Startup

Tips Bikin UX yang Ramah Pengguna, Mulai dari Empati

  • 19 November 2021
  • Bagikan :
    Tips Bikin UX yang Ramah Pengguna, Mulai dari Empati

     

    Uzone.id - Sebuah bisnis membutuhkan media untuk menjadi jembatan dengan pengguna. Maka dari itu dibutuhkan produk dan pengalaman pengguna yang ramah sehingga mereka betah berlama-lama berinteraksi.

    Membuat sebuah produk dengan pengalaman pengguna atau UX yang baik tidaklah mudah. Ada proses yang menggabungkan sisi humanis desainer UX, kolaborasi lintas divisi, dengan tren yang terjadi di pasar. 

    Menurut Satkar Ulama, yang kini menjabat sebagai Product dan UX Research Lead di perusahaan teknologi ternama di Indonesia, Tokopedia, sebelum membuat produk UX dibutuhkan riset, peranan riset produk dan UX sangat signifikan karena hasilnya yang berkualitas dapat diaplikasikan menjadi strategi baru dalam pengembangan konsep fitur atau program yang dapat mendukung peningkatan bisnis perusahaan. 

    Tokopedia4

    "Riset produk dan UX juga akan mempengaruhi tingkat kesuksesan dan kenyamanan menggunakan sebuah situs, termasuk situs pemberitaan media. Tampilan dan UX yang ramah atau sesuai kebutuhan pengguna menjadi sangat penting bagi setiap penyedia platform,” tambah Satkar.

    Baca juga: Tips UI/UX di Masa Pandemi

    Seperti di tempatnya bekerja, riset produk dan UX disebutkan bisa mendukung peningkatan transaksi serta tren belanja di Tokopedia. Dia pun memberikan beberapa tips untuk yang bisa diterapkan untuk membuat UX yang baik.

    1. Empati

    Empati adalah kunci untuk dapat menciptakan solusi yang berorientasi pada pengguna. Penting untuk mengesampingkan asumsi dan keinginan sendiri. "Hal ini ditujukan agar seorang UX researcher bisa terus fokus secara objektif dalam menyampaikan aspirasi pengguna demi menciptakan lebih banyak dampak bagi mereka,” ungkap Satkar.

    1. Kolaborasi

    Kolaborasi lintas tim sangat penting dalam proses riset. Dengan bertukar pikiran diharapkan bisa ditemukan berbagai cara menjawab tantangan yang dialami pengguna dari sisi produk, marketing hingga bisnis.

    1. Fleksibel dan Kreatif 

    Riset tidak bisa memakai satu cara atau metodologi saja. Seorang periset juga harus fleksibel dan terus berinovasi dalam menerapkan cara yang paling sesuai dengan pengguna atau pasar yang kita riset.

    Baca juga: Kisah Penuh Ujian di Balik Pujian untuk Aplikasi Tokopedia

    Misal saat pandemi, kata Satkar, ketika tatap muka harus dikurangi. Seorang periset UX harus menyesuaikan berbagai metode - seperti survei, in-depth interview dan FGD, hingga tes produk, walau secara virtual, namun tetap berorientasi pada hasil dengan kualitas sebaik ketika bertemu langsung dengan narasumber.

    1. Ikut Tren 

    Dengan mengikuti tren yang ada, periset bisa menjadi lebih relevan dengan pengguna. Beberapa inisiatif unggulan Tokopedia pun telah melewati proses riset agar relevan dengan kebutuhan pengguna, termasuk kampanye Waktu Indonesia Belanja (WIB).

    1. Tentukan Tujuan 

    Dalam proses pengembangan produk dan UX, sangat penting bagi seorang periset untuk mengetahui tujuan yang harus dicapai, misal metrik bisnis atau produk apa yang ingin diubah serta ditingkatkan. 

    “Riset dengan tujuan yang jelas dapat menghasilkan insights berkualitas sehingga dapat digunakan oleh para pengambil keputusan,” tutup Satkar.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini