Digilife

250 Jenis Ransomware Hantui Perusahaan di Dunia

  • 30 September 2021
  • Bagikan :

     

    Uzone.id - Tidak dipungkiri lagi jika semua perusahaan di dunia ini tidak memiliki kekebalan dari ancaman ransomware. Sekali kena, perusahaan bisa rugi ratusan juta sampai miliaran. Bahkan menurut riset ada sekira 250 jenis ransomware yang berkeliaran di dunia maya.

    Angka ini terungkap dari riset yang dilakukan oleh Bitdefender. Dilansir melalui TechRadar, para periset di Bitdefender menemukan lebih dari 250 jenis keluarga ransomware. Beberaoa di antaranya memiliki tingkat ancaman yang lebih besar ketimbang yang lain.

    Pada bulan Agustus, dalam laporan Bitdefender itu, analis menemukan sekitar 19,8 juta malware terdeteksi berkeliaran dan menghantui perusahaan di dunia.

    Baca juga: Samsung Modifikasi Lagu Lawas Ice Ice Baby

    "Sebagai gambaran skalabilitasnya, operasional lab kami telah menemukan lebih dai 400 ancaman baru setiap menit yang memvalidasi 30 miliar ancaman setiap harinya," tulis Bitdefender dalam laporan tersebut.

    Laporan tersebut juga menemukan jika ditemukan tiga keluarga ransomware yang patut diwaspadai pada Agustus kemarin. Mereka adalah WannaCryptor, Stop/DJVU, dan Phobo. Semua nama itu terdeteksi pada sekitar 60 persen serangan.

    Bitdefender mengaku telah melacak ransomware di seluruh dunia pada Agustus 2021, tepatnya di 174 negara. Amerika muncul sebagai negara favorit ransomware dengan sekitar 30 persen dari total serangan yang ada. India berada di urutan kedua dengan 17 persen serangan dan Brasil sekitar 15 persen.

    Baca juga: Samsung Batal Luncurkan Galaxy S21 FE

    Yang mengerikan, lebih dari 40 persen ransomware menyasar industri tertentu. Bahkan lebih dari 51 persen dari total serangan ke industri tertentu ini menargetkan ransomware ke sektor layanan telekomunikasi.

    "Kebanyakan mereka mengambil jeda untuk melanjutkan serangan. Mereka kerap muncul kembali dengan kecanggihan yang baru dan menggunakan nama lain. Dalam kasus REvil, kami memprediksi akan banyak yang menjadi target serangan ke depannya," ujar periset Bitdefender.