Digilife

Ujian Sekolah Masih Virtual, Tetap Jalan Pantang Gagal

  • 16 September 2021
  • Bagikan :

    Foto ilustrasi: Trent Eriwn/Unsplash

    Uzone.id -- Setahun lebih sudah aktivitas belajar dari rumah secara daring berlangsung. Adakalanya terasa berat, namun proses ini harus terus dijalankan demi semuanya sehat.

    Tak jauh dari tepi laut sebelah utara Jakarta, para siswa dan guru SMPN 244 Jakarta terpaksa sekolah secara virtual hingga saat ini. Tak ada lagi menyetir dengan rasa khawatir melewati truk kontainer yang menghiasi jalan raya utama. Kegiatan pembelajaran justru meramaikan rumah, dari pagi hingga larut.

    “Kalau ditanya, sudah pasti lebih enak mengajar di sekolah, bisa tatap muka. Awal-awal proses ini sangatlah sulit, belum lagi ada anggapan kalau sekolah online membuat para guru makan gaji buta. Kata siapa,” ungkap Nopis Wandi, guru mata pelajaran PJOK.

    Ia kembali menyaut, “yang ada, kami seperti mengajar dua kali. Memberi materi, memeriksa satu-satu tugas para siswa. Mulai bekerja jam 8 pagi, tapi layar laptop saya masih menyala sampai jam 9 malam.”

    Sejak proses pembelajaran sekolah diwajibkan secara virtual dari rumah, Nopis masih ingat betul ada banyak aplikasi yang digulirkan oleh pemerintah dan Dinas Pendidikan demi menunjang kegiatan ini. Setelah mencoba berbagai layanan digital untuk menjalankan sekolah virtual, akhirnya SMPN 244 Jakarta memilih platformPijar Sekolah

    Untuk mencapai tahap yang serba nyaman seperti sekarang, Nopis sebagai salah satu guru di sana mengaku banyak pengajar yang jetlag, alias harus adaptasi semaksimal mungkin dengan metode mengajar online.

    Baca juga: Ternyata Belajar Online Bikin Waktu Efisien dan Bebas dari Nyontek!

    “Banyak yang awalnya tidak mengenal layanan digital, bahasanya ya gaptek, begitu. Tidak tahu apa itu Google Drive, Google Meet, layanan Zoom. Ada juga yang belum punya email. Adanya pandemi, banyak yang baru terbuka mata terhadap platform digital, dan untungnya Pijar Sekolah ini sangat praktis dan mudah digunakan,” imbuh Nopis.

    Setelah proses adaptasi berlalu, Nopis dan kawan-kawan guru lainnya pun tinggal memaksimalkan berbagai fitur yang diberikan Pijar Sekolah. Salah satu manfaat yang begitu terasa dari platform digital ini adalah saat ujian berlangsung.

    Mantan guru TIK ini merasa bahwa Pijar Sekolah memfasilitasi proses ujian dengan begitu mudah dan interaktif. Bahkan tampilannya dinilai Nopis sangat menyerupai UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer).

    Proses ujian yang begitu praktis tersebut pun diimbangi dengan kemudahan saat melakukan pendataan siswa dan membuat penilaian yang tak lagi memakan waktu banyak hingga larut.

    “Saya tidak terbayang jika tidak pakai fitur ujian seperti Pijar Sekolah, karena sangat ada platform online yang sifatnya terlalu terbuka, sampai-sampai murid bisa mencari kunci jawaban dari ujian itu dengan cara Googling,” kata Nopis.

    Ia melanjutkan, “dari sisi guru, saat kami membuat soal ujian itu prosesnya cukup dari Microsoft Word saja, lalu disimpan, dan tinggal diunggah di platform Pijar Sekolah. Tidak ada kode-kode tertentu yang membuat kepala pusing. Kemudahan ini juga menguntungnya murid, karena bisa mengerjakan ujian dari ponsel.”

    Ilustrasi: NeONBRAND/Unsplash

    Salah satu murid Nopis, Alhaj Ghio pun mengakui hal serupa. Siswa kelas 8 ini setuju bahwa Pijar Sekolah membuat proses ujian jadi lebih kondusif dan serba praktis, karena pada dasarnya platform digital buatan lokal ini bukanlah berbentuk aplikasi, melainkan situs.

    “Dulu awal pandemi, saya susah mengerti pembelajaran saat sekolah online, belum lagi banyak sekali aplikasi yang harus diunduh cuma untuk belajar. Bikin memori perangkat semakin penuh. Menariknya, setelah pakai Pijar Sekolah, semuanya terasa mudah, karena saya tak perlu lagi unduh aplikasi macam-macam, di dalamnya juga ada konten digital yang sangat lengkap,” kata Ghio.

    Baca juga: Rasanya Belajar Virtual yang Serba Nyaman dan Memuaskan

    Selain konten digital yang variatif, Ghio menambahkan manfaat dari Pijar Sekolah ini juga datang dari fitur Lab Maya, yaitu laboratorium virtual yang disediakan untuk menunjang materi-materi pembelajaran secara visual.

    “Lebih interaktif dan nyata, membantu saya untuk belajar secara mandiri,” katanya.

    Baik Ghio maupun Nopis, keduanya mengapresiasi keterbukaan Pijar Sekolah sebagai platform terintegrasi yang dapat dipantau oleh para orang tua murid. Meski sekolah tetap virtual, namun proses belajar hingga ke tahap ujian harus tetap berjalan dan pantang gagal.

    Uniknya lagi, Nopis mengaku bahwa metode secara virtual seperti sekarang membantu pengelolaan aktivitas sekolah jadi lebih tertata.

    “Setelah ujian, proses penilaian jadi lebih cepat dan otomatis. Para orang tua murid sudah tahu juga bagaimana kinerja Pijar Sekolah, e-rapor juga mudah diakses, jadi aktivitas anak-anak mereka pun tetap dalam kendali,” tutup Nopis.