Home
/
Automotive

Varian Termahal MG ZS Hybrid Plus Paling Diminati, Inden 2 Bulan

MG ZS Hybrid+ laris manis, khususnya varian Magnify. Inden 1-2 bulan karena produksi CKD dan permintaan tinggi di luar Jawa akibat SPKLU belum merata.

Varian Termahal MG ZS Hybrid Plus Paling Diminati, Inden 2 Bulan

Bagikan :

Highlight Artikel

  • MG ZS Hybrid+ mendapat sambutan positif dan mencatat masa inden 1-2 bulan.
  • Varian Magnify (tipe tertinggi) mendominasi penjualan dengan menyumbang lebih dari 50 persen.
  • ZS Hybrid+ adalah model hybrid pertama MG yang diproduksi secara lokal (CKD) di Indonesia.
  • Minimnya SPKLU mendorong tingginya permintaan di luar Jawa untuk mobil hybrid ini.

Uzone.id - MG Motor Indonesia mengklaim mendapat respon positif pada kehadiran ZS Hybrid Plus. Bahkan konsumen baru yang memesan mobil tersebut harus melalui masa inden terlebih dahulu.

Meskipun dipasarkan dengan beberapa pilihan varian, daya tarik MG ZS Hybrid+ ternyata paling kuat berada di tipe tertinggi, yaitu Magnify. Varian yang dibanderol Rp 329,9 juta ini sukses mendominasi dengan menyumbang lebih dari 50 persen dari total seluruh permintaan unit yang masuk.

“Sejauh ini untuk yang demand di market itu tipe Magnify, yang Rp 329,9 juta. Itu lebih dari 50 persen,” kata Harry Kurniawan, Head of Marketing MG Motor Indonesia di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (2/11).



Hal tersebut membuktikan bahwa konsumen tidak semata-mata menjadikan banderol harga termurah sebagai pertimbangan utama saat membeli mobil hybrid. Kelengkapan fitur serta nilai yang ada pada tipe teratas menjadi daya pikat tersendiri bagi para pembeli.

Tingginya antusiasme pasar ini berdampak langsung pada masa tunggu unit. Konsumen yang berencana meminang MG ZS Hybrid+ harus bersabar karena masa inden saat ini berkisar antara satu hingga dua bulan.

Waktu inden ini tergolong normal mengingat MG ZS Hybrid+ mencatatkan sejarah sebagai model hybrid pertama dari MG yang diproduksi secara lokal atau Completely Knocked Down (CKD) di Indonesia, sehingga penyesuaian kapasitas produksi masih perlu dilakukan.





“Untuk sekarang masih normal lah, indennya 1 sampai 2 bulan kira-kira seperti itu. Karena secara produksi kita juga masih harus ada penyesuaian, dan ini juga merupakan hybrid pertama yang diproduksi MG secara CKD,” jelas Harry.

Secara keseluruhan, penerimaan pasar nasional terhadap SUV hybrid ini dinilai sangat positif dan sudah sesuai dengan ekspektasi awal perusahaan.

Menariknya, kenaikan permintaan yang signifikan justru datang dari area luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi pasca dilakukannya peluncuran regional di kota-kota tersebut.



“ZS Hybrid Plus sejauh ini penerimaannya cukup sesuai ekspektasi ya. Memang tidak dapat dipungkiri tidak seperti BEV lah tren saat ini ya hybrid. Tapi kita melihat tren positif khususnya itu di luar Jawa. Karena beberapa saat setelah kami melakukan regional launch di beberapa kota, itu ada peningkatan yang lumayan khususnya di daerah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata Harry.

Faktor utama pendorong tren di luar Jawa ini tidak lepas dari infrastruktur pendukung kendaraan listrik murni yang belum merata.

Minimnya ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) membuat mobil berteknologi hybrid menjadi pilihan realistis agar konsumen dapat merasakan keunggulan efisiensi elektrifikasi tanpa khawatir keterbatasan pengisian daya.





“Mungkin salah satu faktornya karena faktor penunjang ya. Kalau kita melihat kan luar Jawa secara faktor SPKLU-nya mungkin masih jarang dan lain sebagainya. Jadi hybrid masih dipandang memiliki potensi yang lebih baik khususnya untuk yang di luar-luar Jawa,” ujar Harry.

Guna memenuhi ceruk pasar ini, MG Motor Indonesia menetapkan target distribusi angka penjualan yang realistis.

“Untuk saat ini untuk Hybrid Plus ini kita targetkan itu di angka sekitar 300-an sampai 400-an sih (per bulan). Cuma melihat situasi market-nya seperti apa, sejauh ini sih optimistis ke situ,” tuturnya.



Apalagi untuk menjaga daya saing di tengah kompetisi SUV hybrid tanah air, MG mempertahankan penawaran harga spesial mulai dari Rp 299,9 juta status on the road (OTR) Jakarta yang ditujukan bagi 1.000 pembeli pertama.

“Untuk harga masih sama, kita masih start dari Rp 299,9 juta untuk OTR Jakarta khusus untuk 1.000 customer pertama. Masih sama biar tetap masih bersaing lah ya,” ungkapnya.

Tantangan MG ke depan mencakup pengelolaan jaringan regional dan memastikan efisiensi produksi CKD untuk menjaga durasi inden serta mempertahankan konsistensi persaingan harga pasar.

FAQ Artikel

Bagaimana respon pasar terhadap MG ZS Hybrid+?

MG ZS Hybrid+ mendapat respon positif dari pasar. Tingginya minat membuat konsumen harus melalui masa inden sekitar 1-2 bulan untuk mendapatkan unit.

Varian MG ZS Hybrid+ mana yang paling diminati?

Varian Magnify, tipe tertinggi yang dibanderol Rp 329,9 juta, menjadi yang paling diminati. Varian ini menyumbang lebih dari 50 persen dari total seluruh permintaan unit.

Mengapa ada masa inden untuk MG ZS Hybrid+?

Masa inden sekitar 1-2 bulan terjadi karena MG ZS Hybrid+ merupakan model hybrid pertama dari MG yang diproduksi secara lokal (Completely Knocked Down/CKD) di Indonesia, sehingga perlu ada penyesuaian kapasitas produksi.

Apa faktor pendorong tingginya permintaan MG ZS Hybrid+ di luar Pulau Jawa?

Minimnya infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di luar Jawa menjadikan mobil hybrid sebagai pilihan realistis bagi konsumen yang ingin merasakan efisiensi elektrifikasi tanpa khawatir keterbatasan pengisian daya.

Brian Priambudi

Brian Priambudi

Jurnalis

Berpengalaman dalam review mobil dan motor.  Pengalaman menjadi jurnalis otomotif sejak 2018.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article