk 80 guru, hingga pelatihan intensif secara luring bagi 12 finalis terbaik di Jakarta.

Artinya, meski baru pertama kali digelar, program ini tidak hanya berhenti pada pengenalan AI. Ada proses belajar, pendampingan, pembuatan karya, hingga pembentukan komunitas yang diharapkan bisa terus berkembang setelah program selesai.

FAQ Artikel

Apa itu program Terpujilah GURU?

Terpujilah GURU adalah program perdana Telkomsel yang dirancang untuk membantu tenaga pendidik, khususnya guru SMA, SMK, dan MA, meningkatkan literasi Kecerdasan Buatan (AI) sekaligus keterampilan digital untuk kebutuhan pembelajaran.

Mengapa Telkomsel meluncurkan program Terpujilah GURU?

Program ini diluncurkan untuk menjawab kekhawatiran bahwa guru mungkin tertinggal dari murid dalam mengadaptasi teknologi AI. Tujuannya adalah membekali guru agar bijak memanfaatkan AI dan mampu membedakan karya AI dari karya murni manusia dalam aktivitas belajar-mengajar.

Keterampilan apa saja yang diajarkan dalam program Terpujilah GURU?

Materi yang diberikan mencakup pemanfaatan AI yang berpusat pada manusia, produktivitas dan penyusunan instruksi AI, desain visual, pembuatan video, metode pembelajaran kreatif, hingga asesmen digital. Peserta juga menyusun karya akhir berupa materi dan rancangan pembelajaran.

Apakah peran guru akan tergantikan oleh AI?

Tidak, program Terpujilah GURU menekankan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu. Peran humanis guru, seperti interaksi, empati, dan kemampuan memahami karakter siswa, tidak akan pernah bisa digantikan oleh AI. Guru tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa.

Hani Nur Fajrina

Jurnalis

Lihat semua artikel →
populerRelated Article