Data Center AI di Jatiluhur Bikin Khawatir, Air dan Listrik Jadi Sorotan
Data Center AI Campus 2 di Jatiluhur menuai pro kontra karena kekhawatiran membebani air waduk dan menaikkan tarif listrik akibat energi masif.

Sumber Foto: Data Center Magazine
Highlight Artikel
- Pembangunan Data Center AI Campus 2 (CGK4) berkapasitas 640 MW di Jatiluhur, Purwakarta, menarik perhatian publik.
- Dikembangkan oleh BDx Data Centers (Singapura), proyek ini berpotensi menjadikan Indonesia hub teknologi AI di Asia Tenggara.
- Terdapat pro dan kontra terkait proyek ini, terutama mengenai potensi penggunaan air Waduk Jatiluhur dan kebutuhan listrik yang sangat tinggi.
- Pengembang mengklaim penggunaan teknologi pendingin cair hemat air, sementara pemerintah menjamin pasokan listrik dan harga yang kompetitif.
Uzone.id — Pembangunan Data
Center AI di wilayah Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat menjadi sorotan warga
Indonesia saat ini. Kawasan pusat data berbasis AI tersebut diberi nama AI
Campus 2 (CGK4) dengan kapasitas daya hingga 640 MW.
Melansir dari berbagai sumber, data center berbasis AI
tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI berdensitas tinggi.
Data center ini juga menyediakan kapasitas pemrosesan data berkinerja tinggi
menggunakan klaster GPU canggih NVIDIA DGX-Ready.
Tak hanya itu, kehadiran data center ini juga menjadikan
Purwakarta sebagai wilayah strategis untuk investasi nasional, sekaligus
memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat (hub) data center dan teknologi AI
utama di kawasan Asia Tenggara.
Detail Investasi Investasi Data Center AI di Jatiluhur
Data center AI yang dikembangkan oleh BDx Data Centers (BDx)
sudah resmi dimulai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada
22 September 2026 oleh Gubernur Jawa Barat, Bupati Purwakarta dan CEO BDx
Indonesia.
Lokasinya hanya sekitar 5 km saja dari Waduk Jatiluhur dan
kemungkinan akan menggunakan aliran air dari wilayah ini untuk keperluan
operasional data center.
Data center ini memiliki kapasitas 640 MW dengan nilai investasi mencapai Rp3,5 triliun dengan mendapat pasokan listrik jaringan sebesar 845 MVA dari PT PLN (Persero).
Gedung ini akan memiliki kapasitas teknologi informasi (IT) hingga 120 MW dengan fase pertama Gedung 1 ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Di fase pertama ini, pasokan listrik yang disediakan oleh PLN yaitu 788 MVA.
Namun, kehadiran data center AI di Purwakarta ini
menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Beberapa menyebut bahwa
kehadiran data center ini bisa memberikan dampak yang merugikan bagi
masyarakat.
Dibalik proyek besar yang sudah direstui oleh pemerintah
setempat, beberapa hal berikut ini menjadi yang dipermasalahkan oleh
masyarakat.
Kekhawatiran Terhadap Konsumsi Air Waduk Jatiluhur
Pertama, lokasi data center AI yang dibangun dekat dengan
Waduk Jatiluhur yang hanya berjarak 5 km saja. Kehadiran pusat data di dekat
Waduk Jatiluhur ini dikhawatirkan akan menaikkan kebutuhan data center akan
sumber air dari waduk yang memiliki kapasitas tampung total mencapai 2,44
miliar meter kubik air dalam kondisi normal.
Pasalnya, saat ini data center menjadi perhatian global
karena kebutuhan air bersih yang sangat tinggi untuk sistem pendinginan.
Sebuah laporan terbaru dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) mengungkap kalau konsumsi air yang dibutuhkan untuk mendukung operasional AI bisa setara dengan kebutuhan dasar 1,3 miliar orang pada tahun 2030 nanti.
Jejak air (water footprint) dari pusat data AI juga
diproyeksikan setara dengan kebutuhan air domestik dasar seluruh penduduk
Afrika Sub Sahara selama satu tahun.
Kembali lagi ke persoalan data center di Jatiluhur,
kehadiran data center tersebut dikhawatirkan akan menekan kebutuhan air bersih
untuk operasional sehari-hari. Saat ini, Waduk Jatiluhur sendiri memasok
sekitar 80–82 persen kebutuhan air baku DKI Jakarta.
Dari total populasi Jakarta, pasokan air dari Jatiluhur
diperkirakan menopang kebutuhan air bersih hingga 6 hingga 10 juta jiwa di
kawasan Jakarta dan sekitarnya (termasuk sebagian wilayah Jawa Barat).
Menjawab kekhawatiran tersebut, pihak pengembang menyebut
bahwa data center AI yang sedang dibangun tersebut menggunakan teknologi
pendingin cair khusus yang disebut sistem lingkaran tertutup (closed-loop
system) melalui metode direct-to-chip liquid cooling.
Meski begitu, data center AI tetap membutuhkan pendinginan
berkapasitas tinggi, sehingga ketersediaan air yang melimpah tetap dibutuhkan
untuk mendukung sistem pendingin yang efisien dan juga ramah lingkungan.
Kebutuhan Listrik Sangat Tinggi dan Dampaknya
Selain air,
kebutuhan listrik yang sangat tinggi juga menjadi sorotan. Data center AI ini
sudah mendapatkan jatah pasokan listrik jaringan sebesar 845 MVA dari PT PLN
(Persero).
Jumlah listrik tersebut setara dengan kebutuhan listrik di
650.000 rumah tangga secara bersamaan yang menggunakan daya 1.300 VA. Jumlah
tersebut juga setara dengan pasokan kebutuhan listrik satu kota kecil hingga
sedang.
Pasokan listrik yang disediakan oleh PLN juga melebihi
Kapasitas PLTA Jatiluhur yang memiliki kapasitas sebesar 187 MW saja. Artinya,
kebutuhan dari data center ini mencapai 4 kali lipat dari daya PLTA Jatiluhur.
Kebutuhan listrik yang tinggi untuk data center ini juga
menimbulkan isu lainnya dimana penggunaan pasokan listrik yang besar untuk data
center akan menimbulkan potensi kenaikan harga atau tagihan listrik di suatu
daerah.
Melansir dari Harvard Law School, data center AI merupakan
sebuah entitas yang sangat boros energi dan membutuhkan data komputasi yang
sangat besar. Terlepas dari manfaat yang dihadirkan termasuk lowongan kerja
tinggi, pendapatan pajak dan teknologi AI yang semakin maju, ‘harga’ yang harus
dibayar dari pembangunan data center ini adalah kenaikan harga listrik yang
tidak bisa dihindari.
Meski tidak terasa secara langsung, data yang dikumpulkan
oleh CNBC Internasional di Amerika Serikat mengungkap bawa harga listrik untuk
rumah tangga mulai mengalami kenaikan hingga 7,4 persen.
Melihat kenaikan harga listrik yang kemungkinan terus
terjadi, pemerintah AS mulai turun tangan dengan meminta operator jaringan
listrik mengadakan lelang kapasitas darurat guna meredam lonjakan tarif akibat
kekurangan pasokan energi tersebut.
Meski saat ini pasokan energi di Indonesia masih tetap
terjaga, namun pembangunan data center yang semakin melonjak di Asia Tenggara
berpotensi membuat pasokan listrik mulai tertekan.
"Permintaan listrik di Asia Tenggara terus meningkat, didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan industri, serta perkembangan pesat di sektor seperti data center dan infrastruktur digital." Simon Hoare, Portfolio Director Enlit Asia
Respons Pemerintah Terkait Pasokan Energi
Sementara itu, di tengah tekanan pasokan listrik yang akan
muncul karena operasional data center, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia
menegaskan bahwa saat ini Indonesia memiliki potensi energi yang beragam untuk
mendukung kebutuhan listrik data center.
Ia menjelaskan bahwa harga listrik di Indonesia akan lebih
kompetitif dibanding negara lain sehingga Indonesia menjadi negara yang patut
dipertimbangkan untuk membangun data center.
"Bapak-Ibu semua tidak perlu ragu. Para investor kalau
mau data center di Indonesia, wilayah kami ini wilayah terbesar di kawasan Asia
Tenggara," kata Bahlil.
FAQ Artikel
Apa nama dan lokasi Data Center AI yang sedang dibangun?
Data Center AI yang sedang dibangun bernama AI Campus 2 (CGK4) dan berlokasi di wilayah Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Siapa pengembang Data Center AI ini?
Data Center AI ini dikembangkan oleh BDx Data Centers, sebuah perusahaan yang berasal dari Singapura.
Berapa kapasitas daya dan nilai investasi Data Center AI ini?
Data center ini memiliki kapasitas daya hingga 640 MW dengan nilai investasi mencapai Rp3,5 triliun.
Apa saja kekhawatiran utama masyarakat terkait pembangunan ini?
Kekhawatiran utama masyarakat meliputi potensi peningkatan konsumsi air dari Waduk Jatiluhur untuk pendinginan dan kebutuhan listrik yang sangat tinggi yang dikhawatirkan dapat memengaruhi harga listrik umum.
Bagaimana pihak pengembang merespons kekhawatiran konsumsi air?
Pihak pengembang menyatakan bahwa mereka menggunakan teknologi pendingin cair khusus yang disebut sistem lingkaran tertutup (closed-loop system) melalui metode direct-to-chip liquid cooling, yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan.
Apakah kebutuhan listrik data center ini akan memengaruhi harga listrik masyarakat?
Meskipun pasokan energi di Indonesia saat ini masih terjaga, penggunaan pasokan listrik yang sangat besar untuk data center berpotensi menimbulkan kenaikan harga atau tagihan listrik di suatu daerah, seperti yang terjadi di Amerika Serikat.
Vina Insyani
Jurnalis

