TikTok, Facebook, Instagram, X, Threads: Siapa Teratas?
TikTok, Facebook, Instagram, X, atau Threads paling banyak digunakan di Indonesia? Cek peringkat APJII 2026, jumlah audiens, usia, dan demografi gender.

- Survei APJII 2026 menempatkan TikTok sebagai media sosial paling sering diakses responden Indonesia (31,8%), disusul Facebook (29,4%), Instagram (27,7%), X (1,5%), dan Threads (1,0%).
- Di kelompok Gen Z, TikTok meraih 32,3%, Instagram 30,8%, Facebook 26,9%, X 2,5%, dan Threads 1,6%. Angka ini adalah persentase responden Gen Z, bukan proporsi usia seluruh pengguna masing-masing aplikasi.
- DataReportal Digital 2026 menunjukkan potensi jangkauan iklan TikTok 180 juta akun dewasa, Facebook 121 juta, Instagram 108 juta, X 22,9 juta, dan Threads 8,15 juta; data dasarnya berasal dari akhir 2025 dan bukan MAU.
- Komposisi gender dan usia perlu dibandingkan dengan hati-hati karena sumber, tanggal, definisi audiens, serta cakupan usia pada tiap platform berbeda.
Uzone.id Platform mana yang paling banyak digunakan di Indonesia pada 2026: Facebook, Instagram, Threads, X, atau TikTok? Jawabannya bergantung pada apa yang diukur. Jika kriterianya adalah media sosial yang paling sering diakses menurut survei pengguna internet, TikTok berada di urutan pertama. Namun, jika yang dibandingkan adalah estimasi jangkauan iklan, angkanya jauh lebih besar dan tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi jumlah orang yang aktif setiap bulan.
Untuk memudahkan kalian memahami lanskap media sosial Indonesia, artikel ini menggunakan dua jenis data yang dipisahkan secara eksplisit. Pertama, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dilakukan pada Februari–Maret 2026 untuk mengukur kebiasaan akses dan perbedaan generasi. Kedua, Digital 2026: Indonesia dari DataReportal untuk menggambarkan potensi jangkauan iklan dan distribusi gender. Ada pula data pendukung yang lebih baru dari penyedia analitik platform, dengan keterbatasannya masing-masing.- Peringkat media sosial paling sering diakses
- Kenapa angkanya berbeda?
- Jumlah jangkauan iklan lima platform
- Demografi pengguna berdasarkan gender
- Demografi berdasarkan generasi
- Profil audiens TikTok
- Profil Facebook dan Instagram
- Profil X dan Threads
- Implikasi bagi brand dan kreator
- Metodologi dan keterbatasan
- FAQ
- Sumber data
TikTok Paling Sering Diakses, Facebook dan Instagram Menyusul
Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 yang dilakukan APJII mencatat TikTok sebagai platform yang paling sering disebut responden. Dari lima media sosial yang dibandingkan, susunannya adalah TikTok, Facebook, Instagram, X, kemudian Threads.
Sumber: Survei APJII 2026, dilaporkan oleh Katadata Databoks dan Kompas. Persentase mengacu kepada responden pada survei, bukan seluruh penduduk atau pengguna aktif bulanan. Dokumen survei mencantumkan bahwa jawaban dapat lebih dari satu pilihan.
APJII melibatkan 8.700 responden berusia 13 tahun ke atas dari 38 provinsi. Wawancara dilakukan secara tatap muka pada 1 Februari sampai 15 Maret 2026, menggunakan multistage random sampling dengan margin of error yang dilaporkan ±1,1%. Karena ini survei perilaku, data tersebut menjawab pertanyaan tentang kebiasaan akses, bukan jumlah akun aktif yang diukur langsung oleh platform.
Selisih 2,4 poin persentase antara TikTok dan Facebook, serta 1,7 poin antara Facebook dan Instagram, lebih berguna untuk membaca posisi relatif ketiganya pada pertanyaan APJII daripada untuk menyimpulkan bahwa salah satu platform jauh meninggalkan yang lain di semua metrik.
Kenapa Data Pengguna Media Sosial Bisa Berbeda Jauh?
Ketika kalian menemukan satu artikel menyebut Facebook memiliki 121 juta pengguna, sementara laporan lain memperkirakan lebih dari 200 juta, jangan langsung menganggap salah satunya keliru. Angka yang tampak bertentangan bisa berasal dari periode, metode, dan definisi berbeda.
- Survei akses. Responden menjawab aplikasi yang sering mereka akses. Unitnya adalah persentase responden, bukan jumlah akun.
- Potensi jangkauan iklan. Platform mengestimasi jumlah audiens yang dapat dijangkau iklan dengan pengaturan tertentu. Angka ini tidak identik dengan pengguna aktif bulanan (MAU) atau orang unik.
- Pengguna aktif bulanan. MAU membutuhkan definisi aktivitas dan jangka waktu dari masing-masing platform. Data MAU khusus Indonesia untuk kelima aplikasi dengan metode seragam tidak tersedia dalam sumber yang kami verifikasi.
- Cakupan usia dan tanggal. TikTok Ads dalam laporan DataReportal hanya menampilkan audiens 18 tahun ke atas, sementara estimasi Facebook, Instagram, X, dan Threads memakai parameter yang tidak selalu sama.
Berapa Jumlah Audiens Facebook, Instagram, TikTok, X, dan Threads?
Dalam laporan Digital 2026: Indonesia yang terbit November 2025, DataReportal merangkum angka yang tersedia dari alat perencanaan iklan masing-masing platform pada akhir 2025. Kelima angka berikut berguna untuk menilai potensi jangkauan iklan, tetapi tidak merupakan sensus pengguna aktif pada Oktober 2026.
Sumber: DataReportal, Digital 2026: Indonesia (diterbitkan 5 November 2025). Tidak boleh ditafsirkan sebagai jumlah pengguna aktif bulanan. Urutan menunjukkan besaran estimasi reach dengan basis data yang tidak sepenuhnya seragam.
Ada pembaruan angka yang lebih baru tetapi menggunakan pendekatan tersendiri. NapoleonCat, misalnya, mencatat estimasi 203,4 juta untuk Facebook dan 124,9 juta untuk Instagram pada September 2026 berdasarkan data pemasaran platform. Namun, data NapoleonCat tidak mencakup angka yang sebanding bagi semua platform di atas. Karena itu, kedua angka tersebut tidak dimasukkan ke dalam tabel lintas-platform untuk menghindari perbandingan yang menyesatkan.
Demografi Gender: Platform Mana Lebih Banyak Pria atau Wanita?
DataReportal juga melaporkan komposisi gender audiens iklan dewasa. Berdasarkan angka akhir 2025, perempuan lebih banyak terwakili dalam audiens TikTok dan Instagram, sedangkan Facebook, X, dan Threads cenderung lebih banyak laki-laki menurut data masing-masing penyedia iklan.
Sumber: DataReportal Digital 2026: Indonesia, berdasarkan alat iklan pada akhir 2025. Beberapa pasangan persentase tidak berjumlah persis 100% karena definisi dan pelaporan data platform.
Untuk X, DataReportal secara khusus mengingatkan bahwa gender dapat ditaksir melalui sinyal profil dan aktivitas, tidak selalu berasal dari deklarasi langsung pengguna. Karena itu, pembagian ini lebih aman digunakan sebagai indikator perencanaan iklan daripada gambaran pasti identitas seluruh penggunanya.
Perbedaan komposisi gender antarlaporan juga dapat berubah. Sebagai contoh, perkiraan NapoleonCat pada September 2026 menunjukkan komposisi Facebook relatif lebih seimbang daripada snapshot DataReportal akhir 2025. Pergeseran dan perbedaan metodologi harus diperhatikan sebelum membuat keputusan pengiklanan.
Demografi Usia Berdasarkan Gen Z, Milenial, Gen X, dan Baby Boomers
Untuk memahami kebiasaan kelompok umur, data APJII lebih relevan karena pertanyaan yang sama diajukan kepada berbagai kelompok generasi. Tabel ini menunjukkan persentase responden di masing-masing generasi yang memilih sebuah platform, bukan persentase usia dalam keseluruhan basis pengguna aplikasi tersebut.
Sumber: APJII 2026; hasil pengelompokan generasi dirangkum Kompas. Angka bukan distribusi pengunjung di dalam platform. Ukuran sampel masing-masing kelompok perlu diperhitungkan sebelum menguji signifikansi perbedaan persentase.
Gambaran yang muncul adalah TikTok cukup merata di seluruh generasi menurut pertanyaan survei; Facebook relatif konsisten pada kelompok Milenial hingga Baby Boomers; sedangkan Instagram mengalami penurunan persentase jawaban pada kelompok yang lebih tua. X dan Threads sama-sama mencatat persentase jawaban paling tinggi pada Gen Z.
Contohnya, angka X 2,5% pada Gen Z tidak berarti hanya 2,5% pengguna X adalah Gen Z. Artinya adalah 2,5% responden Gen Z dalam survei menyebut X pada pertanyaan yang digunakan APJII. Perbedaan definisi ini sangat penting ketika kalian ingin membuat infografik atau materi presentasi berbasis data.
TikTok: Menjangkau Generasi Muda, tetapi Tidak Hanya Anak Muda
TikTok menjadi pemenang pada indikator frekuensi akses APJII 2026. Menariknya, angkanya berada pada kisaran 30–32% untuk seluruh kelompok generasi yang dilaporkan, sehingga menempatkan TikTok hanya sebagai aplikasi remaja akan mengabaikan sebagian audiens dewasa yang cukup besar.
Data iklan yang lebih rinci tersedia dalam studi Affect Group tanggal 6 Maret 2026, berdasarkan TikTok Ads Manager. Studi tersebut memperkirakan potensi jangkauan sekitar 196,4 juta audiens dewasa, dengan 45,2% pada kelompok usia 25–34 dan 25,8% pada 18–24 tahun. Gabungan dua kelompok usia itu sekitar 71% dari total jangkauan dalam studi tersebut. Angka ini berbeda dari snapshot DataReportal karena periode dan cara pengambilannya berbeda; jangan menjumlahkan atau membandingkannya langsung sebagai pertumbuhan MAU.
Bagi penerbit, TikTok cocok diuji untuk format ringkas, demonstrasi produk, informasi yang cepat dipahami, dan cuplikan berita yang mengarahkan audiens ke penjelasan lengkap. Namun, banyaknya penayangan video tidak otomatis menghasilkan trafik situs; tautan, konteks akun, dan perilaku audiens tetap menentukan.
Facebook dan Instagram: Kuat, tetapi Profil Audiensnya Tidak Sama
Facebook: Jangkauan luas dan relevan bagi berbagai usia
Facebook berada di posisi kedua dalam survei APJII. Persentase aksesnya relatif dekat antara Milenial (31,1%), Gen X (31,0%), dan Baby Boomers (30,9%). Data ini mengindikasikan Facebook layak dipertimbangkan untuk materi yang tidak hanya menyasar Gen Z. Fitur grup dan komunitas juga dapat menjadi jalur distribusi, tetapi efektivitasnya harus diuji berdasarkan niche dan kebijakan komunitas.
Dalam pelacakan NapoleonCat September 2026, kelompok 25–34 tahun merupakan kelompok umur terbesar pada estimasi audiens Facebook yang mereka analisis. Ini tidak bertentangan dengan survei APJII: angka pertama bicara tentang komposisi audiens yang terjangkau, sedangkan angka APJII menunjukkan kecenderungan memilih platform dalam masing-masing kelompok generasi.
Instagram: Menarik bagi audiens muda dan visual
Instagram mencatat 27,7% pada APJII dan 30,8% pada responden Gen Z, lebih tinggi daripada kelompok usia yang lebih tua dalam survei tersebut. Dari sisi gender, data DataReportal menunjukkan perempuan sedikit lebih banyak dalam audiens iklan dewasa Instagram.
Untuk merek dan media, format carousel, Reels, rangkuman berita, ilustrasi sebelum-sesudah, dan cuplikan wawancara dapat diuji sesuai tujuan. Jangan hanya melihat jumlah pengikut: periksa juga penyimpanan konten, interaksi, kunjungan profil, dan klik tautan yang benar-benar tercatat.
X vs Threads: Bagaimana Demografi dan Ukuran Audiensnya?
Dibandingkan TikTok, Facebook, dan Instagram, X serta Threads hanya muncul pada persentase kecil dalam pertanyaan APJII 2026: masing-masing 1,5% dan 1,0%. Namun, angka rendah pada indikator ini tidak otomatis berarti topik yang dibicarakan di kedua platform tidak memiliki pengaruh di luar platform.
Dalam DataReportal, potensi jangkauan iklan X tercatat 22,9 juta dan Threads 8,15 juta pada akhir 2025. Angka tersebut merupakan proksi teknis perencanaan iklan, bukan ukuran jumlah orang yang membaca setiap percakapan atau seberapa sering topik menyebar ke media lain.
Kedua platform juga memperlihatkan proporsi jawaban APJII lebih besar pada Gen Z (X 2,5% dan Threads 1,6%) daripada Milenial dan Gen X. Untuk strategi redaksi, percakapan di kedua platform bisa menjadi bahan pemantauan isu, pertanyaan publik, dan narasumber. Tetapi setiap klaim viral wajib diverifikasi ke sumber primer sebelum dikutip sebagai fakta.
Strategi Konten dan Iklan: Pilih Berdasarkan Tujuan, Bukan Ranking Saja
Platform dengan angka audiens terbesar belum tentu menghasilkan biaya konversi paling rendah, pembaca setia paling banyak, atau interaksi yang paling bermakna untuk setiap merek. Ranking sebaiknya menjadi titik awal, kemudian diuji terhadap target bisnis.
Untuk media digital, pekerjaan penting berikutnya adalah menghubungkan data platform dengan data situs. Lihat berapa orang yang datang dari setiap jaringan, berapa lama mereka membaca artikel, dan berapa persen yang kembali. Konten dengan jangkauan sosial tinggi tetapi tingkat kunjungan rendah mungkin lebih cocok untuk tujuan kesadaran merek daripada akuisisi pembaca.
Jika tujuan kalian monetisasi website, evaluasi sumber trafik juga perlu mencakup kualitas sesi, visibilitas iklan, dan kepatuhan terhadap kebijakan platform. Mengoptimalkan satu angka view atau klik saja dapat memberi gambaran performa yang keliru.
Catatan Metodologi: Jangan Campur Persentase Survei dan MAU
Artikel ini ditulis untuk pembacaan data hingga 13 Oktober 2026. Survei APJII merepresentasikan jawaban responden pada Februari–Maret 2026; DataReportal menggunakan snapshot audiens iklan akhir 2025 dalam laporan berjudul Digital 2026; Affect Group mengambil data TikTok Ads Manager Maret 2026; dan NapoleonCat menampilkan estimasi Facebook/Instagram September 2026.
Empat sumber tersebut tidak mempunyai satu kerangka sampling dan cakupan usia yang identik. Pada TikTok, data jangkauan iklan DataReportal hanya meliputi 18 tahun ke atas; pada X, gender sebagian ditaksir berdasarkan sinyal akun; sedangkan pada NapoleonCat angka berasal dari sumber pemasaran platform. Oleh karena itu, sebuah grafik yang menggabungkan seluruh angka tersebut seolah-olah merupakan MAU per Oktober 2026 akan menyesatkan.
Survei APJII sendiri tidak boleh langsung digunakan untuk mengatakan bahwa sekian persen seluruh warga negara pasti menggunakan satu aplikasi. Perlu diperhatikan siapa respondennya, bagaimana pertanyaan diajukan, batas usia, dan opsi jawabannya. Perbedaan kecil beberapa poin juga harus dibaca dengan mempertimbangkan ketidakpastian survei.
Terakhir, data usia dalam tabel generasi menjawab pertanyaan berapa persen orang pada generasi tersebut memilih platform ini, bukan berapa persen seluruh pengguna platform berasal dari generasi tersebut. Untuk pertanyaan kedua, dibutuhkan distribusi audiens aktual dari pengukuran platform dengan metodologi berbeda.
FAQ: Media Sosial di Indonesia 2026
1. Media sosial apa yang paling sering diakses di Indonesia pada 2026?
TikTok menempati urutan pertama dalam survei APJII 2026 dengan 31,8% responden, diikuti Facebook 29,4% dan Instagram 27,7%. Angka ini merupakan hasil pertanyaan tentang platform yang sering diakses, bukan persentase total penduduk Indonesia yang memakai TikTok.
2. Apakah TikTok memiliki pengguna lebih banyak daripada Facebook di Indonesia?
TikTok unggul pada indikator frekuensi akses APJII dan memiliki estimasi potensi jangkauan iklan lebih besar dalam DataReportal. Namun, keduanya tidak membuktikan perbandingan MAU yang tepat, karena sumber dan cakupan pengukurannya berbeda.
3. Berapa jumlah pengguna TikTok Indonesia pada 2026?
DataReportal Digital 2026 melaporkan potensi jangkauan iklan sekitar 180 juta akun berusia 18 tahun ke atas, berdasarkan data akhir 2025. Angka tersebut bukan jumlah MAU yang telah diverifikasi untuk Oktober 2026.
4. Apakah Facebook masih banyak dipakai oleh generasi muda?
Ya, dalam survei APJII 2026, 26,9% responden Gen Z memilih Facebook sebagai salah satu platform yang sering diakses. Angkanya lebih rendah daripada TikTok 32,3% dan Instagram 30,8% di kelompok yang sama, tetapi tetap cukup berarti.
5. Platform mana yang audiens iklannya lebih banyak perempuan?
Menurut DataReportal akhir 2025, persentase perempuan pada audiens iklan dewasa TikTok sebesar 56,3% dan Instagram 53,2%. Komposisi ini bisa berubah seiring waktu dan tidak selalu sama dengan distribusi gender semua pemilik akun aktif.
6. Apakah Threads lebih populer daripada X di Indonesia?
Pada indikator survei APJII 2026 yang dibahas di sini, X dipilih 1,5% responden dan Threads 1,0%. DataReportal juga mencatat jangkauan iklan X lebih besar daripada Threads pada akhir 2025. Namun, keduanya tidak mengukur secara langsung pengaruh percakapan atau engagement per unggahan.
7. Mengapa jumlah pengguna Facebook bisa berbeda jauh di setiap laporan?
Karena sumber menggunakan alat, tanggal, cakupan usia, dan definisi audiens berbeda. Misalnya DataReportal melaporkan jangkauan iklan Facebook 121 juta pada akhir 2025, sementara NapoleonCat memperkirakan angka berbeda pada September 2026 berdasarkan data pemasaran platform.
8. Apakah data Gen Z APJII berarti mayoritas pengguna Threads adalah Gen Z?
Tidak. Angka 1,6% berarti persentase responden Gen Z yang memilih Threads dalam survei. Untuk mengetahui proporsi usia seluruh audiens Threads dibutuhkan data komposisi pengguna yang berbeda.
9. Platform mana yang sebaiknya dipilih untuk promosi bisnis?
Pilih sesuai target usia, jenis konten, tujuan kampanye, dan data konversi aktual. TikTok, Instagram, dan Facebook dapat diuji untuk distribusi video dan jangkauan; X atau Threads dapat berguna untuk memantau dan berpartisipasi dalam diskusi. Kinerja tetap harus diuji pada audiens produk kalian sendiri.
Sumber dan Referensi
- APJII — Portal Survei Internet 2026, sumber survei penetrasi internet dan perilaku pengguna.
- Databoks Katadata — TikTok, Media Sosial yang Banyak Diakses Warga RI pada Awal 2026, detail persentase, sampel, dan metode APJII.
- Kompas — Media Sosial yang Paling Sering Diakses Warganet Indonesia 2026, angka kelompok generasi APJII.
- DataReportal — Digital 2026: Indonesia, estimasi jangkauan iklan dan demografi gender (data akhir 2025).
- Affect Group — TikTok Ads Audience in Indonesia 2026, estimasi usia audiens iklan per Maret 2026.
- NapoleonCat — Social Media Users in Indonesia, September 2026, data audiens Facebook dan Instagram yang berbeda metodologi.
Pembaruan editorial: 13 Oktober 2026. Catatan metodologi: APJII mencatat kebiasaan akses responden, sementara DataReportal mengestimasi jangkauan iklan pada akhir 2025; kedua indikator bukan MAU dan tidak boleh disamakan.

Jumin Tantrikarta
Jurnalis