Home
/
Automotive

Insentif Mobil Hybrid Mulai Dibahas, Bakal Berbeda dari EV?

Pemerintah kembali membahas insentif mobil hybrid yang tidak akan disamakan dengan mobil listrik; industri berharap dukungan fiskal dan non-fiskal.

Insentif Mobil Hybrid Mulai Dibahas, Bakal Berbeda dari EV?

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Wacana pemberian insentif untuk mobil hybrid kembali mencuat melalui Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji.
  • Besaran insentif mobil hybrid digadang-gadang tidak sama dengan mobil listrik (BEV) dan masih dalam pembahasan antar kementerian.
  • Industri tidak menuntut insentif yang sama dengan BEV, namun mengharapkan adanya dukungan insentif untuk mobil hybrid.
  • Usulan insentif yang dipertimbangkan mencakup keringanan pajak dan kebijakan non-fiskal seperti bebas ganjil genap dan fasilitas parkir khusus.

Uzone.id - Wacana pemberian insentif untuk mobil hybrid kembali mencuat lewat Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. Besaran insentif mobil hybrid digadang-gadang tidak sama dengan mobil listrik (battery electric vehicles).

Sarmuji bilang besaran insentif untuk mobil hybrid masih dalam tahap pembahasan antar Kementerian, mulai dari teknisnya sampai besaran insentif yang diberikan.

"Sudah (ada pembahasan antar kementerian), mulai ada pembahasan teknis, masih dalam proses pembahasan teknis, nanti seberapa besar insentif yang akan kita usulkan nanti akan lebih diperjelas lagi," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (27/10) dikutip dari Detik.



Sarmuji mengatakan usulan insentif mobil hybrid tidak harus sama dengan mobil listrik. Seperti yang diminta industri, setidaknya ada insentif yang diberikan oleh mobil hybrid yang turut berdampak ke lingkungan.

"Dari industri pun tidak meminta sama seperti BEV ya, tidak minta sama, tetapi yang penting ada insentif," katanya.

Berdasarkan data wholesales (distribusi pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mobil hybrid sepanjang tahun 2026 ini sudah terdistribusi sebanyak 65.968 unit





Secara distribusi, mobil hybrid di Indonesia memang masih kalah pamor dengan mobil listrik yang sudah menembus wholesales di 117.218 unit.

Total pangsa pasar nasional Januari-September 2026 itu mencapai 679.020 unit. Artinya, mobil hybrid mengambil 9,72% dari total pangsa pasar nasional, sementara mobil listrik mendominasi di angka 17,26%.

Perlu diketahui, wacana insentif mobil hybrid ini mulai berhembus di pertengahan Oktober 2026 kemarin yang digaungkan oleh Menperin Sarmuji.



Sarmuji berpendapat kalau kendaraan hybrid punya faedah penting yang sejajar dengan mobil listrik karena dinilai efektif menekan emisi sekaligus menghemat konsumsi BBM.

Beberapa usulan insentif mobil hybrid pun telah dipertimbangkan, bukan cuma soal keringanan pajak, tetapi juga yang non-fiskal seperti bebas ganjil genap di Jakarta.

Ada juga usulan insentif non-fiskal seperti kemudahan proses administrasi, penyediaan tempat parkir khusus, hingga kemudahan akses stasiun pengisian daya bagi kendaraan yang memerlukan.

FAQ Artikel

Apa fokus wacana insentif mobil hybrid saat ini?

Wacana insentif mobil hybrid saat ini berfokus pada pembahasan antar kementerian terkait teknis dan besaran insentif yang akan diberikan, diinisiasi oleh Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji.

Apakah besaran insentif mobil hybrid akan sama dengan mobil listrik?

Tidak, besaran insentif mobil hybrid digadang-gadang tidak akan sama dengan mobil listrik (BEV). Hal ini juga sesuai dengan permintaan dari pihak industri.

Insentif jenis apa saja yang dipertimbangkan untuk mobil hybrid?

Insentif yang dipertimbangkan meliputi keringanan pajak (fiskal) serta insentif non-fiskal seperti bebas ganjil genap di Jakarta, penyediaan tempat parkir khusus, dan kemudahan akses stasiun pengisian daya.

Bagaimana pangsa pasar mobil hybrid di Indonesia dibandingkan mobil listrik?

Berdasarkan data wholesales Januari-September 2026, mobil hybrid memiliki pangsa pasar 9,72% (65.968 unit), sementara mobil listrik mendominasi dengan 17,26% (117.218 unit) dari total pangsa pasar nasional.

Brian Priambudi

Brian Priambudi

Jurnalis

Berpengalaman dalam review mobil dan motor.  Pengalaman menjadi jurnalis otomotif sejak 2018.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article