Data Center di RI Butuh Tambahan Listrik 20 GW, Setara 44,4 Juta Rumah
Guna pusat data dan AI, Indonesia perlu 20 GW listrik tambahan, memerlukan koordinasi kuat antar kementerian serta regulasi pendorong investasi lokal.
.jpg&w=3840&q=75)
Highlight Artikel
- Pengembangan pusat data dan infrastruktur AI di Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan listrik hingga 20 gigawatt (GW).
- Kebutuhan energi 20 GW setara dengan 20 persen pasokan listrik seluruh masyarakat Indonesia atau kebutuhan listrik 44,4 juta rumah 450 VA.
- Pemerintah melalui Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi serta Kemkomdigi akan memperkuat koordinasi untuk memetakan lokasi pembangunan pusat data dan AI Factory agar pasokan energi tersedia.
- Pemerintah berencana menyiapkan regulasi yang mendorong kolaborasi antara investor asing dan pengusaha lokal demi manfaat ekonomi yang bersinergi.
Uzone.id — Pengembangan pusat data (data
center) dan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)
di Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan listrik hingga 20
gigawatt (GW) atau setara 20.000 megawatt (MW).
Ia
mengatakan kalau besarnya kebutuhan energi tersebut menuntut adanya perencanaan
yang terkoordinasi agar pengembangan infrastruktur digital seperti data center
ini bisa berjalan seiring dengan kesiapan pasokan energi nasional.
Besarnya
kebutuhan listrik ini pun kemudian menjadi perhatian pemerintah, terutama di
tengah meningkatnya pembangunan infrastruktur digital yang membutuhkan pasokan
energi dalam jumlah besar untuk mendukung operasionalnya.
Sebagai
informasi, tambahan pasokan listrik hingga 20 gigawatt (GW) atau setara 20.000
megawatt (MW) ini setara dengan kebutuhan 20 persen pasokan listrik seluruh
masyarakat Indonesia.
Atau, jika dibandingkan dengan kebutuhan rumah masyarakat, jumlah tersebut setara kebutuhan listrik di 44,4 juta rumah dengan kebutuhan listrik 450 VA, 22,2 juta rumah berkebutuhan listrik 900 VA, 15,3 juta rumah dengan daya 1.300 VA dan 9 juta rumah dengan daya 2.200 VA.
Melihat
pasokan energi yang sangat besar ini, Bahlil pun mengatakan kalau pemerintah
akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital
(Kemkomdigi), khususnya dalam memetakan lokasi pembangunan pusat data di
Indonesia.
“Saya akan
minta data lokasi dari teman-teman yang akan membangun data center,
supaya supply energinya itu bisa langsung disediakan,” tambah Bahlil.
Melalui
pemetaan tersebut, pemerintah ingin memastikan pembangunan pusat data berjalan
beriringan dengan kesiapan pasokan listrik di setiap wilayah.
Pasalnya,
pusat data merupakan fasilitas yang membutuhkan energi besar untuk
mengoperasikan berbagai perangkat komputasi, termasuk server yang digunakan
untuk memproses dan menyimpan data.
Kebutuhan
energi juga menjadi semakin penting seiring dengan pengembangan AI Factory,
yakni infrastruktur komputasi yang digunakan untuk mendukung pengembangan dan
pengoperasian teknologi AI.
Dalam
kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menyebut
kalau embangunan pusat data dan AI Factory tidak bisa lagi dilakukan
secara terpisah dari perencanaan sektor energi.
Pengembangan
ini sudah saatnya melibatkan koordinasi lintas sektor agar kebutuhan teknologi
digital dapat diselaraskan dengan ketersediaan energi nasional.
“Hal-hal
terkait dengan pembangunan AI Factory, termasuk data center AI
Factory, itu harus dilakukan tidak lagi secara terpisah sektor per sektor,
tapi dalam sebuah koordinasi yang kuat,” kata Meutya.
Meutya
menjelaskan, koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan
Transisi Energi menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan
keberlanjutan pengembangan AI di Indonesia.
“Koordinasi yang kuat dengan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi menjadi penting karena di dalamnya ada ekosistem energi yang berkaitan dengan keberlangsungan pengembangan artificial intelligence,” jelasnya.
Selain
persoalan listrik, pemerintah juga menyoroti manfaat ekonomi dari investasi
pusat data yang terus berkembang di Indonesia. Pemerintah juga berencana untuk
menyiapkan regulasi yang dapat mendorong kolaborasi antara investor asing dan
pengusaha lokal di wilayah tempat investasi dilakukan.
“Kita akan
membuat satu regulasi yang win-win. Kita silakan mereka masuk, tapi juga
hargai, dan bagaimana berkolaborasi dengan pengusaha nasional, pengusaha daerah
di mana investasi itu akan dilakukan,” tegas Bahlil.
Ia
menambahkan bahwa investasi berkualitas seharusnya tidak hanya berorientasi
pada besarnya nilai uang, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi
masyarakat.
“Investasi
yang berkualitas adalah investasi yang bersinergi. Bukan hanya persoalan nilai
uang,” pungkasnya.
FAQ Artikel
Berapa perkiraan tambahan pasokan listrik yang dibutuhkan untuk pengembangan pusat data dan AI di Indonesia?
Pengembangan pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan listrik hingga 20 gigawatt (GW) atau setara 20.000 megawatt (MW).
Siapa yang menyampaikan informasi mengenai kebutuhan listrik tersebut?
Angka kebutuhan listrik tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, saat acara Bali Tech Week 2026.
Mengapa koordinasi antar kementerian penting dalam pengembangan infrastruktur digital ini?
Koordinasi antara Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) sangat penting untuk memastikan pembangunan pusat data berjalan seiring dengan kesiapan pasokan listrik nasional dan ketersediaan ekosistem energi.
Selain pasokan listrik, apa rencana pemerintah terkait investasi pusat data?
Pemerintah juga berencana menyiapkan regulasi yang dapat mendorong kolaborasi antara investor asing dan pengusaha lokal di wilayah tempat investasi dilakukan, untuk memastikan investasi yang berkualitas dan bersinergi.
Vina Insyani
Jurnalis
.jpg%3Fdownload%3Dfalse%26amp%3Bresolution%3DHD&w=256&q=75)
