Marak Tren Edit Foto Pakai AI, Warganet Perlu Tahu Batasan Ini

pada 8 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Tren edit fotomenggunakan kecerdasan buatan (AI) sedang ramai di media sosial. Mulai darifoto ala-ala miniatur, foto bareng idola, foto ala polaroid, animasi, fotobersama keluarga tercinta hingga terbaru foto menggunakan jas hitam di lift.

Di satu sisi, tren ini menjadi bukti kemajuan teknologi yangmemberikan pengalaman baru bagi pengguna, apalagi akses dan cara yang instanmembuat ini menjadi tren yang cepat menyebar luas.

“Teknologi yang sebelumnya hanya tersedia bagi kalangancreator profesional kini bisa dinikmati masyarakat umum dengan sekali unggahfoto,” kata Pratama Persadha, pengamat siber dari CISSReC.

Tapi, di balik euforia ini. Muncul pro dan kontra dikalangan masyarakat. Ada yang mendukung dan menggunakan AI ini untukseru-seruan, ada juga yang merasa was-was karena aspek privasi dan juga etika.




Salah satu yang paling nyaring bersuara adalah kelompok yangkhawatir foto pribadi yang diunggah ke platform AI menjadi celah penyalahgunaandata, baik oleh pengembang aplikasi maupun oleh pihak ketiga yang tidakbertanggung jawab.

“Kekhawatiran lain juga muncul terkait potensipencampuradukan batas antara realitas dan manipulasi digital. Misalnya, hasiledit AI yang sangat realistis bisa digunakan dalam konteks menyesatkan ataubahkan membentuk narasi palsu,” tambah Pratama.

Contoh nyatanya adalah para pemain Timnas Bola Indonesiayang speak up dan geram karena foto-foto mereka diedit secara tidak wajar dancondong ke tindakan pelecehan. 

Oleh karena itu, Pratama menjelaskan harus adabatasan-batasan dalam penggunaan fitur edit AI. Baik itu untuk keamanan datamereka maupun dalam hal kode etik.

“Secara etis, pengguna sebaiknya menyadari bahwa apa yangmereka unggah bisa menjadi jejak digital permanen. Jangan mengunggah foto yangterlalu sensitif, termasuk yang menampilkan dokumen resmi, anak di bawah umur,atau pose yang rentan disalahgunakan,” tambahnya.




Saat mengunggah foto pribadi atau foto wajah ke platformchatbot AI, ada resiko nyata yang akan dihadapi.

“Foto wajah adalah bentuk data biometrik yang unik, dan jikajatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab, data ini bisa digunakanuntuk berbagai bentuk kejahatan siber,” ujar Pratama.

Kejahatan yang ramai muncul adalah pembuatan deepfake yangmerusak reputasi, pemalsuan identitas untuk aktivitas kriminal, hinggapengumpulan data biometrik massal untuk dijual di pasar gelap digital. 

“Risiko lain datang dari kebijakan privasi aplikasi yangseringkali samar, di mana foto yang diunggah bisa disimpan untuk melatih modelAI lebih lanjut tanpa persetujuan jelas dari pengguna. Selain itu, ada pulaancaman teknis berupa aplikasi yang menyisipkan malware atau meminta izinberlebihan seperti akses kamera, lokasi, dan kontak, yang semuanya berpotensimengancam keamanan digital pengguna,” tuturnya.

Oleh karena itu, masyarakat harus paham bahwa keberadaan AIini cukup untuk kepentingan hiburan dan kreativitas saja dan bukan untukmenciptakan konten yang menyesatkan atau merugikan pihak lain. 

“Regulasi pun masih beradaptasi menghadapi perkembanganteknologi ini, sehingga batasan moral dan kesadaran pribadi menjadi pertahananpertama,” jelas Pratama.

Melihat tren AI yang semakin  masif ini, Pratamamenjelaskan bahwa tren edit foto AI adalah cermin dari dua sisi matauang. 

Satu sisi, Ia menawarkan kesenangan dan peluang kreatif yangluas, tapi sisi lain membawa ancaman privasi dan keamanan yang tidak bisadianggap remeh. 

Ia menuturkan, “Kuncinya ada pada literasi digital dankewaspadaan pengguna. Jika diperlakukan sebagai sarana hiburan dengan tetapmenjaga batasan penggunaan yang aman, AI dapat menjadi bagian menyenangkan dariinteraksi digital kita.”