AWS Bawa Kiro ke iOS, Coding Bisa Dilanjutkan dari iPhone
AWS Kiro, IDE berbasis AI, kini hadir di iOS, memudahkan developer untuk ngoding mobile. CIMB Niaga menggunakan Kiro untuk modernisasi Octo Mobile.

Demo AWS Kiro (Foto: Uzone.id)
Highlight Artikel
- Kiro, IDE berbasis AI dari AWS, kini tersedia sebagai aplikasi native di iOS, memudahkan developer untuk memantau dan melanjutkan pekerjaan dari mana saja.
- Kiro menggunakan pendekatan spec-driven development, mengubah ide developer menjadi persyaratan terstruktur sebelum penulisan kode, hingga membuat pengujian otomatis.
- CIMB Niaga mengimplementasikan Kiro untuk modernisasi aplikasi Octo Mobile, berhasil menghasilkan sekitar 70% kode migrasi dari Java ke Go dan Rust.
- Penggunaan Kiro mempercepat proses pengembangan hingga dua kali lipat, menghasilkan kode yang lebih konsisten dan compliant, serta meredakan kekhawatiran developer menjadi pendukung pekerjaan mereka.
Uzone.id - Kabar baru buat para developer yang sudah menggunakan Kiro, karena Amazon Web Services (AWS) mengumumkan platform ini tersedia di iOS. Hal ini diumumkan oleh Vice President of Governance & Compliance AWS, Nandini Ramani, dalam keynote AWS Summit Jakarta 2026, Kamis (6/8).
Untuk diketahui, Kiro merupakan integrated development environment atau IDE berbasis AI dari AWS. Namun, fungsinya tak sekadar menerima perintah dan menghasilkan baris-baris kode.Kiro, dijelaskan Nandini, menggunakan pendekatan spec-driven development, di mana ide awal yang diberikan developer akan lebih dulu diubah menjadi persyaratan terstruktur sebelum masuk ke tahap penulisan kode.
“Kalian memberikan prompt kepada Kiro, kemudian Kiro mengubahnya menjadi requirement yang jelas, diagram terstruktur, implementation task, sampai membuat pengujian yang sudah divalidasi,” jelas Nandini di atas panggung.
Kehadiran aplikasi Kiro di iPhone pun kian memudahkan developer agar tak harus selalu berada di depan laptop untuk memantau pekerjaan yang sedang dijalankan oleh coding agent tersebut. Melalui aplikasi iOS, developer bisa memulai sesi baru, melanjutkan workflow yang sebelumnya dikerjakan di laptop, maupun memberikan tugas otonom langsung dari smartphone.
“Kiro sekarang tersedia sebagai aplikasi native di iOS. Kalian dapat memulai sesi, melanjutkan workflow yang sedang berjalan, atau memulai tugas otonom sepenuhnya dari ponsel,” kata Nandini.
Nandini menjelaskan, seluruh prosesnya tetap berjalan di dalam lingkungan AWS Cloud milik perusahaan. Jadi, ketika laptop ditutup, pekerjaan yang diberikan kepada Kiro tak ikut berhenti.
“Kalian bisa melanjutkan tepat dari posisi terakhir ketika menutup laptop dan pergi. Semua ini berjalan di dalam lingkungan AWS Cloud kalian,” tambahnya.
CIMB Niaga pakai Kiro untuk Octo Mobile
Di Indonesia, salah satu perusahaan yang sudah mengimplementasikan Kiro adalah CIMB Niaga. Kiro digunakan untuk membantu proses modernisasi aplikasi mobile banking Octo Mobile.
Operations, Technology, Analytics & AI Director PT Bank CIMB Niaga Tbk, Rico Usthavia Frans mengatakan, perusahaan sedang memigrasikan sistem Octo Mobile dari bahasa pemrograman Java menuju Go dan Rust.
Menariknya, sekitar 70 persen kode dalam proses migrasi tersebut dihasilkan menggunakan Kiro.
“Kami berpindah dari Java ke Go dan Rust. Sebanyak 70 persen kode kami dihasilkan oleh Kiro,” ujar Rico dalam kesempatan yang sama.
Menurut Rico, Kiro tidak hanya berperan sebagai code assistant yang membantu developer menulis kode. Platform tersebut digunakan sejak tahap perencanaan, penyusunan alur, proses pengembangan, sampai pengujian aplikasi.
“Hal yang menarik dari Kiro adalah, ini bukan hanya code assist. Kiro merupakan IDE dengan pendekatan spec-driven,” jelasnya.
Pada tahap awal, Kiro akan membaca codebase yang sudah ada, kemudian membantu tim menyusun tugas-tugas yang perlu dilakukan. Setelah itu, developer dapat menggunakannya untuk merancang alur aplikasi dan masuk ke proses pengembangan secara lebih terstruktur.
Kiro juga digunakan untuk membantu pembuatan unit testing dan integration testing. Menurutnya, CIMB Niaga bersama AWS masih mengembangkan penerapannya agar platform tersebut dapat membantu proses pengujian yang lebih menyeluruh.
Modernisasi aplikasi ini, menurut Rico, bukan pekerjaan yang sederhana. Sebab, Octo Mobile sudah dikembangkan selama bertahun-tahun dengan sistem legacy yang kompleks.
Rico menyebut kalau Octo Mobile memiliki sekitar 2.000 API untuk menjalankan kurang lebih 200 layanan. Kendalanya, dokumentasi dari sistem lama tersebut belum seluruhnya lengkap dan tersusun secara terstruktur.
Belum lagi, mobile banking merupakan salah satu layanan utama bagi bank. Gangguan selama beberapa menit saja bisa langsung dirasakan oleh nasabah dan menarik perhatian regulator.
“Kalau Octo mati selama lima sampai 10 menit, bukan hanya nasabah yang komplain di Instagram dan sebagainya, regulator juga akan menelepon,” ungkap Rico.
CIMB Niaga juga menghadapi tantangan dari sisi talenta. Tak banyak developer yang memahami sistem legacy sekaligus mampu melakukan modernisasi menuju bahasa pemrograman dan arsitektur baru.
Dengan Kiro, Rico mengklaim kalau sebagian pekerjaan dalam membaca sistem lama, menyusun dokumentasi, membagi tugas, sampai menghasilkan kode dapat dilakukan lebih cepat.
“Dari sisi development, prosesnya dua kali lebih cepat. Yang paling penting, hasilnya lebih konsisten, kodenya lebih compliant, dan auto-documentation juga berjalan dengan baik,” kata Rico.
Meski begitu, penggunaan Kiro bukan berarti seluruh proses pengembangan langsung diserahkan kepada AI. Tim developer tetap harus memahami alur aplikasi dan memeriksa kode yang dihasilkan.
“Kiro sangat proaktif. Kadang pembukaan rekening untuk nasabah baru dan nasabah yang sudah ada dibuat menjadi satu. Kami membutuhkan senior reviewer yang memahami bahwa proses itu tidak boleh disatukan,” jelasnya.
Menariknya, dijelaskan Rico, kehadiran Kiro sempat memunculkan kekhawatiran di internal CIMB Niaga. Sejumlah developer takut kalau pekerjaan mereka perlahan akan digantikan oleh AI.
Namun setelah digunakan dalam proses pengembangan, pandangan tersebut mulai berubah. Developer justru melihat Kiro sebagai alat bantu yang bisa mempercepat pekerjaan, bukan sebagai pengganti manusia.
“Sebelum menggunakan Kiro, developer kami takut apakah mereka akan digantikan oleh AI. Namun dengan Kiro, mereka menjadi lebih percaya diri dan melihatnya sebagai pendukung, bukan pengganti,” tutur Rico.
Peran developer pun tetap penting selama pengembangan aplikasi, terutama untuk memahami konteks bisnis, merancang arsitektur, memeriksa alur aplikasi, sampai memastikan kode yang dihasilkan sesuai dengan standar keamanan dan kepatuhan di industri perbankan.
FAQ Artikel
Apa itu Kiro?
Kiro adalah integrated development environment (IDE) berbasis AI dari Amazon Web Services (AWS) yang menggunakan pendekatan spec-driven development untuk mengubah ide developer menjadi persyaratan terstruktur hingga penulisan kode dan pengujian.
Kapan Kiro tersedia di iOS dan apa fungsinya?
Kiro diumumkan tersedia di iOS pada AWS Summit Jakarta 2026. Fungsinya memungkinkan developer memulai sesi, melanjutkan workflow, atau memberikan tugas otonom langsung dari iPhone, dengan seluruh proses tetap berjalan di AWS Cloud.
Perusahaan mana di Indonesia yang sudah mengimplementasikan Kiro?
CIMB Niaga adalah salah satu perusahaan di Indonesia yang mengimplementasikan Kiro untuk membantu proses modernisasi aplikasi mobile banking Octo Mobile dari Java ke Go dan Rust.
Seberapa besar kontribusi Kiro dalam modernisasi Octo Mobile?
Kiro menghasilkan sekitar 70 persen kode dalam proses migrasi aplikasi Octo Mobile, serta membantu dari tahap perencanaan, penyusunan alur, pengembangan, hingga pengujian.
Apakah Kiro berpotensi menggantikan peran developer manusia?
Awalnya ada kekhawatiran di internal CIMB Niaga, namun setelah digunakan, developer justru melihat Kiro sebagai alat bantu yang mempercepat pekerjaan dan bukan sebagai pengganti manusia. Peran developer tetap penting untuk memahami konteks bisnis, merancang arsitektur, dan memastikan kepatuhan kode.

