icon-category Travel

WAC 2017: Pengalaman Sang Legenda

  • 02 May 2017 WIB
  • Bagikan :

    Usai menyaksikan cuplikan film tentang EAST dan EIGER di layar yang terdapat di ujung tenda kelas, Galih Donikara aka Kang Galih mempersilakan Mamay S Salim untuk memberikan sambutan terkait acara malam ini.

    Pendiri EIGER yang juga legenda panjat tebing ini kemudian berkisah tentang kiprahnya di kegiatan alam terbuka dan di EIGER. Kang Mamay, panggilan akrabnya, lahir di Bandung pada 27 Februari 1953.

    Saat ini ia menjabat sebagai Pimpinan EIGER Adventure Service Team (EAST), juga Kepala Bidang Panjat Tebing Alam PP FPTI (Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia). “Saya adalah pendiri EIGER, tapi yang punya uang bukan saya. Teman saya yang punya uang,” ujarnya membuka kalam, yang disambut gelak tawa peserta.

    “Waktu itu saya berpikir bagaimana membikin produk supaya nyaman dipakai, kuat, awet, dan tahan lama. Dan jadilah EIGER seperti sekarang ini,” imbuhnya.

    Sarjana akuntansi yang tak pernah berkutat pada pekerjaan sesuai keilmuannya itu malah terjun ke dunia petualangan, terutama panjat tebing. Hingga kini, Kang Mamay masih aktif sebagai Instruktur Kepala di Perguruan Memanjat Tebing Skygers Indonesia dan Staf Ahli di Badan SAR Nasional (Basarnas).

    Ia juga beberapa kali menduduki posisi Manajer Tim Panjat Tebing Indonesia dalam berbagai kejuaraan tingkat dunia. Pada tahun 2000, Mamay membentuk EIGER Adventures Service Team (EAST) untuk mengadopsi 'semangat' petualangan perusahaan dalam bentuk kegiatan yang lebih riil.

    Beragam petualangan atau kegiatan luar ruang telah digelar EAST, mulai panjat tebing, mendaki gunung, susur gua, maupun gowes bareng Paimo. “Gowes bareng Mas Paimo di pegunungan tertinggi di Afrika (Kilimanjaro) adalah pengalaman yang paling luar biasa bagi saya,” tuturnya.

    Sebagai petualang, Mamay tak hanya berkutat di panjat tebing, tapi juga mendaki gunung dan kegiatan alam bebas lainnya. Pria yang disebut-sebut sebagai pemanjat tebing paling tua di Indonesia ini akan berterus berpetualang hingga ajal menjemputnya.

    Usai Kang Mamay, giliran Djukardi Adriana yang berkisah pada peserta. Melanjutkan apa yang dikatakan Mamay, Menurut Djukardi, program EAST adalah sarana untuk memberikan pengetahuan tentang teknik bertahan hidup pada masyarakat pada umumnya. “EAST adalah pusat informasi tentang kegiatan di alam terbuka,” ujar pria yang biasa disapa Abah Bongkeng ini.

    Posisi Bongkeng di EAST adalah Ketua Bidang Adventure Trainind and Education. Kegiatan WAC yang dikaitkan dengan Hari Kartini ini adalah salah satu idenya.

    “Akhir-akhir ini sudah banyak kaum wanita yang menggemari kegiatan mendaki gunung. Namun saya miris dengan masih banyaknya korban dalam pendakian," ujarnya.

    Karena itu, menurut Bongkeng, EAST berupaya memberikan informasi dan latihan terkait mendaki gunung yang baik dan benar demi meminimalkan risiko kecelakaan.

    "Mendaki gunung itu ada trik-triknya. Tidak cukup hanya dengan bermodalkan keberanian semata. Kita harus punya wawasan terlebih dulu tentang teknik hidup di alam terbuka," tegasnya.

    Hal-hal seperti ini, kata Bongkeng, perlu disampaikan kepada para pendaki pemula atau mereka yang mau menggeluti dunia petualangan demi memperkecil risiko. Sebab, dunia petualangan—apapun bentuknya—penuh dengan risiko.

    Kegiatan berisiko
    Ada dua faktor penting yang perlu diperhatikan dalam dunia petualangan terutama mendaki gunung; subjek dan objek. Subjek adalah pendaki itu sendiri, yang harus mengetahui dengan benar bagaimana teknik pendakian, bagaimana membawa beban dan teknik lainnya. Sementara faktor objek terkait dengan perubahan cuaca di gunung.

    “Oleh sebab itu, keberadaan Tim EAST di sini adalah untuk membantu para peserta dalam mempelajari teknik pendakian agar tidak terjadi sesuatu yang tak diharapkan,” tegas Bongkeng.

    Memang, kata dia, sejak tahun 1970-an sudah terjadi kecelakaan di gunung. Namun tidak semasif sekarang ini. Saat ini, di seluruh Indonesia ada ribuan orang yang mendaki gunung tiap hari. Hal ini yang juga turut menyumbang korban kecelakaan.

    "Zaman saya naik gunung dulu, saya jarang ketemu orang. Kalaupun ada paling satu dua orang. Mengingat dulu saya sering bersepi-sepi ria, makanya saya ingin mengembangkan kegiatan ini agar digemari banyak orang," tutur kakek kelahiran 1951 itu.

    Hingga kini Kang Bongkeng masih aktif sebagai penggiat alam terbuka. Pengalamannya dimulai pada 1973, saat ini menjadi anggota Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri. Ia kemudian sempat mengikuti ekspedisi pendakian puncak tertinggi di 5 negara Eropa Barat.

    Sejak 1999 hingga sekarang, ia menjabat sebagai Ketua Korps Pelatih Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) dan Kepala Sekolah Mountain and Jungle Course (MJC) EAST.

    Teknik pendakian
    Teknik pendakian lebih banyak disampaikan oleh Iwan Irawan aka Kwecheng. Pendaki gunung kelahiran 1972 ini adalah salah satu Seven Summiter Indonesia; pendaki yang berhasil mencapai tujuh puncak gunung tertinggi di dunia.

    Kwecheng mengawali pengalaman di dunia petualangan dengan mengikuti Pendidikan Dasar Wanadari dan Sekolah Search and Rescue (SAR) Wanadri. Pria asal Bandung ini juga aktif sebagai pemanjat tebing.

    Pada 2004, ia mengikuti Ekspedisi Carstensz Pyramid, Pegunungan Jayawijaya, Papua serta aktivitas lainnya. Pada 2012, Kwecheng menyelesaikan pendakian tujuh puncak tertinggi; Puncak Everest.

    Kepada peserta WAC 2017, Kwecheng menyampaikan soal evaluasi pendakian yang dilakukan peserta. Dalam pengamatannya, masih banyak peserta yang belum memahami dengan benar teknik menggunakan ransel dan kelengkapan pendakian. "Ada juga beberapa peserta yang menggunakan sandal," ujarnya.

    Pada dasarnya, kata Kwecheng, konsep menggunakan ransel (carrier) harus disesuaikan dengan kebutuhan. Berdasarkan daya dukung beban supaya aman di tubuh pendaki.

    "Jika kalian tidak benar dalam packing (membagi beban), maka itu akan merusak punggung kalian," katanya. "Itu juga pernah saya alami. Bahkan di antara kami ini (Tim EAST) mungkin tidak ada lagi yang normal punggungnya."

    Berdasarkan riset Tim EAST dan tim dokter yang dilibatkan dalam program ini, ditemukan bahwa yang utama itu adalah tulang punggung. Tulung punggung ibarat sasis yang menopang tubuh manusia. Jika sasisnya tidak benar, maka semuanya akan rusak.

    Menurut Kwecheng, ada dua hal yang perlu diperhatikan saat mendaki gunung, yakni ransel dan kaki. Sebagus apapun ransel yang digunakan, jika tidak dikenali dengan baik, akan mengakibatkan cidera pada penggunanya.

    Namun jika dikenali dengan baik dan memahami betul teknik packing, maka pendaki akan mampu membawa beban tanpa merasa terbebani. "Ransel sudah seperti teman saja di belakang. Sudah enak. Tapi ketika tidak benar, maka akan berpengaruh ke fisik, semangat dan mental pendaki," kata dia.

    Kedua, sepatu. Ini penting sekali. Walau memakai sandal terasa ringan, namun ketika beban punggung tidak sesuai, tetap saja akan melelahkan. Yang penting, tegas Kwecheng, adalah keamanan terlebih dahulu. Kaki adalah modal awal pendaki. Ia harus dilindungi sebaik mungkin.

    "Jika kaki kita lecet atau keseleo, tamat semua perjalanan kita. Apalagi jika berbicara tentang perjalanan yang jauh atau ekspedisi ke luar negeri. Ransel dan sepatu adalah modal utama," ujarnya.

    "Jangan menganggap enteng besar kecilnya perjalanan, tapi mari kita pelajari betul peralatan yang kita pakai dan pelajar diri kita sendiri," pesannya.

    Ia menyarankan para pendaki agar menggunakan sepatu dengan ukuran di atas mata kaki. Hal ini untuk menjaga tumit.

    Menggunakan sepatu tak harus mengikuti tren, tapi yang penting adalah kenyamanan dan keselamatan kaki. Sepatu yang dipakai juga jangan terlalu pas dengan ukuran kaki. Harus ada ruang sekitar satu sentimeter untuk sirkulasi udara.

    Selain itu, menurut Kwecheng, kemampuan fisik juga penting dalam tiap pendakian. Pendaki harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum mendaki. Baik fisik, pengetahuan, maupun peralatan. Sebab, pendaki tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi di lapangan (gunung).

    Kwecheng menjelaskan, teknik mendaki yang baik adalah satu langkah satu napas. Ritme langkah dan napas harus selaras agar pendaki tak mudah capai atau ngos-ngosan.

    “Tadi saya lihat banyak yang jalan terburu-buru. Padahal itu tidak bagus karena akan memforsir kerja paru-paru,” ujarnya.

    Pendaki tidak dianjurkan melampiaskan ego dengan berjalan cepat agar segera sampai di puncak. Ia harus melihat kondisi di lapangan. Tiap pendaki takkan pernah tahu rintangan apa yang ada di depan.

    “Bisa saja kita keseleo atau kesandung batu. Makanya jalan itu pelan-pelan saja. Satu tarikan napas, sama dengan satu langkah. Tapi bagi yang sudah terlatih, satu napas bisa dua atau tiga langkah,” kata Kwecheng.

    Selanjutnya, sambung dia, tenaga yang dikerahkan untuk mendaki adalah sebesar 30 persen. Sebanyak 30 persen untuk turun, dan 40 persen sebagai cadangan. “Cuaca hujan yang tadi kita alami sangat menguras energi. Jadi 40 persen tenaga itu buat cadangan,” pungkasnya.

    Berat beban
    Usai pemaparan Kwecheng, tiba-tiba Mamay meminta sedikit waktu untuk memberikan tambahan informasi bagi peserta. Ia mengatakan, akhir-akhir ini sering terjadi kecelakaan di gunung karena pendaki tidak berbekal pengetahuan teknik bertahan hidup di alam terbuka.

    “Karenanya di EAST ini kami bermaksud membagi pengetahuan dan pengalaman tentang teknik-teknik tersebut. Hal ini untuk meminimalkan risiko kecelakaan,” ujarnya.

    Ia juga memberikan gambaran kepada peserta terkait berat maksimal beban yang harus dibawa saat mendaki. “Berat maksimal carrier (ransel) itu adalah sepertiga berat tubuh. Misalnya, jika berat badan saya 45 kilogram, maka beban maksimal yang harus saya bawa adalah 15 kilogram. Ini untuk memudahkan mobilisasi badan saat bergerak,” bebernya.

    Memang, sambung Mamay, setiap orang mampu membawa beban melebihi sepertiga berat badannya. Namun, dapat dipastikan mobilisasinya bakal terbatas.

    Ia juga kembali mewanti-wanti peserta agar berhati-hati dengan tulang punggung. Sebab, kata Mamay, dirinya telah menjadi korban salah membawa beban. Ia mulai menderita sakit pada punggung sejak 2012, usai mendaki hingga base camp Pegunungan Himalaya.

    “Tulung punggung saya sudah rapat hingga menjepit syaraf. Lebih dari dua tahun saya menderita sakit (scapula) yang tak tertahankan. Tidur tengkurap tak bisa, tidur terlentang tak bisa. Semua serba sakit,” tuturnya.

    Mamay baru sembuh pada 2016 lalu, dan bisa kembali mendaki gunung. Karenanya, ia mewanti-wanti peserta agar menjaga berat beban maksimal saat mendaki gunung. “Jangan melebihi sepertiga berat tubuh. Kurang dari sepertiga malah lebih bagus,” pesannya.

    Kemudian, menambahkan penjelasan Kwecheng, Mamay juga berpesan agar pendaki menjaga ritme langkah kaki saat mendaki. Kecepatan harus konstan. Tak perlu terburu-buru.

    “Ini saya pelajari dari para porter di Himalaya (sherpa). Jika kau berjalan terburu-buru kata para sherpa, maka metabolisme tubuh kamu tidak bagus. Ini yang membuatmu mudah kelelahan.”

    Kang Galih selaku pemandu acara turut berpesan, seraya menyimpulkan apa yang telah disampaikan oleh para pemateri.

    "Intinya, jangan berjalan cepat-cepat di ketinggian. Kalau mau jalan cepat, jalanlah sendirian. Tapi kalau mau berjalan jauh, mari bergandengan tangan bersama-bersama," ujarnya.

    Peserta WAC nampak puas dengan penjelasan para pembicara. Acara selanjutnya diisi dengan sesi tanya jawab yang dijawab dengan antusias oleh pemateri. Sesi pertama WAC ini pun berakhir menjelang pukul 00.00 WIB.

    Walau demikian, tak nampak tanda-tanda keletihan di wajah mereka. Peserta mengaku puas dengan materi yang disampaikan Tim EAST. Ketika acara berakhir, mereka pun bergegas memasuki tenda masing-masing.

     

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini