AISMOLI Sebut Penjualan Motor Listrik Anjlok di 2026, Karena Insentif?
Penjualan motor listrik Indonesia anjlok pada 2026 akibat regulasi tidak jelas, subsidi tidak konsisten, infrastruktur terbatas, serta kendala pembiayaan.
.jpg&w=3840&q=75)
Highlight Artikel
- Penjualan motor listrik di Indonesia anjlok tajam pada 2026, hanya mencapai 18.900 unit hingga Agustus, setelah performa kuat di 2024 dan 2025.
- Ketidakjelasan regulasi dan inkonsistensi subsidi pemerintah menjadi penyebab utama penurunan minat beli konsumen.
- Kurangnya infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya dan bengkel resmi, serta kendala pembiayaan kredit, juga menghambat pertumbuhan industri.
- Aismoli optimis Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci di pasar motor listrik regional ASEAN jika ekosistem domestik diperkuat.
Uzone.id - Pasar sepeda motor listrik di tanah air tampaknya sedang tidak baik-baik saja sepanjang 2026. Angka penjualan hingga Agustus 2026 yang dirilis oleh Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menunjukkan penurunan tajam jika dibandingkan dengan performa dua tahun sebelumnya.
Budi Setiyadi selaku Ketua Umum Aismoli mengungkapkan bahwa kejelasan regulasi dari pemerintah masih menjadi alasan utama yang menghambat laju industri ini."Di tahun 2023 karena mungkin masih awal kita hanya bisa menjual sekitar angka hanya sekitar 15.000 unit. Namun di tahun 2024 kita bisa menjual sekitar 77.000 unit," ujar Budi, dalam RDPU Panja Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional yang disiarkan daring, Senin (21/9).
Menariknya, saat bantuan subsidi dari pemerintah dihentikan pada 2025, para produsen ternyata masih sanggup menjual sekitar 70.000 unit motor listrik ke pasaran.
"Namun di tahun 2026 sampai dengan bulan Agustus kami sekarang ini baru sekitar 18.900 unit. Jadi sangat turun sekali," katanya.
Simpang siurnya skema bantuan pemerintah disinyalir menjadi alasan utama mengapa konsumen menahan diri untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan ini.
Kucuran insentif pada era 2023–2024 terbukti sukses menggairahkan minat beli publik. Sayangnya, tanpa kepastian program lanjutan, calon pembeli memilih sikap wait and see demi menanti kejelasan insentif terbaru.
"Kebijakan pemerintah yang kadang ada kadang tidak ada ini cukup mengganggu dari industri karena memang masyarakat juga banyak yang menunggu kapan untuk subsidi akan diberikan," ujar Budi.
Masalah yang dihadapi para pelaku usaha motor listrik ternyata tidak berhenti di urusan insentif semata, melainkan juga menyangkut kesiapan infrastruktur pendukung.
Keterbatasan stasiun pengisian daya (charging station) serta minimnya bengkel resmi untuk perbaikan masih menjadi keraguan terbesar masyarakat sebelum memutuskan membeli motor listrik.
Di sisi lain, persoalan kredit dan pendanaan juga menjadi tantangan tersendiri. Budi membeberkan bahwa pihak asosiasi telah aktif berkomunikasi dengan pemerintah serta jajaran bank Himbara untuk mempermudah akses pembiayaan.
Tantangan lainnya datang dari sektor pembiayaan. Budi mengatakan, industri telah beberapa kali berdiskusi dengan pemerintah dan perbankan, termasuk bank-bank Himbara, untuk mendorong pembiayaan sepeda motor listrik.
Kendati perbankan secara prinsip menyambut hangat percepatan ekosistem kendaraan listrik, proses pencairan kredit di tingkat konsumen masih kerap menjumpai kendala teknis.
Secara prinsip, menurut dia, lembaga pembiayaan menyatakan kesiapan untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik. Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala.
"Kalau diajak untuk mendukung sepeda motor listrik dalam rangka pendanaan siap. Namun dalam implementasi sampai dengan sekarang kita juga masih mengalami hambatan," ujarnya.
Terlepas dari berbagai hambatan lokal, Aismoli optimis Indonesia punya modal kuat untuk tampil sebagai pemain utama di pasar motor listrik regional ASEAN, bukan sekadar menjadi pasar domestik.
Peran strategis Indonesia di tingkat asosiasi kawasan ASEAN menjadi alasan kuat mengapa penguatan ekosistem dalam negeri sangat krusial agar produk lokal mampu menembus pasar ekspor.
Karena itu, industri berharap pengembangan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri dapat diperkuat agar Indonesia juga mampu meningkatkan ekspor sepeda motor listrik ke negara lain.
FAQ Artikel
Mengapa penjualan motor listrik di Indonesia menurun tajam pada tahun 2026?
Penjualan motor listrik anjlok karena ketidakjelasan regulasi pemerintah, inkonsistensi pemberian subsidi, kurangnya infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya dan bengkel, serta kendala dalam proses pencairan kredit konsumen.
Bagaimana tren penjualan motor listrik di Indonesia sebelum tahun 2026?
Penjualan mencapai sekitar 15.000 unit pada 2023, lalu melonjak menjadi 77.000 unit pada 2024 dengan subsidi. Bahkan pada 2025, tanpa subsidi, penjualan masih mencapai 70.000 unit.
Apa saja hambatan selain subsidi yang dihadapi industri motor listrik?
Selain subsidi, hambatan meliputi keterbatasan stasiun pengisian daya, minimnya bengkel resmi untuk perbaikan, dan kendala teknis dalam proses pencairan kredit meskipun perbankan menyatakan dukungan.
Apa optimisme Aismoli terkait masa depan industri motor listrik Indonesia?
Aismoli optimis Indonesia dapat menjadi pemain utama di pasar motor listrik regional ASEAN, bukan hanya pasar domestik, jika ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri diperkuat untuk mendukung ekspor.
Brian Priambudi
Jurnalis


